Tren Y2K di kalangan Gen Z menunjukkan bagaimana media sosial membentuk nostalgia simbolik dan menghidupkan kembali estetika 2000-an dalam budaya digital.
RUNTUT.COM - Gen Z sedang melakukan sesuatu yang cukup lucu akhir-akhir ini, yakni bernostalgia pada masa yang tidak pernah mereka alami. Celana low-rise kembali dipakai, kamera digital bernuansa vintage kembali diburu, dan gaya awal 2000-an muncul lagi di berbagai unggahan media sosial. Bedanya, kali ini tahun 2000-an datang bukan lewat mesin waktu, melainkan lewat layar ponsel.
Fenomena itu dikenal sebagai Y2K, istilah yang merujuk pada estetika akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Gaya yang dulu dianggap biasa atau bahkan ketinggalan zaman kini kembali terlihat dalam pakaian, aksesori, hingga barang-barang vintage.
Lalu, bagaimana bisa seseorang merasa nostalgia terhadap sesuatu yang tidak pernah dialaminya?
Jawabannya salah satunya ada di media. Penelitian yang diterbitkan Journal of Fashion Design pada 2026 terhadap 20 anggota Gen Z di Korea Selatan menemukan bahwa mereka mengenal gaya Y2K melalui berbagai konten, seperti video musik, drama televisi, dan gambar selebritas.
Mereka tidak sekadar meniru gaya lama, tetapi memilih dan mengolahnya kembali sesuai selera serta kehidupan mereka sekarang.
Penelitian lain dalam The Korean Fashion and Textile Research Journal pada 2026 menyebut fenomena tersebut sebagai symbolic nostalgia. Sederhananya, seseorang bisa merasa dekat dengan masa lalu meskipun tidak pernah mengalaminya secara langsung. Rasa nostalgia terbentuk dari gambar, cerita, media, dan berbagai simbol masa lalu yang mereka temui.
Media sosial membuat proses itu semakin gampang. Foto outfit tahun 2000-an, potongan video lama, gaya selebritas, sampai rekomendasi pakaian vintage dapat muncul berulang kali di layar. Apa yang awalnya hanya konten lama akhirnya berubah menjadi inspirasi gaya baru.
Tren tersebut juga terlihat dalam perkembangan fashion saat ini. The Washington Post mencatat kembalinya berbagai elemen Y2K, mulai dari jeans low-rise hingga baby doll tops. Sejumlah merek yang populer pada era tersebut bahkan kembali mendapat perhatian dari konsumen muda.
Namun, Gen Z sebenarnya tidak sedang berusaha menjadi anak 2000-an sepenuhnya. Mereka mengambil bagian-bagian yang dianggap menarik, lalu mencampurnya dengan gaya masa kini.
Celana vintage bisa dipadukan dengan sneakers modern, sementara kamera digital lama justru digunakan untuk menghasilkan foto dengan nuansa yang dianggap lebih autentik.
Tahun 2000-an bisa saja bukan bagian dari ingatan mereka, tetapi melalui media sosial, era tersebut berhasil menjadi bagian dari gaya hidup mereka hari ini.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab