RIO DE JANEIRO - Ribuan mahasiswa dan demonstran turun ke jalan di pusat Kota Rio de Janeiro, Brasil, pada Rabu, 7 Oktober 2026, untuk memprotes kemungkinan terpilihnya Flávio Bolsonaro sebagai presiden. Putra mantan Presiden Jair Bolsonaro itu unggul dalam putaran pertama pemilihan presiden Brasil pada 4 Oktober, sehingga akan berhadapan dengan Presiden petahana Luiz Inácio Lula da Silva pada putaran kedua, 25 Oktober mendatang.
Aksi tersebut melibatkan pelajar, mahasiswa, guru, dan perwakilan gerakan sosial. Para demonstran membawa spanduk serta meneriakkan slogan yang menyerukan perlindungan demokrasi dan kedaulatan Brasil. Mereka juga menolak kembalinya kekuatan politik keluarga Bolsonaro ke pemerintahan federal, di tengah kekhawatiran mengenai hak-hak kelompok minoritas dan warisan kebijakan pemerintahan sebelumnya.
Associated Press (AP) melaporkan bahwa massa bergerak melalui kawasan pusat kota, dari sekitar Gereja Candelária menuju Cinelândia. Demonstrasi berlangsung selama kurang lebih empat jam. Hingga laporan tersebut diterbitkan, tidak ada angka pasti mengenai jumlah peserta yang dapat diverifikasi secara independen.
Penolakan Kembalinya Politik Bolsonaro
Aksi mahasiswa di Rio de Janeiro berlangsung setelah Flávio Bolsonaro memperoleh suara terbanyak dalam putaran pertama pemilihan presiden. Data resmi Tribunal Superior Eleitoral (TSE), lembaga pemilihan umum Brasil, mencatat Flávio meraih 56.104.268 suara atau 47,03 persen suara sah. Sementara itu, Lula memperoleh 53.876.617 suara atau 45,16 persen.
Karena tidak ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50 persen suara sah, keduanya akan berkompetisi dalam putaran kedua pada 25 Oktober 2026.
Bagi para demonstran, persaingan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan pergantian presiden, tetapi juga masa depan arah politik Brasil. Sebagian peserta menyampaikan kekhawatiran terhadap kemungkinan berlanjutnya agenda politik yang diasosiasikan dengan Jair Bolsonaro, termasuk sikap pemerintahannya terhadap pandemi COVID-19, hak-hak minoritas, serta hubungan Brasil dengan Amerika Serikat.
Talita Amaral, mahasiswa ilmu lingkungan berusia 19 tahun yang dikutip AP, mengatakan bahwa aksi tersebut dilakukan untuk memperjuangkan Brasil, bukan sekadar mendukung Lula. Ia mengenakan seragam tim nasional sepak bola Brasil berwarna kuning dan hijau, warna yang dalam beberapa tahun terakhir juga identik dengan demonstrasi pendukung Bolsonaro.
Penggunaan warna nasional itu menjadi bagian dari upaya sebagian demonstran untuk menegaskan bahwa simbol Brasil tidak hanya mewakili satu kelompok politik.
Jair Bolsonaro dan Perkara Upaya Kudeta
Jair Bolsonaro, presiden Brasil periode 2019–2022, masih menjadi figur sentral dalam pertarungan politik negara tersebut meskipun tidak lagi menjabat. Pada September 2025, Mahkamah Agung Brasil menjatuhkan hukuman 27 tahun tiga bulan penjara kepadanya dalam perkara persekongkolan untuk melakukan kudeta setelah kekalahan pemilihan presiden 2022.
Bolsonaro membantah melakukan kesalahan dan menyatakan bahwa perkara tersebut merupakan bentuk penganiayaan politik. Tim hukumnya juga menyatakan akan menempuh upaya hukum terhadap putusan itu. Perkembangan berikutnya menempatkan Bolsonaro dalam status menjalani hukuman, sementara pengaruh politiknya tetap terlihat melalui pencalonan putranya.








