Runtut.com

Menelusuri Jejak Sejarah di Bandung, Ini 8 Tempat yang Menarik Dikunjungi

Tak hanya dikenal dengan wisata alam dan kuliner, Bandung juga memiliki sejumlah tempat bersejarah yang menyimpan cerita masa lalu.

5 menit baca
1
Menelusuri Jejak Sejarah di Bandung, Ini 8 Tempat yang Menarik Dikunjungi
Museum Gedung Sate Bandung — foto: Indonesia.travel

Runtut.com – Bandung tidak hanya menwarkan pemandangan alam yang asri dan kuliner yang lezat. Kota Paris van Java ini juga menyimpan sejuta cerita sejarah yang membentuk perjalanan bangsa Indonesia. 

Berikut adalah rekomendasi destinasi bersejarah yang siap membawa wisatawan melintasi lorong waktu. 

1. Gedung Sate 

Gedung Sate Bandung merupakan salah satu ikon arsitektur paling terkenal di Jawa Barat. Bangunan bersejarah ini tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga destinasi wisata edukatif yang sarat nilai sejarah.  

Saat ini, Gedung Sate Bandung tidak hanya berfungsi sebagai kantor Gubernur Jawa Barat, tetapi juga memiliki museum yang terbuka untuk umum.

Museum Gedung Sate menghadirkan diorama sejarah pembangunan, koleksi arsip, serta teknologi interaktif yang membantu kamu memahami perjalanan panjang gedung ini.

Di area dalamnya, kamu bisa melihat berbagai ruang bersejarah yang dulu digunakan sebagai kantor administrasi kolonial. Beberapa bagian tertentu tetap difungsikan untuk kegiatan resmi pemerintahan sehingga aksesnya terbatas.

2. Gedung Merdeka 

Gedung bersejarah Gedung Merdeka Bandung
Gedung bersejarah Gedung Merdeka Bandung — Foto: Indonesia.travel

Gedung Merdeka yang terletak di Jalan Asia Afrika Bandung ini, pada tahun 1895, hanya berupa bangunan sederhana.

Bangunan yang mempunyai luas tanah 7.500 meter persegi itu, menjadi tempat pertemuan Societeit Concordia, sebuah perkumpulan beranggotakan orang-orang Eropa, terutama Belanda yang berdomisili di Kota Bandung dan sekitarnya. 

Gedung ini pernah juga digunakan sebagai Markas Besar Tentara Republik Indonesia (masa perang kemerdekaan), Gedung Konstituante (1950), Tahun 1955 bangunan ini digunakan sebagai tempat Konferensi Asia-Afrika yang diikuti oleh 40 negara dan pada masa ini Bung Karno mengganti namanya menjadi Gedung Merdeka, Tahun 1960 menjadi Gedung MPRS. 

3. Museum Konferensi Asia Afrika 

Museum KAA, tempat sejarah Asia Afrika dikibarkan, tempat Kemitraan Asia Afrika ditegakkan demi masa depan yang lebih baik.

Berlokasi di Bandung, Museum KAA memiliki sejarah sebagai tempat Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Museum ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto, pada tanggal 24 April 1980 pada peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika. 

Konferensi Asia Afrika di tahun 1955 yang digagas dengan tujuan mempersatukan sikap serta membangun kerja sama di antara bangsa-bangsa Asia Afrika serta membantu terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia. 

Sehingga salah satu hasil sejarah yang tercipta dari konferensi internasional terbesar di Bandung waktu itu adalah dengan lahirnya Dasa Sila Bandung yang sangat terkenal dan fenomenal.

Dasa Sila Bandung menjadi pedoman serta semangat bagi bangsa-bangsa di Benua Asia dan Afrika yang waktu itu masih banyak yang terjajah untuk berjuang memperoleh hak-hak kemerdekaannya. 

4. Museum Mandala Wangsit Siliwangi 

Museum Mandala Wangsit Siliwangi adalah sebuah museum khusus yang berlokasi di Jalan Lembong No. 38, Kota Bandung, Jawa Barat.  

Nama “Mandala Wangsit” sendiri berarti tempat menyimpan amanat, petuah atau nasihat, sedangkan “Siliwangi” diambil dari nama raja legendaris Kerajaan Sunda yang menjadi simbol ketegasan, kebijaksanaan, dan wibawa — nilai-nilai yang ingin diwariskan museum ini kepada generasi mendatang.  

Museum Mandala Wangsit Siliwangi dimiliki oleh TNI Angkatan Darat dan secara operasional dikelola oleh Kodam III/Siliwangi, sebagai bagian dari unit sejarah dan permuseuman di lingkungan militer. 

Koleksi dan kegiatan museum didukung oleh institusi terkait untuk menjaga relevansi narasi sejarah serta kesinambungan pelestarian artefak perang, seragam, dokumentasi dan benda-benda bersejarah lainnya.

5. Villa isola 

Villa Isola adalah nama bangunan ini dan pernah menjadi sebuah Kantor Berita penting pada masa itu. Villa Isola dibangun pada 1933 berdasarkan rancangan arsitek Belanda Charles Prosper (C.P.)

Wolff Schoemaker sebagai kediaman pribadi Dominique Willem Berretty, seorang hartawan Belanda. Bangunan bergaya Art Deco ini kemudian dijual dan sempat menjadi bagian dari Hotel Savoy Homann. 

Pada masa pendudukan Jepang, Villa Isola juga pernah digunakan sebagai kediaman sementara Jenderal Hitoshi Imamura menjelang Perjanjian Kalijati pada Maret 1942.

Seiring berjalannya waktu, bangunan bersejarah ini beralih fungsi menjadi Gedung IKIP Bandung, yang kini dikenal sebagai Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan dimanfaatkan sebagai kantor rektorat.

6. Museum Sri Baduga

Museum Sri Baduga berdiri pada tahun 1974 atas gagasan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi.

Dengan berbagai dinamika, sehingga pada tanggal 5 Juni 1980, museum ini akhirnya diresmikan dengan nama Museum Negeri Provinsi Jawa Barat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr Daoed Joesoef. 

Pada tahun 2002, Museum Sri Baduga dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat.

Tugas pokok dan fungsinya adalah melaksanakan pengumpulan, perawatan, penelitian, penyajian benda tinggalan sejarah alam, budaya Jawa Barat serta bimbingan edukatif kultural.

Museum Sri Baduga memiliki koleksi yang mencakup berbagai jenis artefak, lukisan, dan benda-benda bersejarah yang mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah Sunda. 

Di antara koleksi uniknya adalah pakaian tradisional Sunda, alat musik tradisional, senjata kuno, kerajinan tangan, ukiran kayu, dan lukisan-lukisan berharga.

7. Tugu Titik 0 Kilometer 

Tugu titik 0 Kilometer Bandung
Tugu titik 0 Kilometer Bandung — foto: detikcom

Tugu titik Nol Kilometer (0 Km)Bandung adalah sebuah monumen yang terletak di depan kantor Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jabar di kawasan Jalan Asia Afrika.

Tugu ini telah menjadi salah satu ikonik bersejarah yang populer di kota Bandung. Monumen tugu ini sering dikunjungi wisatawan untuk mengambil foto dan menikmati pemandangan sekitar.

Jalan tersebut dibangun di bawah pengawasan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, H. W. Daendels dalam upayanya mempertahankan Pulau Jawa dari gempuran Inggris pada masa itu.

8. Museum Pos Indonesia

Museum Pos Indonesia telah hadir sejak masa Hindia Belanda dengan nama Museum PT (Pos Telegraf dan Telepon) ,tepatnya pada tahun 1931 terletak di bagian sayap kanan bawah Gedung Kantor Pusat PTT Jalan Cilaki No.73 Bandung 40115.

Museum ini dibuka untuk umum dan koleksinya terdiri dari prangko-prangko baik dalam maupun luar negeri namun terjadinya peristiwa Perang Dunia ke II menyebabkan Museum ini kurang terurus sebagaimana mestinya, bahkan nyaris terlupakan.

Timbulah gagasan untuk mendirikan Museum Pos dan Giro yang koleksinya tidak hanya terdiri dari prangko-prangko tetapi juga benda-benda lainnya berupa foto-foto, peralatan pos dan lain sebagainya yang bernilai sejarah. 

Sejalan dengan perkembangan perusahaan pos dimana terhitung tanggal 20 juni 1995 nama dan status perusahaan berubah dari Perusahaan Umum Pos dan Giro menjadi PT. Pos Indonesia (persero).

Maka terjadi pula perubahan nama museum ini dari Museum Pos dan Giro menjadi Museum Pos Indonesia sampai sekarang. 

Beragam destinasi bersejarah di Bandung tersebut dapat menjadi pilihan wisata bagi masyarakat yang ingin mengenal perjalanan masa lalu sekaligus menikmati suasana kota.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua