Runtut.com
NasionalBreaking News

Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI

Panjat Monumen Bundaran HI, Greenpeace bongkar fakta mengejutkan: 41% warga tertekan akibat harga pangan melonjak gara-gara krisis iklim!

3 menit baca
Greenpeace Desak Penanganan Krisis Iklim dan Kenaikan Biaya Hidup
Greenpeace Desak Penanganan Krisis Iklim dan Kenaikan Biaya Hidup — Dok. Istimewa

JAKARTA – Enam aktivis Greenpeace Indonesia memanjat Monumen Selamat Datang (Bundaran HI) Jakarta pada Selasa, 20 Oktober 2026, bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo - Gibran. 

Mereka membentangkan spanduk bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” dan “ Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa kerja Pemerintah?”. 

Aksi ini digelar bukan sekadar untuk mencuri perhatian massa, melainkan guna menyoroti hubungan erat antara bencana ekologis dan dampaknya terhadap perekonomian warga.

Greenpeace menilai krisis iklim yang memicu bencana alam seperti kebakaran hutan dan lahan hingga perubahan cuaca ekstrem, telah secara langsung merusak rantai pasok pangan dan menaikkan beban biaya hidup masyarakat sehari-hari.

Evakuasi dan Penanganan di Lokasi

Keberadaan spanduk dan para pemanjat di atas monumen cagar budaya tersebut direspon cepat oleh aparat penegak hukum.

Sekitar pukul 08.00 WIB, petugas gabungan dari Kepolisian dan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) bergerak menurunkan kedua spanduk tersebut.

Proses penurunan keenam aktivis dilakukan secara bertahap menggunakan perlengkapan tali sling.

Usai diturunkan dengan selamat, para aktivis sempat dibawa ke Klinik Biddokkes Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan kesehatan akibat mengalami kelelahan usai memanjat dan berada di ketinggian selama beberapa jam.

Status Hukum dan Pembebasan Aktivis

Setelah mendapatkan penanganan medis awal, para aktivis dibawa ke Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan. Sepanjang proses pemeriksaan, keenamnya didampingi oleh Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) dari LBH Jakarta.

Setelah menjalani pemeriksaan maraton selama kurang lebih 8 jam, pihak kepolisian menyimpulkan tidak ada unsur pidana dalam aksi penyampaian pendapat tersebut. Seluruh aktivis akhirnya dibebaskan pada sore harinya.

Aksi damai ini menjadi pengingat tegas bahwa isu perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana global di atas kertas, melainkan ancaman nyata yang kini langsung memukul dompet dan meja makan masyarakat Indonesia.

Poin Utama Tuntutan & Riset Greenpeace

Tujuan Greenpeace Desak Penanganan Krisis Iklim dan Kenaikan Biaya Hidup
Tujuan Greenpeace Desak Penanganan Krisis Iklim dan Kenaikan Biaya Hidup — Foto: Liputan6.com

Krisis iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan yang berjarak atau bahan perdebatan ilmiah di ruang seminar. Dampaknya kini nyata, merayap hingga ke tempat kerja, ruang keluarga, bahkan ke piring makan masyarakat sehari-hari.

Gambaran kelam ini terpotret jelas dalam laporan riset terbaru yang diluncurkan Greenpeace bertajuk "Besok Harga Naik! Gambaran Dampak Krisis Iklim dari Tempat Kerja, Meja Makan, dan Rumah".

Riset tersebut menyoroti kerentanan masyarakat yang bermukim di tiga wilayah aglomerasi utama: Jakarta Raya, Bandung Raya, dan Kartamantul (Yogyakarta, Sleman, Bantul).

Hasil temuan memperlihatkan bagaimana perubahan iklim secara langsung menggerogoti stabilitas ekonomi dan kualitas hidup warga:

  • Beban Pangan dan Konsumsi (41%): Mayoritas warga mengeluhkan dampak paling berat terasa pada melonjaknya biaya pangan dan perubahan pola konsumsi akibat terganggunya rantai pasok serta produksi pertanian.

  • Penurunan Pendapatan dan Produktivitas (39%): Kelompok pekerja rentan—seperti nelayan tradisional dan pekerja gig (termasuk pengemudi ojek daring)—menjadi pihak yang paling terpukul akibat cuaca ekstrem yang tak menentu.

  • Akses Hunian dan Transportasi (20%): Sebagian warga lainnya terbebani oleh pembengkakan biaya transportasi serta ancaman terhadap kelayakan dan keamanan tempat tinggal mereka.

Atas dasar temuan lapangan tersebut, Greenpeace melayangkan kritik tajam kepada pemerintah. Klaim angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi dinilai semu dan tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan, sebab tidak dirasakan langsung oleh rakyat kecil.

Kebijakan alokasi anggaran pun dikritik karena dianggap masih minim keberpihakan terhadap perlindungan warga dari ancaman krisis ekologis yang makin membesar.

Menanggapi gelombang aspirasi dan kritik tersebut, pihak Istana melalui Badan Komunikasi Pemerintah menyatakan menyambut terbuka masukan yang disampaikan.

Pemerintah menegaskan bahwa aspirasi Greenpeace dihargai sebagai bagian dari kebebasan berpendapat, sekaligus akan menjadi catatan serta perhatian khusus Presiden dalam memperkuat langkah mitigasi bencana dan penegakan hukum lingkungan ke depan.



Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat
Nasional

KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP terbakar saat hendak bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten. 460 jiwa dengan selamat.

Lusianti Dwi Cahyani· 3 jam lalu
Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya HidupBreaking
Nasional

Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup

Pemerintah merespons kritik Greenpeace soal krisis iklim dan biaya hidup serta lima tuntutan mahasiswa terkait lingkungan, ekonomi, demokrasi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 8 jam lalu
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya PendidikanBreaking
Nasional

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran diwarnai aksi mahasiswa di Jakarta suarakan lima tuntutan terkait lingkungan, ekonomi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 14 jam lalu
Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HIBreaking
Nasional

Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI

Greenpeace Indonesia bentangkan dua spanduk raksasa di Bundaran HI dan mengajak warga mengirim karangan bunga digital untuk menyuarakan krisis iklim.

Rachmaddani Rizki Saputra· 14 jam lalu
Reshuffle Kabinet Oktober 2026, Sebanyak 18 Pejabat Dirombak Presiden
Nasional

Reshuffle Kabinet Oktober 2026, Sebanyak 18 Pejabat Dirombak Presiden

Presiden Prabowo merombak jajaran Kabinet Merah Putih pada Oktober 2026. Sebanyak 18 pejabat dilantik dan reshuffle yang mencakup kementerian dan lembaga negara

Lusianti Dwi Cahyani· 1 hari lalu
Setelah Vakum Tujuh Tahun, Liga Sepak Bola Putri Indonesia Kembali Bergulir Hari Ini
Nasional

Setelah Vakum Tujuh Tahun, Liga Sepak Bola Putri Indonesia Kembali Bergulir Hari Ini

Liga sepak bola putri Indonesia kembali bergulir pada 18 Oktober 2026 setelah vakum tujuh tahun melalui Indonesia Women’s League 2026/2027 yang diikuti 6 klub.

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu