KOREA SELATAN – Ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan kembali naik setelah Korea Utara mengirimkan surat ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 25 Oktober 2026. Surat itu berisi tuduhan bahwa Korea Selatan telah merekayasa insiden ledakan ranjau darat di wilayah perbatasan (DMZ) yang terjadi September lalu.
Atas situasi tersebut, tentara Korea Utara melakukan latihan artileri swagerak di wilayah perbatasan pesisir Kaepung, Korea Utara, sebagaimana terlihat dari Observatorium Aegibong di Gimpo, Korea Selatan pada hari yang sama.
Laporan dari SBS News dan Reuters menunjukkan moncong-moncong alutsista tersebut mengarah tepat ke selatan. Di atas badan pelindung artileri itu, tertera slogan “Musnahkan Imperialis AS, Musuh Rakyat Korea!” yang menegaskan eskalasi konflik kedua negara.
Penempatan perangkat militer secara terbuka di zona demarkasi ini menandai pergeseran yang tidak biasa. Biasanya, unit artileri ditempatkan tersembunyi di balik lereng atau pegunungan untuk menghindari deteksi musuh. Para pengamat menilai langkah tersebut bukan sekadar rutinitas pertahanan, melainkan bentuk unjuk kekuatan yang disengaja.
Jembatan China–Korea Utara Resmi Dibuka Setelah Mangkrak 12 Tahun18 Oktober 2026 pukul 06.00Lim Eul-chul, profesor di Universitas Kyungnam, Seoul, menyebutkan bahwa Pyongyang sedang mengirim sinyal melalui tindakan nyata. Langkah ini dibaca sebagai upaya menegaskan kebijakan perbatasan dengan pendekatan militer, sekaligus memperingatkan Seoul agar berhati-hati dalam memicu gesekan di wilayah perbatasan.
“Dengan sengaja memamerkannya, Korea Utara memberi sinyal melalui tindakan ini, bukan hanya kata-kata. Bahwa mereka berniat mempertahankan perbatasannya menggunakan kekuatan, alih-alih melalui dialog atau negosiasi,” ungkapnya dikutip dari The Standard.









