"Syarat Teheran harus dipenuhi jika AS ingin Hormuz dibuka. Pembahasan nuklir hanya bisa dimulai setelahnya."
Pejabat senior Iran mengatakan bahwa Iran dan Amerika Serikat masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri perang mereka, meskipun ada upaya diplomatik untuk mencegah kemungkinan kembalinya konflik aktif setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat, Selasa (3/11/2026).
“Mediator bekerja keras untuk mempersempit kesenjangan antara Teheran dan Washington. Syarat Teheran harus dipenuhi jika AS ingin Hormuz dibuka. Pembahasan nuklir hanya bisa dimulai setelahnya dan Teheran tidak akan menerima tuntutan berlebihan Washington,” katanya mengutip Al Arabiya.
Mediasi yang digawangi Qatar telah dilaksanakan selama delapan hari terakhir, namun belum mengarah pada kata sepakat.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Ghalibaf mengatakan bahwa bola ada di tangan Amerika Serikat setelah Teheran memberikan respon yang kuat dan rasional kepada Washington.
“Musuh berusaha memaksa bangsa Iran tunduk melalui ancaman dan aksi militer, tetapi mereka sangat keliru, Iran tidak akan tunduk,” kata Ghalibaf.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa respons Teheran terhadap setiap kesalahan perhitungan oleh Amerika Serikat tidak dapat diprediksi dan mengabaikan batasan geografis.
Pada Senin, Amerika Serikat dilaporkan menyerang Pulau Qeshm di Iran. Kantor berita negara Iran IRNA melaporkan terdengar lima ledakan berturut-turut di pulau tersebut, dan beberapa penduduk melaporkan melihat dua pesawat terbang di langitnya. Di hari yang sama, Donald Trump mengungkapkan keraguannya apakah akan melanjutkan ancaman serangan militer terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu pada Selasa.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab