Profesor Solehah Yaacob tak lagi berafiliasi dengan UIAM setelah polemik klaim Romawi belajar membuat kapal dari pelaut Melayu.
MALAYSIA — Universitas Islam Internasional Malaysia (UIAM) memastikan layanan akademik Profesor Solehah Yaacob telah berakhir sejak 27 April 2026. Keputusan tersebut membuat Solehah tidak lagi berstatus profesor maupun memiliki kewenangan mewakili UIAM, setelah namanya menjadi sorotan publik akibat sejumlah pandangan kontroversial mengenai sejarah dan peradaban Melayu.
UIAM melalui Office of Communication, Advocacy and Promotion (OCAP) menyampaikan bahwa Solehah tidak lagi memegang jabatan akademik di institusi tersebut.
Universitas juga melarang penggunaan gelar, jabatan, maupun afiliasi resmi UIAM yang dikaitkan dengan Solehah dalam berbagai bentuk publikasi, pemberitaan media, iklan, materi promosi, hingga konten media sosial.
“Setelah penghentian tersebut, dia tidak lagi memegang posisi profesor atau mewakili institusi dalam peran resmi apa pun,” kata UIAM melalui pernyataannya yang dikutip media Malaysia, The Star.
UIAM menjelaskan bahwa pernyataan tersebut disampaikan untuk menghindari kesalahpahaman mengenai status akademik Solehah dan menjaga kejelasan representasi institusi di ruang publik. Namun, universitas tidak merinci alasan penghentian layanan akademik tersebut dalam pernyataan resminya.
Solehah Yaacob merupakan akademisi Malaysia yang sebelumnya mengajar di bidang linguistik di UIAM. Namanya tercatat dalam berbagai karya ilmiah yang membahas bahasa Arab, filsafat bahasa, pemikiran Islam, serta hubungan bahasa dengan perkembangan peradaban. Reputasinya selama ini lebih banyak berkaitan dengan kajian linguistik dan pemikiran dibandingkan bidang sejarah maritim atau arkeologi.
Perhatian publik terhadap Solehah meningkat setelah rekaman kuliahnya beredar pada November 2025. Dalam video tersebut, Solehah menyampaikan hipotesis bahwa bangsa Romawi kuno mempelajari teknik pembuatan kapal dari pelaut Melayu.
Ia menyebut gagasan tersebut berdasarkan sejumlah sumber bacaan Arab klasik dan penelitian yang telah dikembangkannya sejak masa pendidikan doktoral.
Pernyataan itu kemudian memunculkan perdebatan di kalangan masyarakat dan akademisi. Sebagian pihak mempertanyakan dasar bukti sejarah yang digunakan karena hubungan transfer teknologi pembuatan kapal antara masyarakat Melayu dan Romawi memerlukan dukungan berupa sumber primer, bukti arkeologis, serta kajian kronologis yang dapat diverifikasi.
Menanggapi polemik tersebut, UIAM pada November 2025 membentuk panel penyelidikan internal untuk menelaah pernyataan Solehah sesuai ketentuan integritas akademik universitas. UIAM juga sebelumnya menyatakan bahwa pandangan Solehah merupakan pendapat pribadi dan bukan sikap resmi institusi.
Kontroversi mengenai Solehah tidak berhenti pada klaim tentang teknologi kapal. Ia juga menjadi sorotan setelah mengemukakan pandangan mengenai kemungkinan asal-usul kekayaan bijih besi di Kedah yang dikaitkan dengan aktivitas meteorit pada masa lampau. Pernyataan tersebut kembali menuai perdebatan karena sejumlah kajian menyebut karakteristik mineral di kawasan tersebut berasal dari proses geologi bumi.
Solehah sendiri menolak jika gagasan-gagasannya dianggap sebagai klaim mutlak. Ia menyatakan pandangan tersebut sebagai hipotesis yang menurutnya masih terbuka untuk dikaji. Setelah layanan akademiknya dihentikan, Solehah menyatakan akan membawa persoalan tersebut ke Mahkamah Perusahaan Malaysia.
Ia mempertanyakan proses penghentian hubungan akademiknya dengan UIAM dan menyebut tidak memperoleh kesempatan banding. Sementara itu, UIAM dalam pernyataan resminya tidak menjelaskan secara rinci alasan penghentian layanan akademik tersebut.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab