Kerja Sama Media Partner
Jadikan Runtut.com Media Partner Acara Anda

Publikasi berita, liputan acara, dan promosi program untuk kegiatan Anda. Hubungi tim kami lewat WhatsApp atau email.

Runtut.com

Ketika Seskab Bicara Soal Kantong Pribadi Presiden, Banyak Hal yang Justru Terbuka

Seskab Teddy bilang biaya lebih kunjungan Prabowo ditanggung pribadi. Pernyataan itu justru membuka tiga pertanyaan besar yang belum ada jawabnya.

5 menit baca
19
Ketika Seskab Bicara Soal Kantong Pribadi Presiden, Banyak Hal yang Justru Terbuka
1 Juni 2026: Seskab Teddy Indra Wijaya mengunggah video klarifikasi di Instagram resmi Sekretariat Kabinet, menyatakan kelebihan biaya kunjungan luar negeri Prabowo ditanggung dana pribadi. — Foto: Tangkapan Layar Instagram/sekretariat.kabinet

Pada Senin malam, 1 Juni 2026, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengunggah sebuah video di akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet. Niatnya jelas: merespons kritik yang makin ramai setelah mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal, pada 30 Mei 2026, secara terbuka mempertanyakan frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang disebutnya "tidak lazim." Dalam video itu, Teddy menegaskan, "Jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo."

Pernyataan itu dimaksudkan sebagai penutup perdebatan. Kenyataannya, ia membuka tiga pertanyaan baru yang justru jauh lebih besar dari pertanyaan awal Dino.

Pertanyaan pertama adalah yang paling mendasar: dari mana publik bisa memverifikasi bahwa yang dikatakan Teddy itu benar?

Tidak ada dokumen yang dibuka. Tidak ada laporan keuangan yang ditampilkan. Tidak ada angka anggaran resmi yang dijabarkan, berapa pagu yang ditetapkan negara untuk setiap kunjungan, berapa yang terpakai, dan berapa yang diklaim ditambahi dari kantong Prabowo sendiri. Yang ada hanya pernyataan lisan dalam sebuah video unggahan media sosial, yang menyebutkan bahwa hal ini "sudah dijelaskan beberapa kali." Ironisnya, penjelasan berulang tanpa data adalah bukan penjelasan, melainkan pengulangan klaim.

Mahfud MD, mantan Menko Polhukam, menanggapi hal ini di kanal YouTube-nya pada 2 Juni 2026. Ia menyebut bahwa yang sesungguhnya menjadi sorotan publik bukan semata soal berapa biayanya, melainkan soal transparansi, manfaat, dan tindak lanjut yang nyata dari setiap kunjungan. Dalam 1,5 tahun menjabat, Presiden Prabowo tercatat melakukan 49 kali kunjungan kerja ke luar negeri ke 28 negara, dengan total akumulasi sekitar 95 hari. Dino menyebut satu kali perjalanan kenegaraan bisa menghabiskan puluhan hingga ratusan miliar rupiah, mencakup tim pendahulu, sewa pesawat, hotel, logistik, konsumsi, pengamanan, hingga uang harian delegasi. Mahfud menilai kunker Prabowo layak dikritik karena terlalu sering dan "produknya tidak jelas ke rakyat."

Pertanyaan kedua menyentuh wilayah hukum yang lebih serius. Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Muhamad Saleh menegaskan bahwa pendanaan kegiatan negara harus melalui mekanisme APBN yang jelas dan dapat diawasi publik. Penggunaan dana pribadi untuk menutupi kekurangan biaya perjalanan resmi menimbulkan persoalan serius dari sisi hukum administrasi negara, dan berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara serta Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih. Pemerhati hukum keuangan negara Agus juga mengingatkan bahwa APBN adalah produk undang-undang yang mengikat dan harus digunakan secara tertib dan transparan. Jika anggaran perjalanan dinas melebihi batas, solusi yang tepat adalah merasionalisasi agenda atau mengurangi rombongan, bukan menutupi kekurangan dengan dana pribadi. Karena pertanyaannya kemudian menjadi: jika presiden secara rutin menutup kekurangan anggaran dari kantong sendiri, apakah itu tidak berarti anggaran yang ditetapkan memang selalu kurang dari kebutuhan nyata? Dan jika ya, mengapa anggarannya tidak disesuaikan secara resmi sejak awal?

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Norwegia: Potret Sukses Tata Kelola Kekayaan Negara
Politik & Pemerintahan

Norwegia: Potret Sukses Tata Kelola Kekayaan Negara

Norwegia membuktikan kekayaan alam bukan jaminan kemakmuran. Kuncinya ialah tata kelola, jaminan kesejahteraan, dan demokrasi yang melindungi rakyatnya.

Mila Nabilah· 29 Juli 2026
Menjawab Stigma Banser di Tengah Pusaran Kepentingan Politik dan Demokrasi
Politik & Pemerintahan

Menjawab Stigma Banser di Tengah Pusaran Kepentingan Politik dan Demokrasi

Menepis anggapan sebagai kendaraan politik praktis dan kelompok massa jalanan, terkuak realitas arah pergerakan Banser di akar rumput masyarakat.

Tegar Herlambang· 17 Juni 2026
Mereka Tahu Pejabat Ini Buruk, tapi Tetap Memilihnya. Ini Bukan Kebodohan, Ini Sistemik
Politik & Pemerintahan

Mereka Tahu Pejabat Ini Buruk, tapi Tetap Memilihnya. Ini Bukan Kebodohan, Ini Sistemik

IPK Indonesia turun ke peringkat 109, DPR paling tidak dipercaya, tapi petahana terus menang. Ini bukan soal pemilih yang tidak cerdas. Ini soal sistem.

Tegar Herlambang· 29 Mei 2026
Kabinet yang Terus Berputar, Rupiah yang Terus Melemah
Politik & Pemerintahan

Kabinet yang Terus Berputar, Rupiah yang Terus Melemah

Lima kali reshuffle dalam 19 bulan, rupiah Rp17.700 per dolar, dan seorang presiden yang bilang "orang desa tak pakai dolar." Ini bukan satire, ini realita.

Tegar Herlambang· 28 Mei 2026
Satu Kalimat Bikin Gaduh: Salah Ucap Prabowo soal Gaji Guru 300 Persen Menutup Pesan Besar RAPBN 2027
Politik & Pemerintahan

Satu Kalimat Bikin Gaduh: Salah Ucap Prabowo soal Gaji Guru 300 Persen Menutup Pesan Besar RAPBN 2027

Salah ucap Prabowo soal gaji guru hampir 300 persen memicu kegaduhan. Isu viral ini justru menutup pesan utama pidato RAPBN 2027.

Tegar Herlambang· 22 Mei 2026
Deretan Pernyataan Prabowo yang Dinilai Blunder: Dari Antek Asing hingga Desa Tak Pakai Dolar
Politik & Pemerintahan

Deretan Pernyataan Prabowo yang Dinilai Blunder: Dari Antek Asing hingga Desa Tak Pakai Dolar

Sejumlah pernyataan Presiden Prabowo Subianto menuai kritik karena dinilai defensif, menyederhanakan persoalan, dan berisiko mempersempit ruang kritik publik.

Tegar Herlambang· 19 Mei 2026