Runtut.com

RUU Perampasan Aset Tak Hanya Bidik Koruptor, Cakupan Kejahatan Bisa Diperluas

RUU Perampasan Aset dibahas DPR dengan cakupan lebih luas. Aturan ini berpotensi menyasar aset dari korupsi hingga kejahatan terorganisasi.

3 menit baca
5
Runtut.com
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menyampaikan pandangan terkait pembahasan RUU Perampasan Aset di kompleks parlemen. — Instagram/@habiburokhmanjkttimur

JAKARTA - Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menyebut Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset tidak hanya dirancang untuk menangani aset hasil tindak pidana korupsi. Regulasi tersebut juga berpotensi mencakup berbagai kejahatan lain yang menimbulkan kerugian besar bagi negara maupun masyarakat.

Menurut Habiburokhman, perluasan cakupan perampasan aset diperlukan agar negara memiliki instrumen hukum yang lebih kuat dalam memulihkan kerugian akibat tindak pidana. Ia menilai kejahatan tertentu dapat memberikan dampak ekonomi dan sosial yang luas meskipun tidak selalu berkaitan langsung dengan korupsi.

“Komisi III DPR RI berkomitmen memastikan RUU Perampasan Aset menjadi payung hukum yang utuh, progresif, dan proporsional untuk memulihkan kerugian negara sekaligus memulihkan kerugian publik secara menyeluruh,” kata Habiburokhman, Rabu (2/9/2026).

Ia menjelaskan, konsep tersebut mengacu pada praktik sejumlah negara yang telah menerapkan mekanisme perampasan aset berbasis non-conviction based asset forfeiture atau perampasan aset tanpa menunggu putusan pidana berkekuatan hukum tetap dalam kondisi tertentu.

Di Amerika Serikat, misalnya, mekanisme civil forfeiture digunakan untuk menyita aset yang berkaitan dengan berbagai kejahatan, seperti narkotika, pencucian uang, penyelundupan, hingga manipulasi pasar modal.

Sementara itu, Inggris menerapkan aturan melalui Proceeds of Crime Act 2002 (POCA) yang diperkuat dengan instrumen Unexplained Wealth Orders (UWO). Aturan tersebut memungkinkan penyitaan aset yang diduga berasal dari tindak pidana berat, termasuk penipuan terorganisasi dan penghindaran pajak, dengan mekanisme pembuktian tertentu.

Australia juga memiliki regulasi Proceeds of Crime Act 2002 yang mengatur penyitaan aset terkait kejahatan terorganisasi, perdagangan narkotika, pelanggaran kepabeanan, serta kejahatan finansial berskala besar.

Dalam pembahasan RUU Perampasan Aset, Habiburokhman mengatakan Komisi III DPR menerima berbagai masukan agar sejumlah tindak pidana lain turut masuk dalam cakupan aturan tersebut. Beberapa di antaranya adalah narkotika, terorisme, penipuan investasi, kejahatan lingkungan hidup, perpajakan, dan sektor perasuransian.

Menurutnya, tindak pidana tersebut memiliki dampak yang besar terhadap masyarakat sehingga membutuhkan mekanisme pemulihan aset yang lebih efektif.

Dalam perkara narkotika dan terorisme, perampasan aset dinilai dapat digunakan untuk memutus sumber pendanaan serta mengambil aset yang digunakan sebagai pendukung operasional jaringan kejahatan. Langkah tersebut diharapkan dapat menghambat keberlangsungan kelompok kriminal.

Sementara dalam kasus penipuan investasi dan asuransi, perampasan aset dapat menjadi instrumen untuk mengembalikan kerugian korban. Sebab, dalam banyak perkara, aset pelaku telah dipindahkan atau disamarkan sehingga menyulitkan proses pemulihan.

Meski demikian, Habiburokhman menegaskan perluasan kewenangan melalui RUU Perampasan Aset harus diiringi dengan pengawasan terhadap aparat penegak hukum. Menurut dia, kewenangan besar dalam penyitaan aset harus dijalankan secara profesional agar tidak berubah menjadi alat kriminalisasi terhadap pihak tertentu.

Pembahasan RUU Perampasan Aset masih berlangsung di DPR. Pemerintah dan legislatif akan menentukan batasan, mekanisme, serta perlindungan hukum dalam penerapan aturan tersebut sebelum disahkan menjadi undang-undang.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Dugaan WNI Jadi Tentara Bayaran di Perang Ukraina, Kemlu dan KBRI Buka Suara
Nasional

Dugaan WNI Jadi Tentara Bayaran di Perang Ukraina, Kemlu dan KBRI Buka Suara

Kemlu dan KBRI Moskow telusuri kebenaran identitas WNI yang dikabarkan tewas di perang Ukraina usai direkrut militer Rusia.

Rani Masida· 1 hari lalu
Daftar Fenomena Astronomi November 2026: Ada Supermoon hingga Hujan Meteor
Nasional

Daftar Fenomena Astronomi November 2026: Ada Supermoon hingga Hujan Meteor

Langit November 2026 dihiasi hujan meteor Taurid & Leonid hingga Supermoon. Cek jadwal dan waktu terbaik pengamatannya di sini!

Lusianti Dwi Cahyani· 2 hari lalu
Konvoi Motor Mahasiswa Trisakti Jadi Sorotan, Bantah Tudingan Bayaran 100 Ribu Saat Demonstrasi
Nasional

Konvoi Motor Mahasiswa Trisakti Jadi Sorotan, Bantah Tudingan Bayaran 100 Ribu Saat Demonstrasi

Aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Trisakti pada Kamis (29/10/2026) menyita perhatian publik setelah beredarnya rekaman konvoi massa

Maya Sintasari· 2 hari lalu
PBB Bidang HAM: Indonesia Perlu Mempertimbangkan Kembali Keterlibatannya dalam Dewan Perdamaian
Nasional

PBB Bidang HAM: Indonesia Perlu Mempertimbangkan Kembali Keterlibatannya dalam Dewan Perdamaian

Apabila tujuan bergabungnya Indonesia untuk misi perdamaian, Albanese menyarankan sebaiknya Indonesia bergabung dalam Grup Hague dibanding Dewan Perdamaian.

Andini Putri Lestari· 4 hari lalu
Peringati Sumpah Pemuda, BEM UI dan Komite Sadar Suarakan "5 Perintah Rakyat" di Jakarta
Nasional

Peringati Sumpah Pemuda, BEM UI dan Komite Sadar Suarakan "5 Perintah Rakyat" di Jakarta

BEM UI dan Komite Sadar mengusung 5 Perintah Rakyat dalam aksi Sumpah Pemuda di Jakarta, menyoroti isu lingkungan, ekonomi, pendidikan, hukum, dan HAM.

Lusianti Dwi Cahyani· 5 hari lalu
KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat
Nasional

KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP terbakar saat hendak bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten. 460 jiwa dengan selamat.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu