Runtut.com

Ledakan Granat di Sekolah Kabul Lukai Puluhan Siswa, Penyelidikan Masih Berjalan

Ledakan granat di sekolah Kabul Barat melukai puluhan siswa Hazara. Polisi menyelidiki penyebab insiden yang memicu desakan perlindungan anak.

3 menit baca
12
Ledakan Granat di Sekolah Kabul Lukai Puluhan Siswa, Penyelidikan Masih Berjalan
Ilustrasi sekolah di Afghanistan — Getty Images/@Alison Wright

AFGHANISTAN - Ledakan yang terjadi di pelataran Sekolah Sham-e-Hedayat, Dasht-e-Barchi, Kabul Barat, Afghanistan, melukai sedikitnya 42 anak pada Senin, 17 Agustus 2026. Mayoritas korban merupakan siswa berusia sekolah yang saat itu tengah bersiap meninggalkan area pendidikan setelah kegiatan belajar selesai.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Ledakan membuat suasana di kawasan permukiman padat penduduk itu berubah menjadi kepanikan. Sejumlah siswa langsung dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis akibat luka yang dialami.

Rumah sakit Emergency Hospital di Kabul melaporkan menerima sedikitnya 35 pasien anak berusia antara 10 hingga 14 tahun. Beberapa korban mengalami luka serius dan sedikitnya tiga anak harus menjalani operasi akibat cedera yang mereka alami.

Sementara itu, Misi Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Afghanistan (UNAMA) menyebut terdapat 42 anak berusia 9 hingga 14 tahun yang menjadi korban luka dalam insiden tersebut. Angka korban yang dilaporkan sejumlah pihak berbeda karena proses pendataan masih berlangsung setelah kejadian.

Penyebab ledakan masih dalam penyelidikan aparat keamanan Afghanistan. Kepolisian Kabul menyebut terdapat dugaan penggunaan granat tangan dalam insiden tersebut, tetapi belum memastikan apakah ledakan berasal dari serangan yang direncanakan atau akibat benda peledak sisa konflik yang sebelumnya berada di kawasan itu.

Juru Bicara Kepolisian Kabul Khalid Zadran mengatakan pihaknya tengah melakukan penyelidikan untuk mengetahui asal-usul bahan peledak serta pihak yang bertanggung jawab. Hingga kini, aparat belum mengumumkan identitas pelaku maupun kelompok yang diduga terlibat.

Ledakan tersebut mendapat perhatian dari berbagai organisasi internasional karena terjadi di lingkungan sekolah yang menjadi ruang perlindungan bagi anak-anak. UNAMA menyampaikan bahwa fasilitas pendidikan harus terbebas dari kekerasan dan menjadi tempat aman bagi peserta didik.

Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di Afghanistan Richard Bennett mengecam insiden tersebut dan menyerukan penyelidikan independen untuk memastikan peristiwa itu diusut secara menyeluruh. Seruan serupa disampaikan UNICEF yang menegaskan bahwa anak-anak tidak boleh menjadi sasaran kekerasan dalam kondisi apa pun.

Uni Eropa serta sejumlah pihak lain juga meminta adanya langkah perlindungan lebih kuat terhadap sekolah dan komunitas sipil di Afghanistan. Desakan tersebut muncul karena wilayah Dasht-e-Barchi selama ini dikenal sebagai kawasan yang dihuni banyak warga etnis Hazara, kelompok minoritas yang pernah menjadi sasaran serangan kelompok bersenjata.

Wilayah tersebut sebelumnya beberapa kali mengalami serangan yang dikaitkan dengan kelompok ISIS Khorasan (ISIS-K). Namun, hingga laporan terakhir, belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas ledakan di Sekolah Sham-e-Hedayat.

Peristiwa ini kembali menyoroti tantangan keamanan bagi masyarakat sipil Afghanistan, terutama anak-anak yang berada di lingkungan pendidikan. Penyelidikan aparat masih menjadi kunci untuk mengungkap penyebab dan pihak yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Prancis Mencekam! Kerusuhan di Paris, 1.200 Orang DitangkapBreaking
Internasional

Prancis Mencekam! Kerusuhan di Paris, 1.200 Orang Ditangkap

Aksi demonstrasi pada 17-18 Oktober 2026 berubah menjadi peristiwa kelam bagi Prancis. Ratusan aparat terluka, gedung-gedung pemerintahan diserbu.

Lusianti Dwi Cahyani· 2 jam lalu
Sudah Jadi Ikon Selama 150 Tahun, Kereta Kuda Central Park di New York Bakal Tinggal Kenangan?
Internasional

Sudah Jadi Ikon Selama 150 Tahun, Kereta Kuda Central Park di New York Bakal Tinggal Kenangan?

New York berencana menghentikan operasional kereta kuda Central Park setelah lebih dari 150 tahun. Rancangan Romanch’s Law dijadwalkan dipungut suara minggu ini

Ferdian Trikusuma· 8 jam lalu
Jembatan China–Korea Utara Resmi Dibuka Setelah Mangkrak 12 Tahun
Internasional

Jembatan China–Korea Utara Resmi Dibuka Setelah Mangkrak 12 Tahun

Jembatan China–Korea Utara resmi beroperasi setelah tertunda 12 tahun. Infrastruktur ini membuka peluang peningkatan perdagangan dan konektivitas kedua negara.

Rachmaddani Rizki Saputra· 2 hari lalu
Ribuan Mahasiswa Albania Turun ke Jalan, Desak Perdana Menteri Mundur
Internasional

Ribuan Mahasiswa Albania Turun ke Jalan, Desak Perdana Menteri Mundur

Gelombang protes mahasiswa di Albania makin memanas menuntut PM Edi Rama mundur. Unjuk rasa meluas ke berbagai kota diiringi isu korupsi dan sengketa lahan.

Mila Nabilah· 2 hari lalu
Pilot Laporkan Penumpukan Es Sebelum Pesawat Piper PA-46 Jatuh di Wisconsin
Internasional

Pilot Laporkan Penumpukan Es Sebelum Pesawat Piper PA-46 Jatuh di Wisconsin

Pesawat Piper PA-46 Malibu jatuh di Wisconsin dan menewaskan enam orang. Pilot sempat melaporkan penumpukan es sebelum kehilangan kontak.

Lusianti Dwi Cahyani· 3 hari lalu
Mirwan Suwarso Ingin Ubah Como 1907 Layaknya Disney, Sepak Bola Bukan Satu-satunya Bisnis
Internasional

Mirwan Suwarso Ingin Ubah Como 1907 Layaknya Disney, Sepak Bola Bukan Satu-satunya Bisnis

Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso ingin mengembangkan klub dengan model bisnis ala Disney, memadukan sepak bola, fashion, merchandise, media, dan pariwisata.

Ferdian Trikusuma· 5 hari lalu