Perang di Timur Tengah ganggu rantai pasok global. Simak 5 dampak langsungnya terhadap harga BBM, biaya logistik, hingga inflasi di Indonesia.
RUNTUT.COM – Eskalasi konflik di Timur Tengah tidak hanya memicu ketegangan geopolitik kawasan, tetapi juga mengguncang rantai pasok global secara meluas. Meski terjadi jauh dari wilayah Indonesia, gangguan pada rute pelayaran internasional serta harga komoditas utama dunia ini memberikan dampak berantai yang terasa langsung pada perekonomian dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Sebagai negara yang bergantung pada rute perdagangan laut dunia dan berstatus net oil importer (pengimpor minyak), Indonesia menghadapi sejumlah tantangan nyata akibat situasi ini.
1. Lonjakan Harga Energi dan Tekanan Subsidi
Timur Tengah merupakan pemasok utama minyak mentah dunia. Ketika rantai distribusi terganggu akibat ancaman keamanan di rute vital seperti Selat Hormuz, harga minyak mentah global berpotensi melonjak tajam melampaui asumsi APBN.
Bagi Indonesia, kondisi ini menghadirkan dilema besar. Pemerintah harus memilih antara menambah alokasi subsidi energi agar harga BBM tetap terjangkau, atau melakukan penyesuaian harga di tingkat konsumen yang berisiko memicu kenaikan harga barang dan jasa lainnya.
Hal ini seperti yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kantor Bank Indonesia (BI), Jakarta, Selasa (3/11/2026). Ia mengakui bahwa tren lonjakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) di pasar global telah menambah beban anggaran APBN 2026.
2. Kenaikan Biaya Logistik Internasional
Gangguan di jalur laut utama, seperti kawasan Laut Merah dan Terusan Suez, memaksa kapal-kapal kargo mengalihkan rute pelayaran mengitari Benua Afrika. Pengalihan rute ini menambah waktu tempuh hingga dua minggu lebih lama.
Selain memakan waktu, pengalihan rute memicu lonjakan biaya asuransi pengiriman dan tarif sewa kontainer (freight rate).
Mengutip data terbaru dari Kontan, lonjakan ongkos logistik ini sangat ekstrem. Biaya pengiriman minyak mentah yang mulanya hanya berkisar US$ 3–US$ 4 per barel kini meroket hingga tembus lebih dari US$ 30 per barel. Biaya asuransi pengiriman dari kawasan Teluk juga ikut melonjak dari US$ 0,10 menjadi lebih dari US$ 3 per barel.
Akibatnya, biaya distribusi bahan baku yang diimpor maupun barang ekspor dari Indonesia mengalami peningkatan signifikan.
3. Ancaman Inflasi Barang Impor
Kenaikan biaya pengapalan dan kelangkaan bahan baku industri global berdampak langsung pada harga jual di dalam negeri. Indonesia masih mengimpor sejumlah bahan baku penting, mulai dari komponen manufaktur, gandum, hingga bahan baku pupuk.
Ketika biaya pengadaan barang-barang tersebut naik, produsen domestik terpaksa menyesuaikan harga jual. Fenomena inflasi barang impor ini pada akhirnya membebani daya beli masyarakat sehari-hari.
Ancaman ini sejatinya telah diperingatkan sejak lama. Sebagaimana dilaporkan BBC News Indonesia sejak April lalu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah terbukti memicu risiko terhadap stabilitas logistik global mulai dari lonjakan biaya bahan baku plastik hingga produk kosmetik.
4. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
Meningkatnya risiko geopolitik mendorong investor global menarik modal dari negara berkembang dan mengalihkannya ke aset yang dinilai lebih aman (safe-haven), seperti Dolar AS dan emas. Tekanan sentimen ini berpotensi melemahkan nilai tukar Rupiah. Pelemahan Rupiah membuat biaya tagihan impor energi dan bahan baku industri menjadi jauh lebih mahal.
Seperti yang diulas dalam laporan pasar keuangan CNBC Indonesia, tekanan sentimen global ini berpotensi menekan dan melemahkan nilai tukar Rupiah. Dampaknya langsung terasa pada pembengkakan biaya tagihan impor energi serta bahan baku industri yang, menurut catatan Kontan, membuat biaya produksi di dalam negeri menjadi jauh lebih mahal.
5. Hambatan pada Ekspor Komoditas Nasional
Keterbatasan kontainer dan penundaan jadwal kapal juga memengaruhi pengiriman komoditas unggulan Indonesia seperti minyak kelapa sawit (CPO), produk tekstil, dan alas kaki ke pasar Eropa serta Timur Tengah. Keterlambatan pengiriman ini berisiko menurunkan margin keuntungan para pelaku usaha eksportir nasional.
Dalam laporan industri Kontan, keterlambatan pengiriman logistik global ini berisiko menurunkan margin keuntungan para pelaku usaha eksportir nasional akibat pembengkakan biaya muat dan sewa kapal.
Saling keterkaitan dalam sistem perdagangan global membuat dampak Perang Timur Tengah tidak terbatas pada kawasan konflik saja. Langkah penguatan daya tahan ekonomi domestik, efisiensi rantai pasok lokal, serta kehati-hatian dalam kebijakan fiskal menjadi kunci utama bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global saat ini.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab