AMERIKA SERIKAT — Amerika Serikat membuka kemungkinan melakukan operasi militer bersama Kolombia untuk menghadapi kelompok bersenjata dan jaringan narkotika di kawasan Amerika Latin. Rencana tersebut mencuat setelah Washington memperluas strategi pemberantasan organisasi yang telah ditetapkan sebagai kelompok teroris, termasuk melalui opsi operasi darat di wilayah mitra.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyampaikan rencana tersebut dalam pertemuan Koalisi Antikartel Amerika di Panama City, Panama, Rabu (12/8/2026). Pertemuan itu berlangsung setelah Kolombia bergabung dalam koalisi antinarkotika yang dipimpin oleh militer AS untuk menghadapi jaringan penyelundupan narkoba dan kelompok bersenjata.

Hegseth menyebut Kolombia telah memberikan ruang kerja sama untuk melakukan operasi bersama terhadap kelompok yang dianggap mengancam keamanan. Saat ditanya mengenai kemungkinan serangan terhadap kelompok seperti Tentara Pembebasan Nasional (ELN) dan sisa-sisa Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), Hegseth membenarkan bahwa opsi tersebut telah dibahas dengan pemerintah Kolombia.

“Organisasi teroris yang telah ditetapkan, bersama pemerintah mitra, akan menjadi target sah Pemerintah Amerika Serikat,” ujar Hegseth.

ELN merupakan salah satu kelompok yang telah masuk daftar organisasi teroris versi pemerintah AS. Washington menilai kelompok tersebut memiliki keterlibatan dalam aktivitas bersenjata dan jaringan narkotika yang menjadi perhatian keamanan regional.

Rencana kerja sama militer tersebut sejalan dengan pendekatan keamanan pemerintahan baru Presiden Kolombia Abelardo De La Espriella yang mengusung kebijakan lebih keras terhadap kelompok bersenjata dan perdagangan narkotika.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyambut kebijakan tersebut dengan mengumumkan bantuan keamanan senilai US$1 miliar atau sekitar Rp17,86 triliun pada Jumat (7/8/2026).

Dalam pidato pelantikannya, De La Espriella berkomitmen memberantas tanaman terlarang serta memperkuat operasi terhadap kelompok bersenjata. Ia juga menyatakan Kolombia akan bergabung dalam program Shield of the Americas yang digagas pemerintahan Trump.

Menteri Pertahanan Kolombia Jorge Eduardo Mora menyatakan kesiapan negaranya memperkuat kerja sama dengan AS. Menurutnya, posisi geografis Kolombia di kawasan Pasifik dan Karibia membuat negara tersebut memiliki peran penting dalam menghadapi jaringan penyelundupan narkotika.

“Sudah saatnya kartel narkoteroris menghadapi kekuatan dan kemampuan seluruh belahan bumi ini, yang dipimpin oleh Amerika Serikat,” ujar Mora.

Sementara itu, rencana operasi darat AS terhadap jaringan narkotika di Amerika Latin menjadi bagian dari perluasan operasi keamanan yang sebelumnya dilakukan terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba di kawasan Karibia dan Pasifik Timur. Operasi tersebut telah menuai kritik dari sejumlah pihak karena dianggap berpotensi melanggar prinsip hukum internasional dan proses hukum.

Hegseth menyatakan operasi tersebut dapat diperluas ke wilayah mana pun yang menjadi lokasi aktivitas kelompok penyelundup narkoba. Ia menyebut AS akan bekerja sama dengan negara mitra seperti Kolombia dan Ekuador untuk menghadapi organisasi perdagangan narkotika.

Koalisi Amerika Melawan Kartel yang dipimpin AS melibatkan sejumlah negara di kawasan, seperti Argentina, Bolivia, Chile, Kolombia, Ekuador, Honduras, dan Peru. Aliansi tersebut menjadi bagian dari strategi Washington dalam memperkuat koordinasi keamanan regional menghadapi jaringan kriminal lintas negara.