Wajah bintang sepak bola Prancis, Kylian Mbappe, terpampang pada botol-botol produk perusahaan minuman Dongpeng di sebuah toko di Dalian, Tiongkok. — Kohei Fujimura via Nikkei Asia
RUNTUT.COM – Bintang Real Madrid dan tim nasional Prancis, Kylian Mbappe, secara resmi menyampaikan permohonan maaf terbuka setelah pernyataannya yang menyebut figur pendiri Republik Rakyat Tiongkok, Mao Zedong, sebagai seorang "diktator" memicu gelombang protes massal, reaksi keras dari media pemerintah, hingga pemutusan kerja sama komersial senilai Rp544 milyar.
Kontroversi ini bermula dari potongan video wawancara awal yang beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Mbappe diminta merespons oleh media Prancis mengenai meme paling lucu yang menampilkan wajahnya.
Mbappe pun menjawab, "Meme di mana wajah saya di-photoshop ke wajah diktator Tiongkok, Mao Zedong." Ia menambahkan, "Saya sering menggunakan meme itu saat bermain bersama teman-teman."
Komentar santai Mbappe yang menyebut gambar tersebut merujuk pada "seorang diktator Tiongkok" dengan cepat memicu kemarahan publik Tiongkok yang memandang Mao Zedong sebagai tokoh sejarah yang sangat dihormati dan sensitif.
Mbappe sendiri dikabarkan memang sering menjadi sasaran penyuntingan foto bertema "diktator" di media sosial.
Dampak dari pernyataan tersebut langsung terasa pada jaringan bisnis dan kemitraan komersial sang pemain. Sejumlah merek terkemuka Tiongkok, termasuk produsen minuman energi Dongpeng Beverage Group dan raksasa industri olahan susu Mengniu, langsung mengambil keputusan tegas untuk memutus kontrak sponsor dengan penyerang berusia 27 tahun tersebut.
Perusahaan-perusahaan tersebut menegaskan dalam pernyataan resminya bahwa mereka menolak segala bentuk tindakan atau ucapan yang mencederai perasaan warga Tiongkok.
Pernyataan klarifikasi Mbappe di laman X — x.com/KMbappe
Berdasarkan estimasi Forbes, total pemasukan Mbappe musim ini menembus Rp1,8 triliun (US$100 juta), dengan perincian Rp1,27 triliun dari aktivitas sepak bola dan Rp544 miliar dari lini bisnis komersial.
Walau demikian, angka potensi kehilangan pendapatan komersial sebesar Rp544 miliar itu masih berupa kalkulasi perkiraan. Pasalnya, tak ada satu pun korporasi asal Tiongkok yang merilis angka pasti dari kesepakatan sponsorship mereka bersama Mbappe.
Tidak berhenti pada sektor swasta, penyiaran pertandingan sepak bola juga terkena imbas signifikan. Konglomerat media pemerintah China Media Group menghentikan penayangan siaran pertandingan kompetisi La Liga Spanyol serta menarik seluruh iklan yang menampilkan sosok Mbappe.
Di platform media sosial seperti Weibo, tagar penolakan dan seruan boikot terhadap produk-produk yang mengusung bintang asal Prancis itu menduduki puncak daftar tren, diiringi kecaman luas dari kalangan pecinta sepak bola di negara tersebut.
Menanggapi eskalasi yang kian membesar, Mbappe merilis pernyataan tertulis yang disampaikan dalam tiga bahasa, yakni bahasa Prancis, Mandarin, dan Inggris. Ia mengakui bahwa komentarnya kurang bijaksana dan disampaikan tanpa pemahaman mendalam atas dampak kultural dan historis yang ditimbulkannya.
Mbappe menegaskan bahwa ia tidak memiliki niat untuk merendahkan siapa pun serta menyampaikan rasa hormat yang mendalam terhadap rakyat Tiongkok dan warisan sejarah mereka.
Pihak penyelenggara kompetisi La Liga Spanyol turut menyampaikan penyesalan atas polemik ini dan menegaskan komitmen mereka untuk tetap menjaga hubungan kemitraan strategis dengan Tiongkok.
Insiden ini sekali lagi menjadi pengingat berharga bagi para atlet dunia mengenai besarnya dampak sosial, ekonomi, dan geopolitik yang dapat dipicu oleh unggahan atau pernyataan publik di era komunikasi global.