Runtut.com

Sebelum PHK Jadi Jawaban, Perencanaan SDM Harus Jadi Pertanyaan

Perencanaan SDM membantu perusahaan menghadapi perlambatan ekonomi melalui pengembangan keterampilan, penataan kerja, dan evaluasi alternatif PHK.

3 menit baca
2
Ilustrasi seorang pria yang kena phk disebuah perusahaan
Ilustrasi seorang pria yang kena phk disebuah perusahaan — Istockphoto

RUNTUT.COM – Ketika kondisi ekonomi memburuk, perusahaan kerap dihadapkan pada pertanyaan tentang berapa banyak karyawan yang perlu dikurangi untuk menekan biaya. Pertanyaan tersebut mungkin muncul sebagai bagian dari upaya menjaga keuangan perusahaan. Namun, jika pengurangan tenaga kerja menjadi respons pertama, perusahaan berisiko mengabaikan sumber daya yang berperan penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis.

Karyawan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang dibutuhkan perusahaan untuk menghadapi perubahan pasar. Karena itu, ketika ekonomi melambat, persoalannya bukan sekadar bagaimana memangkas pengeluaran, melainkan bagaimana mengelola sumber daya manusia (SDM) agar bisnis tetap berjalan dan siap menghadapi pemulihan.

Reaktif Membuat Perusahaan Kehilangan Pilihan

Tanpa perencanaan SDM yang matang, perusahaan cenderung bertindak setelah masalah muncul. Ketika permintaan turun, pemutusan hubungan kerja (PHK) dilakukan untuk menekan biaya. Sebaliknya, saat permintaan kembali meningkat, perusahaan harus merekrut karyawan baru dalam waktu singkat.

Pola tersebut dapat menimbulkan biaya tambahan yang tidak selalu terlihat dalam perhitungan awal. Ketika karyawan berpengalaman pergi, perusahaan berpotensi kehilangan pengetahuan kerja, kemampuan teknis, dan pemahaman terhadap pelanggan. Proses perekrutan dan pelatihan karyawan pengganti juga membutuhkan waktu serta biaya.

Perencanaan SDM membantu perusahaan mengantisipasi perubahan kebutuhan tenaga kerja sebelum situasi menjadi mendesak. Dengan begitu, keputusan dapat diambil berdasarkan kebutuhan jangka panjang, bukan semata-mata tekanan sesaat.

Merencanakan Keterampilan, Bukan Sekadar Jumlah Karyawan

Perencanaan SDM bukan hanya tentang menghitung jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Perusahaan juga perlu mengidentifikasi keterampilan yang akan diperlukan dalam dua hingga tiga tahun mendatang, kemudian menilai apakah kemampuan tersebut sudah tersedia atau masih perlu dikembangkan.

Pendekatan ini membuka peluang bagi karyawan untuk beralih ke peran yang sesuai dengan kebutuhan baru. Staf administrasi yang terbiasa mengelola data, misalnya, dapat mengikuti pelatihan analisis data. Sementara itu, operator berpengalaman dapat dipersiapkan menjadi pengawas kualitas atau pelatih bagi karyawan baru.

Pengembangan keterampilan karyawan yang sudah memahami alur kerja dan budaya perusahaan dapat menjadi alternatif perekrutan dari luar. Kebutuhan ini semakin relevan ketika otomatisasi dan kecerdasan buatan mengubah cara berbagai pekerjaan dilakukan.

Menempatkan PHK sebagai Pilihan Terakhir

PHK tidak selalu dapat dihindari. Dalam kondisi tertentu, perusahaan mungkin harus mengurangi tenaga kerja untuk mempertahankan keberlangsungan usaha. Namun, sebelum mengambil keputusan tersebut, perusahaan perlu mengevaluasi alternatif yang tersedia.

Langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain membatasi perekrutan yang belum mendesak, menata ulang pembagian tugas, menyesuaikan pola kerja, serta melatih karyawan untuk mengisi peran yang sedang dibutuhkan. Efektivitas setiap langkah tentu bergantung pada kondisi keuangan, jenis usaha, dan kebutuhan operasional perusahaan.

Jika PHK tetap harus dilakukan, perusahaan perlu menyampaikan alasan secara terbuka, memenuhi hak karyawan, dan memberikan dukungan selama masa transisi. Cara perusahaan memperlakukan karyawan yang terdampak juga dapat memengaruhi kepercayaan karyawan yang tetap bekerja.

