Mirwan Suwarso Ingin Ubah Como 1907 Layaknya Disney, Sepak Bola Bukan Satu-satunya Bisnis
Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso ingin mengembangkan klub dengan model bisnis ala Disney, memadukan sepak bola, fashion, merchandise, media, dan pariwisata.
COMO – Presiden Como 1907, Mirwan Suwarso, memiliki visi untuk mengembangkan klub sepak bola asal Italia tersebut menjadi lebih dari sekadar tim yang berkompetisi di lapangan. Melalui model bisnis yang terinspirasi dari Disney, Como ingin membangun ekosistem yang menggabungkan sepak bola, pariwisata, fashion, merchandise, media, hingga layanan perjalanan.
Bagi Mirwan, pertandingan sepak bola merupakan pintu masuk untuk memperkenalkan merek Como kepada audiens global. Strategi tersebut memanfaatkan daya tarik Danau Como yang telah dikenal sebagai destinasi wisata internasional, sekaligus memperluas sumber pendapatan klub di luar aktivitas pertandingan.
Dalam wawancara dengan Calcio e Finanza pada Februari 2025, Mirwan menjelaskan bahwa ia melihat kemiripan antara model bisnis Disney dan rencana pengembangan Como. Jika Disney menggunakan Disneyland sebagai salah satu daya tarik utamanya, Como memanfaatkan klub sepak bola dan pengalaman menonton pertandingan sebagai pintu masuk menuju ekosistem bisnis yang lebih luas.
Sepak Bola Menjadi Pintu Masuk Bisnis
Menurut Mirwan, klub sepak bola yang berasal dari kota berpenduduk relatif kecil menghadapi tantangan untuk mencapai keberlanjutan finansial apabila hanya mengandalkan pendapatan dari pertandingan.
Como memiliki keunggulan tersendiri karena berada di kota yang sudah mempunyai daya tarik wisata internasional. Danau Como, lanskap alam, arsitektur, serta industri pariwisata setempat menjadi aset yang dapat dikembangkan bersama identitas klub.
Melalui pendekatan tersebut, sepak bola tidak ditempatkan sebagai satu-satunya pusat bisnis. Popularitas klub justru diharapkan dapat memperkenalkan berbagai produk dan pengalaman yang berkaitan dengan Como kepada penggemar maupun wisatawan.
Strategi ini juga membuka peluang untuk menghubungkan pengalaman menonton pertandingan dengan kegiatan wisata di sekitar danau. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan sepak bola, tetapi juga dapat menikmati pengalaman perjalanan yang berkaitan dengan identitas kota.
Pemandangan danau yang menjadi daya tarik pariwisata di Como sekaligus pintu masuk ke sekitar Como — Unplash: Evan Verni
Fashion, Merchandise, dan Pariwisata Jadi Bagian Ekosistem
Model bisnis yang dikembangkan Como mencakup sejumlah sektor di luar lapangan. Dalam wawancaranya, Mirwan menyebut produk konsumen seperti merchandise dan lisensi, lini pakaian dan sepatu, perusahaan media, serta layanan perjalanan dan pariwisata sebagai bagian dari ekosistem tersebut.
Pendekatan ini terlihat dari upaya Como membangun identitas fashion melalui koleksi pakaian dan produk dengan merek klub. Produk tersebut tidak hanya ditujukan kepada pendukung yang membeli atribut pertandingan, tetapi juga konsumen yang tertarik pada desain dan gaya hidup yang diasosiasikan dengan Como.
Di sektor pariwisata, klub juga mengembangkan pengalaman perjalanan yang menghubungkan pertandingan dengan daya tarik kawasan Danau Como. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa pemilik klub berupaya mengembangkan paket perjalanan, kerja sama dengan bisnis lokal, serta lini produk gaya hidup sebagai bagian dari strategi komersial mereka.
Dengan mengembangkan beberapa sumber pendapatan sekaligus, Como berupaya mengurangi ketergantungan pada pemasukan yang berasal langsung dari sepak bola.
Transformasi Como 1907 juga didukung oleh perubahan di dalam lapangan. Klub tersebut diakuisisi pada 2019 oleh kelompok usaha yang terkait dengan keluarga Hartono melalui Sent Entertainment, ketika Como masih berkompetisi di Serie D.
Setelah melewati proses pembangunan tim dan organisasi, Como berhasil promosi ke Serie A pada 2024 setelah finis sebagai runner-up Serie B musim 2023/2024. Pencapaian tersebut mengakhiri penantian panjang klub untuk kembali ke kasta tertinggi sepak bola Italia.
Di bawah kepemimpinan pelatih Cesc Fàbregas, Como kemudian berupaya memperkuat daya saing tim sekaligus mengembangkan identitas klub. Perkembangan olahraga dan strategi komersial tersebut berjalan beriringan dalam membangun posisi Como di sepak bola Eropa.
Meski demikian, meniru model bisnis Disney bukan berarti Como akan menjadi taman hiburan. Perbandingan tersebut merujuk pada cara sebuah merek menghubungkan produk utama dengan berbagai bisnis pendukung agar dapat menjangkau konsumen melalui banyak pengalaman.
Bagi Mirwan, tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh lini bisnis tersebut saling mendukung dan mampu membangun keberlanjutan finansial. Dengan memadukan sepak bola, fashion, dan pariwisata, Como berupaya mengembangkan identitas yang tidak hanya dikenal di stadion, tetapi juga melekat pada pengalaman mengunjungi kota di tepi Danau Como.