Runtut.com

Karhutla Tanjung Puting Ancam Habitat Orangutan, Pemadaman Hadapi Medan Sulit

Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting masih ditangani pada Oktober 2026. Pemadaman menghadapi kendala akses, lahan gambut, dan kabut asap.

2 menit baca
5
Taman Nasional Tanjung Puting Yang di selimuti asap tebal
Taman Nasional Tanjung Puting Yang di selimuti asap tebal — Instagram - @respons.media

RUNTUT.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, masih menjadi perhatian hingga Oktober 2026. Upaya pemadaman terus diperkuat, tetapi petugas menghadapi kendala berupa sulitnya akses menuju titik api, karakteristik lahan gambut, serta kabut asap yang menghambat operasi pemadaman melalui udara.

Berdasarkan laporan detikKalimantan pada 18 September 2026, luas kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang terbakar mencapai 4.524 hektare berdasarkan pemantauan hingga 17 September. Angka tersebut menunjukkan besarnya kawasan konservasi yang terdampak kebakaran.

Meski demikian, angka 4.524 hektare merupakan data pemantauan September dan belum dapat dipastikan sebagai total luas kebakaran terbaru pada Oktober. Hingga 12 Oktober 2026, belum ditemukan pembaruan angka resmi yang dapat dibandingkan secara langsung dengan data tersebut.

Pemadaman Terkendala Akses dan Kabut Asap

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyatakan bahwa upaya pemadaman masih terus diperkuat. Dalam laporan ANTARA pada 12 Oktober 2026, luasnya wilayah terdampak, sulitnya akses menuju titik api, serta karakteristik lahan gambut menjadi tantangan utama dalam penanganan kebakaran.

Upaya pemadaman melalui udara juga menghadapi kendala akibat kabut asap yang membatasi jarak pandang dan memengaruhi keselamatan penerbangan. Metode water bombing, yakni penjatuhan air menggunakan helikopter, menjadi salah satu upaya untuk membantu menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat.

Balai Taman Nasional Tanjung Puting telah mengajukan permohonan dukungan water bombing sejak 9 September. Operasi tersebut berlangsung pada 20–22 September. Permohonan dukungan kembali disampaikan pada 2 Oktober untuk wilayah Kotawaringin Barat dan Seruyan. Pada 9 Oktober, permohonan tambahan juga diajukan untuk sasaran di sekitar Pos Tanjung Harapan, Resor Pesalat.

Rangkaian upaya tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran masih menghadapi tantangan di lapangan. Kondisi wilayah dan kabut asap turut memengaruhi pelaksanaan pemadaman, terutama di lokasi yang sulit dijangkau.

Ancaman bagi Kawasan Konservasi

Kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting tidak hanya berkaitan dengan luas hutan yang terbakar, tetapi juga berpotensi mengganggu ekosistem di dalamnya. Kawasan konservasi ini merupakan habitat orangutan dan berbagai satwa liar lainnya.

Kerusakan vegetasi akibat kebakaran dapat mengurangi ketersediaan sumber pakan dan mengganggu ruang hidup satwa. Pada lahan gambut, kebakaran juga berpotensi melepaskan karbon yang tersimpan di dalam tanah ke atmosfer.

Meski demikian, besarnya kerusakan habitat dan jumlah satwa yang terdampak dalam peristiwa ini masih memerlukan data lapangan yang terverifikasi. Potensi dampak ekologis tersebut perlu dibedakan dari kerusakan yang telah dipastikan melalui pemantauan langsung.

Hingga Oktober 2026, perkembangan kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting masih perlu dipantau melalui pembaruan data resmi. Informasi mengenai luas kawasan terbakar dan kondisi habitat diperlukan untuk mengetahui tingkat kerusakan serta mendukung penanganan kebakaran di kawasan konservasi tersebut.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Banjir Bandang Terjang Gayo Lues, 130 Keluarga Terdampak
Bencana Alam dan Krisis

Banjir Bandang Terjang Gayo Lues, 130 Keluarga Terdampak

Banjir bandang menerjang Gayo Lues, Aceh, setelah tanggul sungai jebol. Sebanyak 130 keluarga terdampak akibat luapan air.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 hari lalu
Kondisi Karhutla Jambi Membaik, Titik Panas Berkepercayaan Tinggi Tak Lagi Terdeteksi
Bencana Alam dan Krisis

Kondisi Karhutla Jambi Membaik, Titik Panas Berkepercayaan Tinggi Tak Lagi Terdeteksi

Kondisi karhutla Jambi membaik dengan nihilnya hotspot berkepercayaan tinggi, tetapi pemadaman dan pencegahan kebakaran masih terus dilakukan.

Muhammad Rafi Ashidiq· 4 hari lalu
Malaysia Tawarkan Pesawat Amfibi dan Helikopter untuk Bantu Atasi Karhutla Indonesia
Bencana Alam dan Krisis

Malaysia Tawarkan Pesawat Amfibi dan Helikopter untuk Bantu Atasi Karhutla Indonesia

Malaysia menawarkan pesawat amfibi, helikopter, dan 44 personel untuk membantu penanganan karhutla di Indonesia. BNPB masih mengkaji kebutuhan operasi.

Muhammad Rafi Ashidiq· 4 hari lalu
Karhutla Ciremai Padam, Habitat Satwa Endemik Terancam
Bencana Alam dan Krisis

Karhutla Ciremai Padam, Habitat Satwa Endemik Terancam

Karhutla Gunung Ciremai telah padam, tetapi habitat satwa endemik terancam. Bayi surili Jawa berhasil diselamatkan dan kembali ke induknya.

Muhammad Rafi Ashidiq· 4 hari lalu
Ketika Ibu Pertiwi Dinyanyikan di Tengah Kabut Asap Palangka Raya
Bencana Alam dan Krisis

Ketika Ibu Pertiwi Dinyanyikan di Tengah Kabut Asap Palangka Raya

Di tengah langit yang diselimuti asap, lantunan Ibu Pertiwi dari para siswi Palangka Raya menghadirkan kisah tentang duka, ironi, dan harapan bagi lingkungan.

Muhammad Rafi Ashidiq· 4 hari lalu
Hujan Guyur Gunung Arjuno, Kebakaran di Pasuruan Mulai Padam
Bencana Alam dan Krisis

Hujan Guyur Gunung Arjuno, Kebakaran di Pasuruan Mulai Padam

Hujan mengguyur Gunung Arjuno saat karhutla melanda Jawa Timur. Sebagian besar titik api di Pasuruan mulai padam, tetapi pemantauan berlanjut.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu