Rhacophorus boeadii, katak pohon baru dari Gunung Katopasa dan Gandang Dewata, diberi nama untuk naturalis Boeadi. Kisah spesies dan habitat yang rentan.
Label spesies Rhacophorus boeadii · katak pohon · endemik Sulawesi · dipublikasikan di Zootaxa, 2025
Katak ini dikenali lewat tiga hal. Pertama tubuhnya, kedua DNA-nya, dan ketiga suaranya. Menurut peneliti herpetologi BRIN Amir Hamidy, sebagaimana dikutip CNN Indonesia, analisis morfologi, genetika, serta suara panggilan jantan sama-sama menunjukkan bahwa spesimen itu belum pernah dideskripsikan sebelumnya. Ia kemudian diberi nama Rhacophorus boeadii.
Di gunung yang berkabut
Spesies ini ditemukan di dua lokasi, yaitu Gunung Gandang Dewata di Sulawesi Barat dan Gunung Katopasa di Sulawesi Tengah. Menurut Technology Indonesia, temuan itu hasil survei intensif pada 2016 sampai 2019, dan hasilnya dimuat di jurnal internasional Zootaxa. Penelitian itu menghabiskan beberapa tahun dan melintasi dua provinsi, hanya untuk memastikan seekor katak sebesar jari bukan spesies yang sudah dikenal.
Katak seukuran telapak tangan kecil
Menurut Amir Hamidy, seperti dikutip detikEdu, katak ini berukuran sedang, dengan panjang tubuh jantan sekitar 40 sampai 45 milimeter dan betina 48 sampai 54 milimeter. Ciri khasnya meliputi moncong jantan yang miring, kulit punggung kasar dengan bintik putih, dan pola bercak putih di sisi tubuh.
Ciri-ciri itu membedakannya dari tiga spesies Rhacophorus Sulawesi lain, yaitu R. edentulus, R. georgii, dan R. monticola, menurut Tempo.
Sebuah nama untuk mengenang
Nama boeadii bukan sembarang nama. Menurut CNN Indonesia, spesies ini dinamai sebagai penghormatan kepada mendiang Drs. Boeadi, naturalis dan ilmuwan dari Museum Zoologicum Bogoriense yang berkontribusi pada ilmu zoologi dan konservasi herpetofauna Indonesia.
Dalam dunia sains, nama ilmiah sering jadi cara paling sunyi untuk berterima kasih. Orang yang mencatat, mengumpulkan, dan menyimpan spesimen puluhan tahun sering tak punya sorotan. Tetapi namanya bisa hidup selama spesies itu masih ada.
Rumah yang tinggi dan rapuh
Ada kekhawatiran di balik kabar gembira ini. Amir menyampaikan bahwa habitat spesies yang terbatas pada hutan dataran tinggi sangat rentan terhadap kerusakan habitat dan perubahan iklim. Sulawesi sendiri, sebagai bagian dari kawasan Wallacea, dikenal sebagai titik panas keanekaragaman hayati dengan tingkat endemisme tinggi, terutama amfibi, sementara tekanan terhadap habitat alaminya terus meningkat, menurut Technology Indonesia.
Katak pohon di pegunungan kerap bergantung pada kondisi mikro yang spesifik, misalnya kelembapan dan suhu tertentu. Jadi ketika hutan berubah, rumah mereka tidak bisa begitu saja berpindah.
Yang baru dikenal dan yang masih tersembunyi
Katak ini hanyalah satu dari sekian banyak. Dalam rilis laporan pada 2 Februari 2026, BRIN menyatakan para peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi mengungkap 51 spesies baru sepanjang 2025, terdiri atas 32 fauna, 16 flora, dan 3 mikroba. Sebagian besar merupakan spesies endemik yang hanya dijumpai di lokasi tertentu.
Kita sering mengira alam Indonesia sudah terpetakan. Kenyataannya, di balik kabut gunung-gunung itu masih ada makhluk yang suaranya telah lama terdengar, tetapi belum punya nama.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab