JAKARTA - Banjir yang kembali melanda Kota Padang pada 3 Agustus 2026 belum sepenuhnya menjadi catatan masa lalu. Ketika genangan telah surut dan warga mulai membersihkan rumah, pemerintah kini menghadapi pekerjaan yang lebih panjang: membenahi sistem pengendalian banjir agar bencana tidak terus berulang. Banjir Agustus merupakan kejadian besar kedua yang dialami masyarakat Padang setelah bencana serupa pada November 2025, sementara sejumlah kawasan masih menghadapi ancaman ketika hujan deras kembali turun.
Hujan berintensitas tinggi pada 3 Agustus menyebabkan sejumlah sungai di Kota Padang meluap. Di beberapa lokasi, ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter. Wilayah terdampak antara lain Kuranji, Koto Tangah, Bungus Teluk Kabung, Lubuk Begalung dan Nanggalo. Setelah banjir berangsur surut, warga bersama pemerintah dan berbagai unsur masyarakat melakukan pembersihan rumah, fasilitas umum, sekolah, rumah ibadah dan lingkungan yang dipenuhi lumpur.
Namun, pengalaman tersebut kembali memperlihatkan kerentanan Kota Padang terhadap banjir berulang.
Wali Kota Padang Fadly Amran menyatakan banjir kali ini merupakan kejadian kedua setelah bencana serupa pada November 2025. Kondisi tersebut mendorong pemerintah kota untuk memperbarui dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) agar kebutuhan penanganan tidak hanya berfokus pada lokasi yang sebelumnya telah masuk dalam perencanaan.
“Total kebutuhan penanganan banjir Kota Padang dalam dokumen R3P mencapai sekitar Rp955,771 miliar,” kata Fadly.
Usulan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai menggeser orientasi dari penanganan darurat menuju pembangunan sistem pengendalian banjir yang lebih permanen.
Satgas PRR: Persoalan Tidak Bisa Ditangani Secara Parsial
Perubahan pendekatan tersebut juga menjadi perhatian Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Alam Wilayah Sumatera.
Pada 11 Agustus, Satgas PRR bersama Pemko Padang meninjau sejumlah lokasi terdampak untuk mengevaluasi kondisi sungai, tanggul dan infrastruktur pengendalian banjir. Peninjauan menemukan persoalan sedimentasi di sejumlah aliran sungai yang berpotensi mengurangi kapasitas saluran air.
Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi Satgas PRR, Brigjen Pol. Yopie Indra Prasetya Sepang, mengatakan sejumlah sungai di Padang mengalami sedimentasi dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Kami mendapati sejumlah aliran sungai di Padang mengalami sedimentasi, sehingga perlu dicarikan solusinya untuk mengatasi bencana.”
Sungai yang menjadi perhatian antara lain Sungai Guo, Batang Maransi, Batang Belimbing dan Batang Kuranji. Sedimentasi membuat kapasitas aliran berkurang sehingga normalisasi atau intervensi teknis lainnya diperlukan.
Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan banjir tidak cukup dilakukan dengan membersihkan genangan setelah hujan. Kapasitas sungai dari hulu hingga hilir, sedimentasi, tanggul, drainase dan ruang tampung air harus ditangani sebagai satu sistem.
Rp955,7 Miliar untuk Pengendalian Banjir
Dalam dokumen R3P yang diperbarui, Pemko Padang mengusulkan kebutuhan sekitar Rp955,771 miliar kepada pemerintah pusat.
Usulan tersebut mencakup berbagai proyek, antara lain pembangunan waduk retensi Air Pacah, perbaikan drainase kawasan By Pass, perbaikan saluran crossing, normalisasi Batang Maransi, pembangunan pengendali banjir Batang Guo, pengendalian sedimen Batang Guo, pengembangan geoportal, serta penyediaan sensor banjir di Batang Kuranji.
Rencana tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai mengarahkan penanganan ke kombinasi infrastruktur pengendali banjir dan sistem peringatan dini.
Bagi kota yang berada di antara kawasan perbukitan dan pesisir, pendekatan semacam ini menjadi penting karena air dari kawasan hulu harus dapat dialirkan dengan kapasitas yang memadai sekaligus ditahan ketika debit meningkat secara cepat.
Batang Maransi Jadi Salah Satu Prioritas
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang juga memperkuat koordinasi dengan Pemprov Sumatera Barat dan Pemkot Padang untuk menangani sejumlah titik rawan.
Salah satu lokasi prioritas adalah Batang Maransi, dengan rencana peningkatan kapasitas sungai, perbaikan alur dan dasar sungai, serta pembangunan kolam retensi.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk mengurangi risiko banjir melalui peningkatan kapasitas sistem sungai, bukan sekadar menangani dampak setelah air meluap.









