Runtut.com

Deretan Pernyataan Prabowo yang Dinilai Blunder: Dari Antek Asing hingga Desa Tak Pakai Dolar

Sejumlah pernyataan Presiden Prabowo Subianto menuai kritik karena dinilai defensif, menyederhanakan persoalan, dan berisiko mempersempit ruang kritik publik.

2 menit baca
28
Deretan Pernyataan Prabowo yang Dinilai Blunder: Dari Antek Asing hingga Desa Tak Pakai Dolar
Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah agenda kenegaraan. Sejumlah pernyataannya dinilai menuai kontroversi karena muncul di tengah tekanan ekonomi dan kritik publik terhadap pemerintah. — Foto: Instagram/presidenrepublikindonesia

Dalam politik, kata-kata presiden tidak pernah netral. Setiap pernyataan kepala negara dibaca sebagai sinyal: oleh rakyat, birokrasi, investor, partai politik, media, hingga pasar keuangan.

Karena itu, sejumlah pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai blunder belakangan ini menjadi sorotan. Bukan hanya karena pilihan katanya, tetapi karena konteksnya: ekonomi sedang tertekan, rupiah melemah, kritik publik menguat, dan kepercayaan pasar harus dijaga.

Pernyataan terbaru yang menuai kritik adalah komentar Prabowo soal warga desa tidak memakai dolar. Kalimat itu disampaikan saat rupiah menembus kisaran Rp17.500 per dolar AS. Prabowo meminta masyarakat tidak terlalu khawatir karena warga desa tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari.

Secara komunikasi politik, pernyataan itu mungkin dimaksudkan untuk menenangkan. Namun secara substansi ekonomi, kalimat tersebut dinilai terlalu menyederhanakan dampak pelemahan rupiah. Nilai tukar tidak hanya dirasakan oleh orang yang memegang dolar. Ia bisa merembet ke harga barang, energi, pangan, pupuk, obat, dan biaya produksi.

Sebelumnya, Prabowo juga kerap menggunakan narasi yang keras terhadap kritik. Salah satunya adalah narasi “antek asing”. Tirto menulis bahwa penggunaan narasi seperti ini dinilai tidak relevan dalam demokrasi modern karena berisiko memosisikan kritik publik sebagai sesuatu yang tidak nasionalis.

Narasi semacam itu berbahaya bagi demokrasi. Kritik terhadap pemerintah bukan otomatis serangan terhadap negara. Kritik terhadap rupiah, utang, kebijakan fiskal, atau program prioritas justru penting sebagai sistem peringatan dini.

Prabowo juga pernah menyebut Indonesia sebagai negara yang rakyatnya paling bahagia di dunia berdasarkan Global Flourishing Study. Pernyataan itu disampaikan dalam perayaan Natal Nasional 2025 dan disebut membuatnya terharu.

Klaim itu tentu bisa dibaca sebagai kabar positif. Namun, kebahagiaan subjektif rakyat tidak boleh membuat pemerintah abai terhadap persoalan struktural: upah rendah, pekerjaan informal, biaya hidup, kemiskinan, ketimpangan, dan daya beli.

BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen, turun 0,08 persen poin dibanding Februari 2025. Penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang, sementara rata-rata upah buruh tercatat Rp3,29 juta. Data ini menunjukkan ada perbaikan indikator ketenagakerjaan, tetapi juga menyisakan pertanyaan tentang kualitas pekerjaan dan daya beli.

Pola yang tampak dari berbagai pernyataan tersebut adalah kecenderungan pemerintah menonjolkan optimisme dan menolak narasi negatif. Optimisme tentu penting. Tetapi optimisme yang tidak disertai pengakuan terhadap risiko dapat berubah menjadi penyangkalan.

Dalam politik modern, pemimpin tidak cukup hanya membangkitkan semangat. Ia juga harus menjelaskan masalah, membuka data, dan tidak alergi terhadap kritik.

Pernyataan yang dinilai blunder dapat menjadi beban politik jika terus berulang. Bukan karena rakyat ingin presiden berbicara seperti teknokrat setiap saat, tetapi karena publik ingin merasa bahwa negara memahami persoalan yang mereka hadapi.

Jika rakyat merasakan harga naik, lapangan kerja sulit, dan rupiah melemah, sementara pemerintah terdengar terlalu santai, jarak psikologis antara penguasa dan warga bisa melebar.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Norwegia: Potret Sukses Tata Kelola Kekayaan Negara
Politik & Pemerintahan

Norwegia: Potret Sukses Tata Kelola Kekayaan Negara

Norwegia membuktikan kekayaan alam bukan jaminan kemakmuran. Kuncinya ialah tata kelola, jaminan kesejahteraan, dan demokrasi yang melindungi rakyatnya.

Mila Nabilah· 29 Juli 2026
Menjawab Stigma Banser di Tengah Pusaran Kepentingan Politik dan Demokrasi
Politik & Pemerintahan

Menjawab Stigma Banser di Tengah Pusaran Kepentingan Politik dan Demokrasi

Menepis anggapan sebagai kendaraan politik praktis dan kelompok massa jalanan, terkuak realitas arah pergerakan Banser di akar rumput masyarakat.

Tegar Herlambang· 17 Juni 2026
Ketika Seskab Bicara Soal Kantong Pribadi Presiden, Banyak Hal yang Justru Terbuka
Politik & Pemerintahan

Ketika Seskab Bicara Soal Kantong Pribadi Presiden, Banyak Hal yang Justru Terbuka

Seskab Teddy bilang biaya lebih kunjungan Prabowo ditanggung pribadi. Pernyataan itu justru membuka tiga pertanyaan besar yang belum ada jawabnya.

Tegar Herlambang· 3 Juni 2026
Mereka Tahu Pejabat Ini Buruk, tapi Tetap Memilihnya. Ini Bukan Kebodohan, Ini Sistemik
Politik & Pemerintahan

Mereka Tahu Pejabat Ini Buruk, tapi Tetap Memilihnya. Ini Bukan Kebodohan, Ini Sistemik

IPK Indonesia turun ke peringkat 109, DPR paling tidak dipercaya, tapi petahana terus menang. Ini bukan soal pemilih yang tidak cerdas. Ini soal sistem.

Tegar Herlambang· 29 Mei 2026
Kabinet yang Terus Berputar, Rupiah yang Terus Melemah
Politik & Pemerintahan

Kabinet yang Terus Berputar, Rupiah yang Terus Melemah

Lima kali reshuffle dalam 19 bulan, rupiah Rp17.700 per dolar, dan seorang presiden yang bilang "orang desa tak pakai dolar." Ini bukan satire, ini realita.

Tegar Herlambang· 28 Mei 2026
Satu Kalimat Bikin Gaduh: Salah Ucap Prabowo soal Gaji Guru 300 Persen Menutup Pesan Besar RAPBN 2027
Politik & Pemerintahan

Satu Kalimat Bikin Gaduh: Salah Ucap Prabowo soal Gaji Guru 300 Persen Menutup Pesan Besar RAPBN 2027

Salah ucap Prabowo soal gaji guru hampir 300 persen memicu kegaduhan. Isu viral ini justru menutup pesan utama pidato RAPBN 2027.

Tegar Herlambang· 22 Mei 2026