Jauh sebelum memegang tongkat estafet kepemimpinan sebagai Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, jalan hidup H. Musaffa Safril ditempa oleh kerasnya realitas jalanan dan deburan ombak lautan Madura. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat sederhana, di mana kemiskinan bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan sekolah kehidupan yang paling jujur.
Sebagai anak tertua yang tinggal bersama ibunya, Musaffa kecil telah memikul tanggung jawab besar. Di sela-sela waktu mengaji malam hari di Pesantren Nurul Falah, ia terbiasa membantu pekerjaan domestik. Ketangguhannya kian terbentuk saat ia harus turun tangan membantu ekonomi keluarga.
"Ketika ada warga yang membangun rumah, saya kerap menjadi buruh harian dengan mengangkut pasir, batu bata, dan genteng. Saya juga turut membantu ibu berjualan kelapa di pasar sebagai bentuk ikhtiar menambah penghasilan," kenang Gus Musaffa—sapaan akrabnya.
Kerasnya Lautan dan Gagalnya Impian ke Al-Azhar
Tahun 1996 menjadi babak baru. Setelah lulus SD, ia melanjutkan pendidikan di MTs sambil mondok di Pondok Pesantren Al-Ishlah, Sumenep. Kehidupan santri salaf yang serba apa adanya dengan kiriman pas-pasan tidak menyurutkan langkahnya. Sang ibu selalu berpesan bahwa sesulit apa pun keadaan ekonomi, pendidikan pesantren tidak bisa ditawar.
Untuk menambah uang saku, saat musim libur tiba, Musaffa muda tidak berdiam diri di rumah. Ia memilih ikut nelayan melaut (majeng). Ia menjadi kuli penangkap ikan, berangkat sebelum fajar menerjang ombak, lalu membantu membawa hasil tangkapan untuk dijual.
"Masa-masa itulah yang banyak mengajarkan saya arti perjuangan. Pesantren mengajarkan kesabaran dan ilmu, sementara laut mengajarkan keberanian dan kerja keras," ujarnya.
Kecintaannya pada ilmu agama, terutama bahasa Arab yang ia tekuni saat melanjutkan pendidikan di PP Darul Lughah, Pamekasan—sempat melahirkan impian besar: melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo. Namun, realitas memaksanya berdamai dengan keadaan.
"Jangankan biaya berangkat ke Mesir, untuk biaya seleksi saja kami tidak punya uang. SPP sekolah sering menunggak, sampai saya harus bekerja sebagai buruh penyiram tembakau agar bisa membayarnya. Saya gagal berangkat ke Mesir, tetapi saya percaya Allah selalu punya jalan lain," tambahnya tersenyum.

Merantau ke Surabaya Berbekal 300 Ribu Rupiah
Jalan lain itu datang dari sebuah koran yang memuat informasi beasiswa Orang Tua Asuh di Universitas Merdeka (UNMER) Surabaya. Ia lolos seleksi dan berangkat merantau seorang diri dengan bekal Rp300.000 dari sang ibu. Separuh dari uang itu ia gunakan untuk membeli sepeda bekas di Pasar Wedoro, sepeda yang menjadi "kendaraan tempur" utamanya selama kuliah.
Untuk bertahan hidup, ia memilih tinggal dan mengabdi sebagai marbot di Masjid Nurul Iman, Penjaringan, Surabaya. Selain membersihkan masjid dan mengajar TPQ, ia terpaksa belajar memimpin jamaah sebagai imam pengganti atau khatib dadakan.
Menjawab Stigma Banser di Tengah Pusaran Kepentingan Politik dan Demokrasi17 Juni 2026 pukul 17.40Di sela-sela kuliah, bekerja di perusahaan ekspedisi, dan menjadi marbot, ia menemukan "rumah" baru di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Baginya, organisasi bukan sekadar wadah pergerakan, melainkan sekolah kepemimpinan sejati. Dedikasinya membawanya dipercaya menjadi Ketua III PC PMII Surabaya.
"Soal makan, saya tidak terlalu banyak berpikir. Kadang cukup minum air dari kran masjid untuk menahan lapar sampai ada rezeki berikutnya. Yang ada di kepala saya saat itu hanya satu: jangan sampai berhenti kuliah," tegas Gus Musaffa menutup kisah masa mudanya.








