RUNTUT.COM – Perang siber antara Rusia dan Ukraina kembali menunjukkan eskalasinya setelah aplikasi peringatan darurat resmi di kedua negara dilaporkan mengalami peretasan masif secara bersamaan pada 1-2 November 2026.
Kendati demikian, alih-alih memicu kepanikan massal, pesan-pesan palsu yang disebarkan oleh para peretas justru ditanggapi secara dingin oleh warga sipil yang telah lelah menghadapi situasi konflik bertahun-tahun, bahkan dijadikan bahan meme di media sosial.
Insiden bermula ketika aplikasi peringatan dini serangan udara di Ukraina diretas pada Minggu malam. Melalui sistem notifikasi aplikasi tersebut, peretas menyebarkan klaim palsu bahwa ibu kota Kyiv dan berbagai wilayah lainnya menghadapi ancaman serangan nuklir, bahan kimia, hingga pertempuran darat.
Pesan tersebut juga mengklaim bahwa rudal hipersonik Oreshnik milik Rusia telah dikerahkan. Menanggapi hal tersebut, Angkatan Udara Ukraina segera mengklarifikasi melalui Telegram bahwa sistem aplikasi mengalami gangguan akibat pengaruh eksternal, menegaskan tidak ada ancaman radiasi, dan meminta warga tetap tenang.
Iran: Iran-Amerika Serikat Masih Jauh dari Sepakat untuk Akhiri Perang4 November 2026 pukul 19.48Stepan Tanasiychuk selaku pemimpin proyek Air Raid Alert menyatakan bahwa pemulihan sistem aplikasi sedang dilakukan secara bertahap. Pihaknya juga berkomitmen meningkatkan pengamanan untuk mencegah insiden serupa terulang, mengingat dampak psikologis dan ketidaknyamanan yang dirasakan publik.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, kejadian serupa menimpa Rusia. Aplikasi seluler resmi milik Kementerian Situasi Darurat Rusia (Emercom) diserang oleh gelombang peretasan siber yang menyebabkan tersebarnya informasi palsu ke 33 wilayah di negara tersebut. Pesan peringatan palsu itu mengklaim bahwa hulu ledak nuklir telah diluncurkan ke seluruh wilayah Rusia, lengkap dengan peringatan bernada provokatif.







