Runtut.com

Pemilu Israel dan Inflasi: Mengapa Kebijakan Fiskal Netanyahu Mulai Dikeluhkan Pemilih?

Pembengkakan biaya perang 350 miliar Shekel dan lonjakan inflasi membuat pemilih Israel menghukum kebijakan fiskal Netanyahu pada pemilu Knesset.

2 menit baca
PM Israel, Netanyahu, didampingi oleh istrinya, Sara, melambaikan tangan kepada para pendukung di kantor pusat partai Likud
PM Israel, Netanyahu, didampingi oleh istrinya, Sara, melambaikan tangan kepada para pendukung di kantor pusat partai Likud di Yerusalem setelah dirilisnya hasil jajak pendapat awal dalam pemilu Israel, Rabu, 28 Oktober 2026. — Foto AP/Ohad Zwigenberg

ISRAEL – Dinamika politik domestik Israel menjelang pemilihan umum parlemen (Knesset) tidak lagi hanya didominasi oleh perdebatan strategi militer atau doktrin keamanan nasional. Di tengah bayang-bayang konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah, perhatian publik domestik juga bergeser secara signifikan ke arah pembengkakan biaya hidup dan tekanan beban fiskal.

Operasi militer multi-front yang berlangsung berlanjut telah menguras anggaran negara secara masif. Menurut kalkulasi Bank of Israel yang dipublikasikan The Jerusalem Post pada laporan kuartal akhir (Oktober–November) 2026, estimasi akumulasi biaya perang dan pengeluaran pertahanan mencapai sekitar 350 miliar Shekel. 

Pembengkakan ini memaksa pemerintah memperlebar defisit anggaran nasional hingga mendekati angka 5%, jauh di atas batas aman yang direncanakan.

Implikasi dari kebijakan fiskal darurat ini berdampak langsung pada dompet pemilih Israel. Untuk menutupi pembiayaan alokasi militer dan pembayaran utang publik yang diproyeksikan melonjak hingga 70% dari Produk Domestik Bruto (PDB), pemerintah menerapkan berbagai penyesuaian anggaran yang menekan kelas menengah.

Kenaikan tarif pajak, pengurangan subsidi publik, serta tren inflasi pada komoditas pangan dan biaya sewa properti menjadi isu mendesak bagi para konstituen. Berdasarkan temuan data dari Israel Democracy Institute pada awal November, sektor ekonomi dan biaya hidup menduduki peringkat teratas sebagai faktor penentu utama pemilih dalam menentukan arah suara mereka, melampaui isu keamanan bagi kelompok pemilih moderat dan oposisi.

“Realisasi standar hidup sangat bergantung pada daya beli. Masyarakat Israel kini berhadapan langsung dengan tingkat harga yang lebih tinggi dan penurunan upah riil," ujar pakar ekonomi Universitas Ibrani Yerusalem dalam analisis yang dirilis oleh Al Jazeera pada 10 Oktober lalu.

Situasi ini menempatkan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu dalam posisi dilematis. Di satu sisi, ia terus mendorong ekspansi anggaran pertahanan untuk menjaga stabilitas keamanan. 

Namun di sisi lain, ketidakpuasan publik atas pembengkakan biaya hidup menjadi amunisi utama bagi blok oposisi yang dipimpin seperti Yoav Gallant dan Yair Lapid untuk menyerang tata kelola ekonomi pemerintah.

Pasar keuangan dan pelaku bisnis di Tel Aviv pun mencermati dengan ketat. Mengutip laporan analisis pasar di The National pada 28 Oktober lalu, keberlanjutan stabilitas mata uang Shekel dan daya tarik investasi sektor teknologi sangat bergantung pada kepastian arah kebijakan fiskal pasca-pemilu. 

Jika pemilih memutuskan untuk 'menghukum' penurunan daya beli di kotak suara, peta koalisi politik Israel dipastikan akan mengalami pergeseran mendasar.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Rantai Pasok Global Terganggu Perang Timur Tengah, Ini 5 Dampaknya pada Indonesia
Internasional

Rantai Pasok Global Terganggu Perang Timur Tengah, Ini 5 Dampaknya pada Indonesia

Perang di Timur Tengah ganggu rantai pasok global. Simak 5 dampak langsungnya terhadap harga BBM, biaya logistik, hingga inflasi di Indonesia.

Rani Masida· 14 jam lalu
Aplikasi Darurat Rusia dan Ukraina Diretas, Pesan Palsu Serangan Nuklir Dibalas Meme
Internasional

Aplikasi Darurat Rusia dan Ukraina Diretas, Pesan Palsu Serangan Nuklir Dibalas Meme

Aplikasi darurat Rusia dan Ukraina diretas serentak, sebarkan peringatan palsu nuklir yang justru ditanggapi santai oleh warga.

Rani Masida· 2 hari lalu
Iran: Iran-Amerika Serikat Masih Jauh dari Sepakat untuk Akhiri Perang
Internasional

Iran: Iran-Amerika Serikat Masih Jauh dari Sepakat untuk Akhiri Perang

"Syarat Teheran harus dipenuhi jika AS ingin Hormuz dibuka. Pembahasan nuklir hanya bisa dimulai setelahnya."

Andini Putri Lestari· 2 hari lalu
Serangan Siber Global Guncang Binance, Kerugian Capai Triliunan Rupiah
Internasional

Serangan Siber Global Guncang Binance, Kerugian Capai Triliunan Rupiah

Binance dibobol Rp114,98 triliun akibat serangan siber canggih dan rekayasa sosial, manajemen pastikan dana pengguna diamankan.

Rani Masida· 2 hari lalu
Raja Yordania: Tidak Ada Keamanan atau Stabilitas Kawasan tanpa Tanah Air Palestina
Internasional

Raja Yordania: Tidak Ada Keamanan atau Stabilitas Kawasan tanpa Tanah Air Palestina

“Kami menegaskan kembali, berulang kali, bahwa tidak akan ada keamanan atau stabilitas di kawasan kami tanpa menegakkan hak rakyat Palestina."

Andini Putri Lestari· 3 hari lalu
325 Orang Ditangkap dalam Aksi Dukung Palestine Action di Inggris, Ada Lansia 94 Tahun
Internasional

325 Orang Ditangkap dalam Aksi Dukung Palestine Action di Inggris, Ada Lansia 94 Tahun

Inggris menangkap ratusan demonstran yang menyuarakan dukungan kepada Palestine Action. Kebijakan pelarangan organisasi itu kini digugat di pengadilan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 4 hari lalu