Binance dibobol Rp114,98 triliun akibat serangan siber canggih dan rekayasa sosial, manajemen pastikan dana pengguna diamankan.
RUNTUT.COM – Bursa mata uang kripto terbesar dunia, Binance, menjadi sasaran pembobolan digital bernilai fantastis. Serangan siber berskala masif ini kembali mengguncang industri keuangan digital global.
Berdasarkan laporan investigasi awal yang dirilis perusahaan pada awal November 2026, kerugian total akibat insiden tersebut mencapai 6,34 miliar dolar AS atau setara dengan kisaran Rp114,98 triliun.
Insiden ini langsung menarik perhatian dunia internasional mengingat tingkat kecanggihan metode serangan yang melibatkan teknik rekayasa sosial serta dugaan kuat keterlibatan sindikat peretas asal Korea Utara.
Operasi peretasan tersebut ternyata dirancang secara sistematis dalam jangka waktu panjang, yakni melalui serangkaian tahapan rumit yang dimulai sejak pertengahan tahun. Dalam melancarkan aksinya, para peretas tidak sekadar mengandalkan celah teknis perangkat lunak, tetapi juga menyasar faktor manusia di dalam organisasi.
Modus operandi yang digunakan tergolong sangat rapi karena memanfaatkan skema wawancara kerja palsu untuk menjerat para insinyur pengembang internal perusahaan melalui platform pencarian kerja profesional.
Pada tahap awal insiden, pelaku mendekati seorang staf pengembang yang bertugas di bagian pengelolaan infrastruktur dompet digital dengan dalih proses rekrutmen korporat. Selama sesi wawancara daring berlangsung, pihak penyusup menggunakan berbagai teknik manipulasi psikologis untuk membangun kepercayaan korban.
Puncak dari rekayasa sosial tersebut terjadi ketika korban diminta mengunduh perangkat lunak tertentu ke dalam komputer kerjanya dengan dalih menyelesaikan tugas uji coba pra-kerja. Perangkat lunak tiruan itu ternyata telah disisipi kode berbahaya yang mampu mengeksploitasi celah keamanan sistem tanpa terdeteksi oleh perangkat pemindai standar.
Melalui akses komputer yang telah terinfeksi malware tersebut, para peretas secara bertahap memperluas penetrasi ke dalam sistem jaringan internal perusahaan. Mereka mengeksploitasi perangkat kecerdasan buatan internal serta mengalihkan hak akses operasional antar-karyawan hingga akhirnya berhasil menguasai kunci autentikasi utama.
Penguasaan kunci tersebut memungkinkan pelaku melancarkan aksi penarikan dana secara tidak sah dalam waktu sangat singkat sebelum sistem keamanan mendeteksi anomali transaksi tersebut.
Kendati demikian, respons cepat langsung ditunjukkan oleh tim manajemen keamanan internal Binance. Perusahaan segera mengambil langkah mitigasi darurat dengan memutus jalur komunikasi sistem yang terdampak serta memperbarui seluruh kode autentikasi dalam hitungan jam sejak gelombang penarikan terdeteksi.
Melalui kerja sama erat dengan berbagai pihak penerbit aset digital dan otoritas bursa terkait, sekitar 2,85 miliar dolar AS dari total aset yang dicuri berhasil dibekukan dan diamankan kembali.
Selain itu, pihak manajemen memastikan bahwa lebih dari 98% sisa kerugian yang dialami pengguna ditanggung sepenuhnya dengan mengalirkan cadangan dana darurat internal perusahaan serta dana asuransi lindung nilai.
Usai kejadian ini, Binance menyatakan komitmen penuh untuk memperketat protokol keamanan siber secara menyeluruh, termasuk memperbarui sistem audit independen eksternal serta memperkuat investasi pada teknologi deteksi berbasis kecerdasan buatan demi mengantisipasi ancaman spionase digital global di masa mendatang.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab