Setelah vakum selama 14 tahun, Indonesia dan Tiongkok resmi memulihkan kerja sama militer lewat latihan antiteror bersama "Sharp Knife 2026"
JAKARTA – Hubungan pertahanan antara Indonesia dan Tiongkok memasuki babak baru yang ditandai dengan pemulihan kerja sama militer secara konkret. Kedua negara secara resmi memutuskan untuk kembali menggelar latihan bersama pasukan khusus antiteror setelah 14 tahun berlalu.
Berdasarkan laporan SBS News yang merujuk pada keterangan Kementerian Pertahanan Tiongkok dan Global Times, latihan gabungan bertajuk “Sharp Knife 2026” tersebut dijadwalkan berlangsung di Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan, mulai akhir Oktober hingga awal November 2026. Fokus utama latihan ini diarahkan pada operasi penyelamatan sandera di wilayah pegunungan dan medan yang kompleks.
Materi latihan bersama ini mencakup teknik pendakian taktis, pengoperasian kendaraan khusus, penyusupan cepat menggunakan helikopter, pertempuran jarak dekat di dalam ruangan, hingga integrasi sistem tempur antara pasukan darat dan tanpa awak.
Kementerian Pertahanan Tiongkok menyatakan bahwa latihan ini dirancang untuk memperdalam pertukaran praktis sekaligus meningkatkan kapabilitas operasi bersama di antara kedua militer.
Langkah ini menjadi titik balik penting karena rangkaian latihan antiteror “Sharp Knife” terakhir kali diselenggarakan pada tahun 2012. Setelah gelombang latihan pertama di Bandung pada 2011 dan disusul latihan kedua di Jinan, Tiongkok, pada 2012, program tersebut dihentikan tanpa penjelasan resmi dari kedua belah pihak.
Sejumlah pengamat mencatat bahwa ketegangan terkait persoalan wilayah maritim di sekitar perairan Natuna sempat menjadi faktor penahan dalam hubungan pertahanan bilateral tersebut.
Kendati demikian, dinamika geopolitik kawasan belakangan ini menunjukkan pergeseran yang signifikan. Pengamat militer Tiongkok, Song Zhongping, menilai bahwa latihan gabungan ini merupakan bentuk kerja sama keamanan non-tradisional yang bertujuan memperkuat kapasitas taktis menghadapi tantangan di kawasan Asia Tenggara.
Selain fokus pada penanganan terorisme, kerja sama ini juga diarahkan untuk memperkuat penanggulangan kejahatan lintas batas, seperti penipuan telekomunikasi daring dan perdagangan manusia yang kerap melibatkan jaringan internasional di kawasan regional.
Dipulihkannya latihan militer bersama ini juga tidak terlepas dari semakin eratnya kerangka diplomasi strategis antara kedua negara dalam setahun terakhir.
Indonesia dan Tiongkok sendiri tercatat telah mengaktifkan mekanisme dialog tingkat menteri berformat "2+2" yang melibatkan menteri luar negeri dan menteri pertahanan masing-masing negara.
Format dialog tersebut merupakan mekanisme bilateral pertama yang dibangun Tiongkok dengan negara mitra di kawasan, dan hal ini mencerminkan peningkatan kepercayaan politik serta intensitas koordinasi keamanan yang kian menguat di tingkat bilateral maupun regional.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab