Runtut.com

Bunga yang Menunggu 40 Tahun untuk Diberi Nama

Rafflesia harjatii, spesies baru dari Kalimantan Timur, sempat dikira rafflesia lain selama puluhan tahun. Ini kisah bunga yang baru diberi nama pada 2026.

3 menit baca
1
Bunga yang Menunggu 40 Tahun untuk Diberi Nama
Bunga rafflesia mekar di lantai hutan dataran rendah Kalimantan. — Dok. BRIN

Label spesies Rafflesia harjatii · Rafflesiaceae · endemik Kalimantan Timur · dipublikasikan Januari 2026

Bunga ini sebenarnya sudah ada di sana sejak lama. Orang pernah melihatnya mekar di hutan Kalimantan Timur, tetapi tak seorang pun bisa memastikan namanya. Menurut detikEdu, keberadaannya terdeteksi sejak 1980-an di kawasan konservasi PT ITCI Kartika Utama (ITCI-KU), Sepaku, Penajam Paser Utara, tetapi identitasnya sulit dipastikan. Baru pada 2026 ia akhirnya punya nama resmi.

Dikira kerabatnya sendiri

Selama puluhan tahun, bunga itu dianggap mirip rafflesia lain yang sudah dikenal di Kalimantan. Menurut Detik Kalimantan, kawasan hutan tempatnya tumbuh sulit dijangkau dan jarang diteliti. Kabar tentang bunga yang mekar di sana mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan eksplorasi lanjutan, seperti ditulis Kompas.com.

Penelitian lanjutan dilakukan pada 2022. Tim yang dipimpin guru besar Universitas Bengkulu Agus Susatya bekerja bersama peneliti BRIN Ridha Mahyuni, Sudarmono, dan Dian Latifah, serta Willie Smits dan Arief Priyadi, menurut Good News from Indonesia.

Bagaimana sebuah nama dipastikan

Menetapkan spesies baru bukan soal tampak berbeda. Penentuan identitas bunga ini memadukan analisis DNA dan pengamatan morfologi, dan hasilnya terbit di jurnal Sains Malaysiana edisi Januari 2026 dengan judul yang memuat label sp. nov., singkatan species nova atau spesies baru. Analisis genetiknya menunjukkan bunga ini berbeda dari semua rafflesia yang sudah teridentifikasi di Kalimantan. Secara morfologi, ia dapat dibedakan dari empat spesies rafflesia lain yang diakui di pulau itu.

Bunga raksasa yang bertubuh mungil

Rafflesia identik dengan bunga terbesar di dunia. Tetapi Rafflesia harjatii justru berdiameter hanya 17 sampai 22 sentimeter, tergolong kecil untuk ukuran genusnya. Menurut ciri yang dilaporkan, bagian dalam bunganya tidak memiliki bercak putih (window), dan jumlah prosesusnya lebih banyak dengan susunan yang khas.

Ia tumbuh di hutan dipterokarpa dataran rendah pada ketinggian 325 sampai 329 meter di atas permukaan laut. Seperti rafflesia lain, ia parasit yang bergantung pada tanaman inang dari genus Tetrastigma, menurut Good News from Indonesia.

Rapuh karena hanya ada di satu tempat

Berdasarkan penilaian awal, bunga ini berstatus endemik Kalimantan Timur karena sejauh ini hanya ditemukan di kawasan Sepaku, dengan tiga sub-populasi yang tercatat. Spesies yang hanya hidup di satu kantong sempit selalu berada dalam posisi rapuh. Perubahan sedikit pada habitatnya bisa berarti perubahan besar bagi keberlangsungannya.

BRIN juga menyatakan sedang memfinalisasi data beberapa kandidat spesies rafflesia baru lain yang akan diumumkan. Dan ini bagian dari gambaran yang lebih besar. Menurut ANTARA, BRIN dan mitranya telah menemukan 1.583 spesies baru sejak 1967 hingga 2025, 712 di antaranya flora, dan setidaknya 29 flora baru dideskripsikan sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Tentang kekuatan sebuah nama

Ada hal sederhana yang mudah terlewat. Sulit melindungi sesuatu yang belum kita kenali. Selama empat dekade, bunga ini mekar tanpa nama, dan karena itu tanpa kejelasan tentang betapa langkanya ia. Nama hanyalah beberapa kata Latin, tetapi bagi dunia pengetahuan, ia seperti alamat. Sejak ada alamatnya, kita tahu ke mana harus menengok.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi bunga apa ini, melainkan bagaimana menjaganya. Dan itu pertanyaan yang jauh lebih sulit.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...