Runtut.com

Ribuan Mahasiswa Brasil Turun ke Jalan Tolak Dinasti Bolsonaro

Ribuan mahasiswa Brasil berunjuk rasa di Rio de Janeiro menolak kemungkinan terpilihnya Flávio Bolsonaro, di tengah persaingan menuju putaran kedua pemilu.

4 menit baca
Aksi menolak kembalinya dinasti Bolsonero.
Aksi mahasiswa di Rio de Janeiro berlangsung setelah Flávio Bolsonaro memperoleh suara terbanyak dalam putaran pertama pemilihan presiden. — Foto: Instagram/@riodejaneiro_hoje

RIO DE JANEIRO - Ribuan mahasiswa dan demonstran turun ke jalan di pusat Kota Rio de Janeiro, Brasil, pada Rabu, 7 Oktober 2026, untuk memprotes kemungkinan terpilihnya Flávio Bolsonaro sebagai presiden. Putra mantan Presiden Jair Bolsonaro itu unggul dalam putaran pertama pemilihan presiden Brasil pada 4 Oktober, sehingga akan berhadapan dengan Presiden petahana Luiz Inácio Lula da Silva pada putaran kedua, 25 Oktober mendatang.

Aksi tersebut melibatkan pelajar, mahasiswa, guru, dan perwakilan gerakan sosial. Para demonstran membawa spanduk serta meneriakkan slogan yang menyerukan perlindungan demokrasi dan kedaulatan Brasil. Mereka juga menolak kembalinya kekuatan politik keluarga Bolsonaro ke pemerintahan federal, di tengah kekhawatiran mengenai hak-hak kelompok minoritas dan warisan kebijakan pemerintahan sebelumnya.

Associated Press (AP) melaporkan bahwa massa bergerak melalui kawasan pusat kota, dari sekitar Gereja Candelária menuju Cinelândia. Demonstrasi berlangsung selama kurang lebih empat jam. Hingga laporan tersebut diterbitkan, tidak ada angka pasti mengenai jumlah peserta yang dapat diverifikasi secara independen.

Penolakan Kembalinya Politik Bolsonaro

Aksi mahasiswa di Rio de Janeiro berlangsung setelah Flávio Bolsonaro memperoleh suara terbanyak dalam putaran pertama pemilihan presiden. Data resmi Tribunal Superior Eleitoral (TSE), lembaga pemilihan umum Brasil, mencatat Flávio meraih 56.104.268 suara atau 47,03 persen suara sah. Sementara itu, Lula memperoleh 53.876.617 suara atau 45,16 persen.

Karena tidak ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50 persen suara sah, keduanya akan berkompetisi dalam putaran kedua pada 25 Oktober 2026.

Bagi para demonstran, persaingan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan pergantian presiden, tetapi juga masa depan arah politik Brasil. Sebagian peserta menyampaikan kekhawatiran terhadap kemungkinan berlanjutnya agenda politik yang diasosiasikan dengan Jair Bolsonaro, termasuk sikap pemerintahannya terhadap pandemi COVID-19, hak-hak minoritas, serta hubungan Brasil dengan Amerika Serikat.

Talita Amaral, mahasiswa ilmu lingkungan berusia 19 tahun yang dikutip AP, mengatakan bahwa aksi tersebut dilakukan untuk memperjuangkan Brasil, bukan sekadar mendukung Lula. Ia mengenakan seragam tim nasional sepak bola Brasil berwarna kuning dan hijau, warna yang dalam beberapa tahun terakhir juga identik dengan demonstrasi pendukung Bolsonaro.

Penggunaan warna nasional itu menjadi bagian dari upaya sebagian demonstran untuk menegaskan bahwa simbol Brasil tidak hanya mewakili satu kelompok politik.

Jair Bolsonaro dan Perkara Upaya Kudeta

Jair Bolsonaro, presiden Brasil periode 2019–2022, masih menjadi figur sentral dalam pertarungan politik negara tersebut meskipun tidak lagi menjabat. Pada September 2025, Mahkamah Agung Brasil menjatuhkan hukuman 27 tahun tiga bulan penjara kepadanya dalam perkara persekongkolan untuk melakukan kudeta setelah kekalahan pemilihan presiden 2022.

Bolsonaro membantah melakukan kesalahan dan menyatakan bahwa perkara tersebut merupakan bentuk penganiayaan politik. Tim hukumnya juga menyatakan akan menempuh upaya hukum terhadap putusan itu. Perkembangan berikutnya menempatkan Bolsonaro dalam status menjalani hukuman, sementara pengaruh politiknya tetap terlihat melalui pencalonan putranya.

Kasus tersebut menjadi salah satu latar belakang penting dalam aksi-aksi yang menentang kembalinya keluarga Bolsonaro ke kekuasaan. Namun, perlu dibedakan antara fakta putusan pengadilan terhadap Jair Bolsonaro dan pandangan demonstran mengenai dampak politik jika Flávio Bolsonaro terpilih sebagai presiden.

Aksi September 2025: Menolak Amnesti dan Kekebalan Hukum

Penolakan terhadap Bolsonaro bukan fenomena baru. Pada 21 September 2025, puluhan ribu orang berdemonstrasi di sejumlah kota Brasil untuk menentang upaya politik yang dinilai dapat memberikan amnesti kepada Bolsonaro dan pendukungnya, serta perubahan konstitusi yang akan memperluas perlindungan hukum bagi anggota parlemen.

Reuters melaporkan bahwa aksi di Avenida Paulista, São Paulo, diikuti sekitar 40.000 orang berdasarkan perkiraan peneliti dari Universitas São Paulo. Di Rio de Janeiro, demonstrasi berlangsung di kawasan Pantai Copacabana dan disertai pertunjukan sejumlah musisi Brasil.

Peserta membawa pesan seperti “No Amnesty” atau “Tidak Ada Amnesti”. Mereka menilai bahwa upaya memberikan pengampunan kepada pihak yang terlibat dalam serangan terhadap demokrasi berisiko memperlemah pertanggungjawaban hukum.

Pada 8 Januari 2023, pendukung Bolsonaro menyerbu gedung Kongres Nasional, Istana Planalto, dan Mahkamah Agung di Brasília. Serangan tersebut terjadi seminggu setelah Lula dilantik sebagai presiden, menyusul kemenangan elektoralnya atas Bolsonaro pada 2022.

Peristiwa itu menjadi bagian penting dari penyelidikan yang berujung pada perkara kudeta terhadap mantan presiden tersebut.

Pertarungan Politik Menjelang Putaran Kedua

Demonstrasi mahasiswa pada Oktober 2026 berlangsung ketika persaingan elektoral Brasil memasuki fase penentuan. Keunggulan suara Flávio Bolsonaro pada putaran pertama menunjukkan bahwa basis politik yang mendukung keluarga Bolsonaro masih memiliki pengaruh signifikan.

Di sisi lain, aksi mahasiswa dan gerakan sosial memperlihatkan bahwa terdapat kelompok masyarakat yang secara terbuka menolak kemungkinan kembalinya politik Bolsonaro ke pemerintahan. Isu yang mereka angkat meliputi demokrasi, hak kelompok minoritas, kedaulatan nasional, dan evaluasi terhadap kebijakan pemerintahan Jair Bolsonaro pada 2019-2022.

Perkembangan ini menempatkan pemilihan presiden Brasil bukan hanya sebagai kompetisi dua kandidat, tetapi juga sebagai arena perdebatan mengenai arah institusi demokrasi, pertanggungjawaban hukum, dan masa depan kebijakan publik negara tersebut.

Putaran kedua pada 25 Oktober akan menentukan siapa yang memimpin Brasil untuk periode berikutnya. Sementara itu, aksi di jalanan memperlihatkan bahwa perdebatan mengenai warisan politik Jair Bolsonaro masih menjadi bagian penting dari kehidupan publik Brasil.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Ancaman Baru Houthi Lontarkan Serangan ke Bandara Riyadh Tewaskan 12 OrangBreaking
Internasional

Ancaman Baru Houthi Lontarkan Serangan ke Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang

Houthi mengancam bandara-bandara Arab Saudi setelah serangan di Riyadh menewaskan 12 orang dan melukai ratusan lainnya, memicu gangguan penerbangan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 13 jam lalu
Wuhan Open 2026 Dimulai, Aryna Sabalenka Bidik Gelar Keempat di Tengah Absennya Sejumlah Bintang
Internasional

Wuhan Open 2026 Dimulai, Aryna Sabalenka Bidik Gelar Keempat di Tengah Absennya Sejumlah Bintang

Wuhan Open 2026 berlangsung 12–18 Oktober dengan Aryna Sabalenka sebagai unggulan pertama. Sejumlah bintang mundur, membuka persaingan gelar WTA 1000.

Mila Nabilah· 1 hari lalu
Manchester City Bantai Liverpool 3-0 di Anfield, Kartu Merah Gravenberch Jadi Titik Balik
Internasional

Manchester City Bantai Liverpool 3-0 di Anfield, Kartu Merah Gravenberch Jadi Titik Balik

Manchester City mengalahkan Liverpool 3-0 di Anfield. Haaland, Doku, dan Cherki mencetak gol setelah Ryan Gravenberch menerima kartu merah pada babak kedua.

Mila Nabilah· 1 hari lalu
Torino vs Udinese: Tuan Rumah Dibayangi Tren Buruk, Prediksi Skor Mengarah ke Hasil Imbang
Internasional

Torino vs Udinese: Tuan Rumah Dibayangi Tren Buruk, Prediksi Skor Mengarah ke Hasil Imbang

Torino menjamu Udinese di Serie A dengan kondisi pemain yang belum sepenuhnya fit. Simak prediksi susunan pemain, statistik, dan peluang skor akhir.

Mila Nabilah· 1 hari lalu
Mengenal Houthi, Gerakan Zaidi yang Berubah Menjadi Kekuatan Militer Yaman
Internasional

Mengenal Houthi, Gerakan Zaidi yang Berubah Menjadi Kekuatan Militer Yaman

Houthi berkembang dari gerakan politik Zaidi menjadi kekuatan militer Yaman yang kini berpengaruh di pesisir Laut Merah dan Bab el-Mandeb.

Rachmaddani Rizki Saputra· 4 hari lalu
Dua Bandara Saudi Diserang Houthi, Serangan Balasan Sasar 82 Target di Yaman
Internasional

Dua Bandara Saudi Diserang Houthi, Serangan Balasan Sasar 82 Target di Yaman

Serangan Houthi ke dua bandara Saudi menewaskan tiga orang dan melukai 36 lainnya. Koalisi Saudi kemudian mengklaim menghancurkan 82 target di Yaman.

Rachmaddani Rizki Saputra· 4 hari lalu