Perencanaan SDM Bukan Tanggung Jawab HR Semata

Perencanaan SDM tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada bagian sumber daya manusia atau human resources (HR). Pimpinan perusahaan perlu terlibat karena keputusan mengenai tenaga kerja berkaitan langsung dengan strategi bisnis, anggaran, dan arah pengembangan usaha.

Keduanya perlu membahas kemungkinan perubahan pasar, kebutuhan keterampilan baru, serta dampak penerapan teknologi sejak kondisi perusahaan masih relatif stabil. Pertanyaan tentang langkah yang harus diambil ketika permintaan menurun akan lebih mudah dikaji sebelum tekanan ekonomi memaksa perusahaan mengambil keputusan cepat.

Perubahan ekonomi memang sulit diprediksi sepenuhnya. Namun, perusahaan tetap dapat mempersiapkan diri melalui perencanaan tenaga kerja yang terukur. Dengan memahami kemampuan karyawan, mengembangkan keterampilan yang relevan, dan mengevaluasi berbagai alternatif penghematan, perusahaan memiliki lebih banyak pilihan ketika menghadapi ketidakpastian.

Karena itu, sebelum menjadikan PHK sebagai langkah penghematan, perusahaan perlu memastikan bahwa perencanaan SDM telah menjadi bagian dari strategi bisnisnya.

Tentang Penulis
VC
Vrisca Claudia Listanto

Mahasiswa Universitas Pamulang Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Artikel ini merupakan tulisan kontribusi. Isi dan pendapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan sikap redaksi Runtut.com.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Menguji Asa Kereta Cepat Jakarta–Surabaya di Tahun 2026
Perspektif

Menguji Asa Kereta Cepat Jakarta–Surabaya di Tahun 2026

Jakarta–Surabaya cuma 30 menit? Intip proyek Kereta Cepat Merah Putih buatan anak bangsa yang siap uji coba prototipe di 2026!

Lusianti Dwi Cahyani· 1 hari lalu
Kenapa Kita Beli Barang yang Awalnya Tidak Dibutuhkan? Ini Faktor yang Memengaruhi Keputusan Pembelian
Perspektif

Kenapa Kita Beli Barang yang Awalnya Tidak Dibutuhkan? Ini Faktor yang Memengaruhi Keputusan Pembelian

Harga, kualitas, promosi, dan media sosial memengaruhi keputusan konsumen. Kenali faktor di balik kebiasaan belanja agar lebih bijak sebelum membeli.

Riska Meisyadila · 1 hari lalu
Konsumen Makin Teliti, Keranjang Belanja Tak Lagi Berarti Siap Membeli
Perspektif

Konsumen Makin Teliti, Keranjang Belanja Tak Lagi Berarti Siap Membeli

Perubahan perilaku belanja membuat konsumen lebih banyak membandingkan harga, membaca ulasan, dan menimbang kebutuhan sebelum menentukan pembelian.

Vrisca Claudia Listanto· 2 hari lalu
In This Economy, Bisnis Narkoba Jadi Paling Tahan Krisis: Bagaimana Bisa?
Perspektif

In This Economy, Bisnis Narkoba Jadi Paling Tahan Krisis: Bagaimana Bisa?

Jika menyoal bisnis mana yang paling tahan akan krisis di tengah kondisi serba tidak pasti sekarang, bisnis narkoba mungkin jadi salah satunya. Kok bisa?

Andini Putri Lestari· 5 hari lalu
Memahami Hukum Tata Negara untuk Menjadi Smart & Good Citizen di Era Digital
Perspektif

Memahami Hukum Tata Negara untuk Menjadi Smart & Good Citizen di Era Digital

Memahami Hukum Tata Negara membantu masyarakat memilah informasi, memahami kewenangan pemerintah, serta menyampaikan kritik secara cerdas dan bertanggung jawab.

Neza Kusuma Ningrum· 5 hari lalu
Jakarta Bukan untuk Semua Orang: Arena Pembuktian Bagi Mereka yang Menolak Menyerah
Perspektif

Jakarta Bukan untuk Semua Orang: Arena Pembuktian Bagi Mereka yang Menolak Menyerah

Mengapa Jakarta bukan untuk semua orang? Temukan realitas keras seleksi alam ibu kota dan alasan mengapa hanya mereka yang bermental baja yang bisa bertahan.

Ferdian Trikusuma· 1 minggu lalu