Runtut.com
InternasionalBreaking News

Eksplorasi Minyak, Gas, dan Mineral Berskala Besar Akan Dimulai di Greenland

Presiden AS, Donald Trump mengumumkan pada Rabu (14/10/206), akan melakukan eksplorasi berskala besar atas minyak, gas, dan mineral di Greenland.

3 menit baca
Greenland
Greenland — pexels.com

Presiden AS, Donald Trump mengumumkan pada Rabu (14/10/206), akan melakukan eksplorasi berskala besar atas minyak, gas, dan mineral di Greenland. Menurutnya, para ahli sepakat bahwa jumlah minyak yang mudah diakses jauh lebih besar disana daripada hampir semua wilayah daratan di mana pun di dunia, sementara dari segi keamanan baik dalam pertahanan atau serangan tidak ada yang menandingi Greenland. 

“Setiap serangan di masa depan terhadap AS harus melewati Greenland, di mana sistem pertahanan kami akan secara rutin menembak jatuh drone, rudal, atau bentuk senjata apa pun yang bahkan belum terpikirkan,” tulis Trump dalam akun X miliknya.

Di sisi lain, Greenland menentang klaim tersebut. Dalam wawancaranya bersama CNN, Wakil Menteri Pertambangan Greenland, Jørgen Hammeken-Holm mengakui adanya kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan AS, namun hal itu sangat jauh dari eksplorasi berskala besar.

“Saat ini ada banyak proyek eksplorasi berskala kecil yang sedang berlangsung, namun proyek-proyek ini mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum dapat beroperasi,” tambahnya.

Hasrat AS Menguasai Greenland

Greenland adalah wilayah Arktik yang luas dan otonom, dibawah kekuasaan Denmark. Sejak masa jabatan pertamanya di tahun 2019, Trump sudah mengemukakan ketertarikannya pada Greenland. Ia pun menegaskan kembali hal tersebut pada tahun 2025. Rencana ini sebagian besar dianggap tidak serius. Namun, hal ini berubah ketika AS melancarkan serangan pada ibu kota Venezuela.

Pada 3 Januari, AS melancarkan serangan militer dan menggulingkan presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Pemimpin Eropa melihat hal ini sebagai unjuk kekuatan secara terang-terangan yang berpotensi meruntuhkan NATO. Gema hasrat AS menguasai Greenland semakin keras, prospek bahwa negara adidaya ini akan mencaplok Greenland memicu ketegangan antara AS dengan sekutu-sekutu NATO.

Trump mengancam memberlakukan tarif kepada negara-negara Eropa apabila tidak mencapai kesepakatan terkait masa depan Greenland. Setelah seminggu yang penuh ketegangan, kesepakatan berhasil dicapai dan Trump membatalkan rencana tarif tersebut.

Kesepakatan AS dan Denmark

Pada September 2026, AS dan Denmark mengumumkan telah menandatangani perjanjian damai atas wilayah Greenland, setelah berbulan-bulan Trump mengancam akan mengambil alih wilayah tersebut demi keamanan nasional negara, tepatnya untuk tujuan pertahanan dan kekayaan mineral.

Teks perjanjian ini tidak pernah dirilis, namun BBC melaporkan, kesepakatan ini mencakup peraturan yang melarang musuh AS mempertahankan kehadiran militer di Greenland atau melakukan investasi sensitif tanpa persetujuan tertulis secara tegas dari AS.

Juru bicara NATO mengatakan bahwa NATO menyambut baik kesepakatan tersebut. “Kesepakatan yang dibuat membantu meningkatkan keamanan, stabilitas, dan kerja sama di kawasan penting ini,” katanya mengutip BBC.

Mengapa AS Menginginkan Greenland

Selain karena tujuan pertahanan dan kekayaan mineral. Sikap Trump dipicu oleh deklarasi China untuk meningkatkan pengaruhnya di negara-negara dekat Artik pada 2018. Negeri Tirai Bambu itu berencana membangun Jalur Sutra Kutub yang menjadi bagian dari program bantuan pembangunnya, Belt and Road Initiative. 

Lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menolak langkah tersebut dengan mengatakan, “Apakah kita ingin Samudra Arktik berubah menjadi Laut Tiongkok Selatan yang baru yang dipenuhi militerisasi dan sengketa klaim teritorial?”

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Calvin Verdonk Ukir Sejarah, Jadi WNI Pertama yang Tampil di Liga Champions Eropa
Internasional

Calvin Verdonk Ukir Sejarah, Jadi WNI Pertama yang Tampil di Liga Champions Eropa

Calvin Verdonk mencatat sejarah sebagai pemain berstatus WNI pertama yang tampil di Liga Champions saat Lille menghadapi Arsenal di Emirates Stadium.

Ferdian Trikusuma· 15 jam lalu
Atletico Madrid Hantam MU 2-0, Tren Negatif Setan Merah Kian Berlanjut
Internasional

Atletico Madrid Hantam MU 2-0, Tren Negatif Setan Merah Kian Berlanjut

Manchester United kalah 0-2 dari Atletico Madrid di Liga Champions 2026/2027. Tim "Setan Merah" perpanjang tren negatif dalam 5 laga terakhir di semua kompetisi

Ferdian Trikusuma· 15 jam lalu
Amerika Latin dan Karibia Jadi Model Inklusi Pengungsi Menurut Bank Dunia-UNHCR
Internasional

Amerika Latin dan Karibia Jadi Model Inklusi Pengungsi Menurut Bank Dunia-UNHCR

Isu pengungsi telah menjadi perdebatan global. Ada negara yang bersikap terbuka dan menolak.

Andini Putri Lestari· 1 hari lalu
Ribuan Mahasiswa Brasil Turun ke Jalan Tolak Dinasti Bolsonaro
Internasional

Ribuan Mahasiswa Brasil Turun ke Jalan Tolak Dinasti Bolsonaro

Ribuan mahasiswa Brasil berunjuk rasa di Rio de Janeiro menolak kemungkinan terpilihnya Flávio Bolsonaro, di tengah persaingan menuju putaran kedua pemilu.

Mila Nabilah· 1 hari lalu
Ancaman Baru Houthi Lontarkan Serangan ke Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang
Internasional

Ancaman Baru Houthi Lontarkan Serangan ke Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang

Houthi mengancam bandara-bandara Arab Saudi setelah serangan di Riyadh menewaskan 12 orang dan melukai ratusan lainnya, memicu gangguan penerbangan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 2 hari lalu
Wuhan Open 2026 Dimulai, Aryna Sabalenka Bidik Gelar Keempat di Tengah Absennya Sejumlah Bintang
Internasional

Wuhan Open 2026 Dimulai, Aryna Sabalenka Bidik Gelar Keempat di Tengah Absennya Sejumlah Bintang

Wuhan Open 2026 berlangsung 12–18 Oktober dengan Aryna Sabalenka sebagai unggulan pertama. Sejumlah bintang mundur, membuka persaingan gelar WTA 1000.

Mila Nabilah· 2 hari lalu