Runtut.com

Dua Hari di Rumah Baru, Kisah Musofa si Badak Jawa

Musofa, badak Jawa pertama yang dipindahkan di Ujung Kulon, mati dua hari kemudian. Kisah translokasi, populasi yang diperdebatkan, dan harapan baru.

3 menit baca
Dua Hari di Rumah Baru, Kisah Musofa si Badak Jawa
Musofa si badak Jawa di hutan Taman Nasional Ujung Kulon — Dok. TNUK

Label spesies Rhinoceros sondaicus · badak Jawa · hanya hidup di Taman Nasional Ujung Kulon

Dua hari. Itulah waktu yang diberikan rumah baru kepada seekor badak bernama Musofa. Ia tiba di Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) di dalam Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) pada 5 November 2025 dan mati pada 7 November, seperti dilaporkan RRI. Musofa adalah badak Jawa pertama yang ditranslokasi dari habitat alaminya, menurut Tempo.

Mengapa badak harus dipindahkan

Badak Jawa hanya tersisa di satu tempat, yaitu Ujung Kulon. Menurut laman TNUK, konsentrasi populasi di satu lokasi menciptakan risiko tinggi, karena bencana alam atau wabah penyakit dapat mengancam seluruh populasi. JRSCA, kawasan seluas 5.100 hektare, dirancang untuk meningkatkan populasi melalui strategi terukur.

Mongabay Indonesia mencatat bahwa pada akhir Agustus 2025 Kementerian Kehutanan meluncurkan operasi translokasi untuk memindahkan badak ke lokasi baru yang masih di taman nasional, berjarak 14 kilometer dan harus melintasi laut. Ia adalah semacam polis asuransi untuk spesies yang seluruh telurnya ada dalam satu keranjang.

Hari-hari terakhir Musofa

Musofa masuk perangkap lubang pada 3 November, lalu dikandangkan menunggu cuaca. Menurut Republika, hujan besar, gelombang tinggi, badai, dan petir menunda pemindahan selama dua hari sejak 4 November. Setelah tiba di JRSCA pada 5 November, ia stabil dan menunjukkan adaptasi yang baik pada fase awal, tetapi kondisinya menurun pada 7 November.

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menjelaskan bahwa nekropsi menunjukkan kerusakan kronis pada hati, paru-paru, dan otak, serta infeksi parasit signifikan pada saluran pencernaan. Pakar konservasi IPB University Harini Muntasib, seperti dikutip Tempo, menyebut penyebab kematiannya edema atau penumpukan cairan masif pada paru-paru, dan usia Musofa kemungkinan lebih tua dari perkiraan semula. Kementerian Kehutanan menyatakan akan melanjutkan translokasi badak Jawa, menurut ANTARA.

Berapa sebenarnya jumlah mereka?

Kisah Musofa membuka pertanyaan lain yang lebih sunyi, yaitu berapa badak Jawa yang tersisa. Menurut Kepala Balai TNUK Ardi Andono, seperti dikutip Betahita, populasi saat ini sekitar 87 sampai 100 individu setelah tiga individu baru teridentifikasi dengan metode kamera jebak yang dipasang sistematis dalam 35 klaster.

Namun Mongabay mencatat bahwa laporan terbaru IUCN menyebut populasi turun dari 78 menjadi 50 individu setelah kelompok pemburu liar diduga membunuh 26 individu. Angka 26 itu berasal dari pengakuan enam pemburu yang ditangkap, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat itu masih mendalami kebenarannya, menurut Tempo.

Mengapa angkanya bisa begitu jauh berbeda? Salah satu petunjuknya ada pada cara menghitung. Kepala Balai TNUK saat itu, seperti dikutip Tempo, menjelaskan bahwa pada 2022 terpasang 132 kamera dengan 41 individu yang terekam dan teridentifikasi. Jumlah itu dikumulatifkan dengan data 2021 (76 individu) dan kelahiran empat individu, sehingga menjadi 80. Jadi angka resmi dan angka yang terekam dalam setahun tidak selalu berbicara tentang hal yang sama.

Kabar yang datang di awal 2026

Di tengah perdebatan itu, ada kabar yang menghangatkan. Kamera jebak merekam seekor anak badak yang diperkirakan berusia kurang dari lima bulan, bersama induknya, Arum, di Blok Cigenter pada 29 Januari 2026 pukul 22.17 WIB. Menurut Prokal, itu anakan badak pertama yang dilaporkan pada 2026.

Setiap kelahiran berarti banyak. Badak Jawa betina melahirkan satu anak per kehamilan dengan interval 4 sampai 5 tahun, dan masa kehamilannya sekitar 16 bulan, menurut Yayasan IAR Indonesia.

Tentang menghitung dengan jujur

Barangkali pelajaran paling berharga dari kisah ini bukan sekadar soal badak, melainkan soal cara kita memperlakukan angka. Menyelamatkan sesuatu dimulai dari kemampuan menghitungnya dengan jujur, termasuk menerima bahwa hitungan itu bisa lebih kecil dari harapan, dan bahwa upaya yang tampak gagal pun memberi pelajaran.

Di sebuah semenanjung di ujung barat Jawa, makhluk purba itu masih berjalan, makan, dan melahirkan. Itu cukup menjadi alasan untuk tidak berhenti mencoba.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua