Pejuang Houthi mengikuti mobilisasi di Sanaa, Yaman. Kelompok ini memperluas pengaruhnya hingga kawasan strategis Laut Merah dan Bab el-Mandeb. — Getty Images/@Mohammed Huwais
RUNTUT.COM – Houthi kini menjadi salah satu aktor utama dalam konflik Yaman setelah berhasil memperluas pengaruhnya hingga kawasan pesisir Laut Merah dan titik strategis Bab el-Mandeb.
Penguasaan wilayah tersebut membuat konflik yang semula berakar pada perebutan kekuasaan di Yaman berkembang menjadi persoalan keamanan pelayaran dan energi yang berdampak ke kawasan lebih luas.
Houthi secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah atau “Pendukung Allah”. Mulanya, gerakan ini muncul pada 1990-an dari wilayah Yaman utara dan berakar pada komunitas Muslim Syiah Zaidi. Nama Houthi diambil dari pendirinya, Hussein al-Houthi. Setelah kematiannya pada 2004, kepemimpinan kelompok tersebut beralih kepada saudaranya, Abdul Malik al-Houthi.
Gerakan ini awalnya berkembang sebagai kelompok politik dan keagamaan yang menentang pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh. Houthi kemudian mengambil peran lebih besar setelah gelombang Arab Spring mengguncang Yaman pada 2011. Tiga tahun kemudian, mereka merebut Sanaa dan secara bertahap memperluas kendali ke sebagian besar wilayah utara.
Saat ini, wilayah yang dikuasai Houthi mencakup bagian yang relatif kecil dibandingkan keseluruhan luas Yaman, tetapi mencakup kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi. Kelompok tersebut juga memiliki kemampuan militer berupa rudal dan drone yang memungkinkan serangan dilakukan melampaui garis depan.
Arab Saudi mulai melakukan intervensi militer langsung pada 2015 melalui koalisi negara-negara Arab untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Riyadh melihat Houthi sebagai ancaman keamanan karena kelompok tersebut memiliki hubungan dekat dengan Iran, rival regional Saudi.
Perang selama bertahun-tahun tidak berhasil mengusir Houthi dari wilayah yang telah mereka kuasai. Konflik juga menyebabkan krisis kemanusiaan besar di Yaman. Gencatan senjata pada 2022 kemudian menurunkan intensitas pertempuran, meskipun tidak menyelesaikan persoalan politik antara kedua pihak.
Foto kelompok pejuang Houthi — Getty Images/@
Situasi kembali berubah setelah perang Gaza pecah pada 2023. Houthi mulai menyerang kapal di Laut Merah dan Teluk Aden serta meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel. Kelompok itu menyatakan serangan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina.
Eskalasi terbaru terjadi sejak Juli 2026 ketika Houthi mengumumkan embargo terhadap pelayaran yang terkait dengan Arab Saudi. Kelompok tersebut kemudian menyerang kapal tanker dan fasilitas Saudi. Pada September, Houthi memperluas pengaruhnya di pesisir Laut Merah, termasuk merebut Mocha dan posisi di sekitar Bab el-Mandeb.
Bab el-Mandeb menjadi penting karena merupakan jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Perubahan kendali di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pelayaran energi dan perdagangan internasional, terutama ketika jalur lain di kawasan, termasuk Selat Hormuz, menghadapi gangguan.
Arab Saudi dan negara-negara Barat menuduh Iran memasok senjata, teknologi, serta bantuan kepada Houthi. Iran membantah menjadi pemasok senjata langsung dan menyatakan dukungannya kepada Houthi bersifat politik.
Namun, sejumlah penelitian dan laporan menunjukkan adanya hubungan dalam pengembangan kemampuan militer kelompok tersebut. Laporan Conflict Armament Research pada 2026 menemukan komponen senjata yang dikaitkan dengan jaringan pasokan Iran dan teknologi yang memungkinkan Houthi merakit sebagian sistem persenjataannya di Yaman.
Reuters juga melaporkan pada September bahwa sumber dari Yaman, Iran, dan kawasan menyebut adanya dukungan serta panduan dari Garda Revolusi Iran dalam operasi Houthi di pesisir Laut Merah. Pemerintah Iran membantah mengarahkan operasi militer kelompok tersebut.
Dengan kemampuan militer yang semakin besar dan posisi geografis yang strategis, Houthi kini menjadi bagian penting dari dinamika keamanan Timur Tengah.
Perkembangan konflik selanjutnya akan menentukan apakah Bab el-Mandeb kembali sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah Yaman atau tetap menjadi salah satu titik tekan utama Houthi terhadap Saudi dan sekutunya.