Runtut.com

Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Serangan Militer Ancam Picu Perang Besar Asia Barat

Konflik AS-Iran kembali memanas setelah serangan militer dan aksi balasan Teheran di Timur Tengah. Ketegangan di Selat Hormuz mengancam stabili

4 menit baca
9
Konflik AS-Iran kembali memanas.
AS kembali menyerang Iran, Selasa 14 Juli 2026. — Orissapost.com

JAKARTA - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Washington melancarkan serangan militer terhadap sejumlah wilayah Iran. Aksi tersebut kemudian dibalas Teheran dengan serangan terhadap beberapa sekutu Amerika Serikat di kawasan Asia Barat.

Mengutip laporan Associated Press (AP) yang ditulis Jon Gambrell dan diperbarui pada 14 Juli 2026, eskalasi terbaru ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta mengenakan biaya bagi kapal yang mendapatkan perlindungan Amerika Serikat saat melintasi Selat Hormuz.

Serangan tersebut mengancam kesepakatan sementara yang sebelumnya dirancang untuk menghentikan konflik, membuka kembali jalur pelayaran strategis, serta memberikan ruang bagi proses diplomasi untuk mencapai penyelesaian permanen.

Alih-alih meredakan ketegangan, perkembangan terbaru justru kembali memperluas konflik di kawasan. Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa perang dapat berkembang menjadi konflik besar yang berdampak terhadap keamanan regional dan perekonomian dunia.

Selat Hormuz Jadi Arena Perebutan Pengaruh

Salah satu titik paling strategis dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menjadi penghubung penting perdagangan energi global. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam dunia melewati jalur tersebut.

Menurut laporan AP, Iran menggunakan ancaman terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai salah satu strategi tekanannya selama konflik berlangsung. Tindakan tersebut telah berdampak terhadap pasar internasional dengan mendorong kenaikan harga minyak, pupuk, dan sejumlah komoditas lainnya.

Amerika Serikat kemudian mengancam akan membuka kembali jalur tersebut melalui operasi militer. Namun sejumlah pengamat menilai langkah tersebut memiliki risiko besar karena membutuhkan pengerahan kekuatan militer dalam jumlah besar.

Trump juga mengumumkan bahwa kapal-kapal yang mendapatkan perlindungan dari Amerika Serikat akan dikenakan biaya sebesar 20 persen dari nilai muatan. Kebijakan ini menjadi perubahan dari sikap lama Washington yang selama ini mendukung prinsip kebebasan navigasi internasional tanpa pungutan.

Sementara itu, Iran menyatakan memiliki hak untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz, termasuk kemungkinan menerapkan biaya tertentu bagi kapal yang melintas. Klaim tersebut ditolak Amerika Serikat yang menyebut pengaturan sepihak terhadap jalur internasional bertentangan dengan prinsip kebebasan pelayaran.

Iran Balas Serangan, Kapal Tanker dan Sekutu AS Jadi Sasaran

Serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas pertahanan Iran segera mendapat respons dari Teheran. Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah wilayah yang memiliki hubungan dekat dengan Washington.

AP melaporkan bahwa Iran menyerang Bahrain, Yordania, serta beberapa kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Dua kapal tanker yang terkait dengan Uni Emirat Arab, yakni Mombasa dan Al Bahiyah, mengalami kebakaran akibat serangan tersebut.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyebut satu awak kapal tewas dan delapan lainnya mengalami luka-luka. Pemerintah Uni Emirat Arab kemudian menyatakan ancaman untuk melakukan pembalasan.

Kelompok Garda Revolusi Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal tersebut. Mereka menyatakan kapal-kapal itu menjadi sasaran karena mengabaikan peringatan yang telah diberikan sebelumnya.

Selain itu, perusahaan pelayaran asal Belanda Stolt Tankers melaporkan salah satu kapalnya, Stolt Magnesium, mengalami serangan di sekitar Oman. Serangan tersebut menyebabkan kebakaran di ruang mesin, tetapi seluruh awak kapal dinyatakan selamat.

Serangan juga dilaporkan terjadi di Kota Bushehr, Iran. Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, menyebut sedikitnya empat lokasi terkena serangan, meskipun belum terdapat informasi lengkap mengenai korban maupun tingkat kerusakan.

Ancaman Krisis Energi dan Runtuhnya Diplomasi

Eskalasi militer terbaru ini membuat masa depan kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran semakin tidak pasti.

Kesepakatan tersebut sebelumnya dirancang untuk menghentikan pertempuran selama 60 hari sambil membuka pembicaraan mengenai penyelesaian konflik, termasuk isu program nuklir Iran. Namun, keputusan Washington untuk kembali menerapkan blokade terhadap Iran dinilai semakin memperbesar risiko kegagalan diplomasi.

Dampak konflik mulai terlihat di pasar energi. Harga minyak mentah Brent meningkat hingga lebih dari 87 dolar AS per barel karena kekhawatiran terganggunya jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz.

Jika konflik berkembang menjadi perang terbuka, gangguan terhadap pasokan energi dapat memberikan dampak luas terhadap harga barang dan biaya hidup masyarakat di berbagai negara. Di sisi lain, ketegangan juga memengaruhi konflik Israel dan Lebanon. Perundingan antara kedua negara yang dimediasi Amerika Serikat masih dijadwalkan berlangsung, meskipun keberhasilannya bergantung pada perkembangan konflik antara Washington dan Teheran.

Dengan meningkatnya serangan dan melemahnya jalur diplomasi, masyarakat internasional kini menghadapi tantangan besar untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang skala penuh yang dapat mengguncang Asis Barat dan ekonomi global.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan Memicu Gelombang Protes
Internasional

Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan Memicu Gelombang Protes

Pemerintah Azerbaijan memperketat aturan seragam sekolah berbasis sekularisme. Pelanggar terancam sanksi tegas hingga pemecatan.

Lusianti Dwi Cahyani· 17 jam lalu
"Pripun Kabare?" Begini Isi Pidato Bahasa Jawa Anggota Parlemen Malaysia Soal Asap Karhutla
Internasional

"Pripun Kabare?" Begini Isi Pidato Bahasa Jawa Anggota Parlemen Malaysia Soal Asap Karhutla

"Pripun kabare?" momen ketika Kalam Salan mendadak berganti bahasa Jawa dalam sidang Dewan Rakyat Malaysia, desak soal penanganan asap karhutla Indonesia.

Nurul Hidayah· 2 hari lalu
Anggota Parlemen Malaysia Desak Prabowo Atasi Karhutla dengan Serius
Internasional

Anggota Parlemen Malaysia Desak Prabowo Atasi Karhutla dengan Serius

Anggota Parlemen Malaysia, Kalam Salan meminta penanganan serius masalah asap karhutla Indonesia yang sudah lintas batas ke Malaysia.

Nurul Hidayah· 2 hari lalu
Manchester United Sedang Terpuruk, Como Punya Peluang Ciptakan Kejutan di Liga Champions
Internasional

Manchester United Sedang Terpuruk, Como Punya Peluang Ciptakan Kejutan di Liga Champions

Como menjamu Manchester United di Liga Champions 2026/2027. Bermodal kemenangan atas Fiorentina, tim Cesc Fàbregas berpeluang menciptakan kejutan.

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu
PSG Tekuk Barcelona 4-2 di UEFA Champions League, Rekor Sempurna Blaugrana Terhenti
Internasional

PSG Tekuk Barcelona 4-2 di UEFA Champions League, Rekor Sempurna Blaugrana Terhenti

PSG mengalahkan Barcelona 4-2 di Liga Champions 2026/2027. Gol Vitinha dan Fabián Ruiz memastikan kemenangan sekaligus menghentikan rekor sempurna Blaugrana.

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu
Prancis Mencekam! Kerusuhan di Paris, 1.200 Orang Ditangkap
Internasional

Prancis Mencekam! Kerusuhan di Paris, 1.200 Orang Ditangkap

Aksi demonstrasi pada 17-18 Oktober 2026 berubah menjadi peristiwa kelam bagi Prancis. Ratusan aparat terluka, gedung-gedung pemerintahan diserbu.

Lusianti Dwi Cahyani· 4 hari lalu