RUNTUT.COM — Kepiting tapal kuda (Tachypleus gigas) memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan laba-laba dan kalajengking dibandingkan dengan kepiting lain. Temuan tersebut diketahui melalui penelitian genetika yang menempatkan hewan laut bercangkang keras itu ke dalam kelompok Arachnida, kelompok yang selama ini dikenal sebagai tempat hidup laba-laba, kalajengking, tungau, dan kutu.

Kepiting tapal kuda merupakan hewan laut berbentuk menyerupai perisai dengan ekor panjang dan runcing. Meski memiliki nama kepiting, hewan ini tidak termasuk dalam kelompok krustasea seperti kepiting pada umumnya.

Berdasarkan catatan fosil, spesies ini telah ada sejak sekitar 450 juta tahun lalu dan mengalami perubahan bentuk yang relatif sedikit sepanjang perjalanan evolusinya.

Hubungan kepiting tapal kuda dengan kelompok Arachnida sebelumnya telah menjadi pembahasan di kalangan ilmuwan. Ahli biologi evolusi E. Ray Lankester pernah mengusulkan bahwa kepiting tapal kuda memiliki kedekatan dengan laba-laba dan kalajengking. Namun, keterbatasan teknologi penelitian pada masa itu membuat kesimpulan tersebut belum dapat dipastikan melalui analisis molekuler.

Penelitian yang dilakukan oleh Jesús Ballesteros dan Prashant Sharma dari University of Wisconsin-Madison kemudian menganalisis data genetik kepiting tapal kuda untuk menentukan posisi hewan tersebut dalam pohon evolusi Arachnida.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Systematic Biology menunjukkan bahwa kepiting tapal kuda merupakan bagian dari kelompok tersebut.

“Dengan menunjukkan bahwa kepiting tapal kuda adalah bagian dari radiasi Arachnida, dan bukan garis keturunan yang terkait erat tetapi independen dari Arachnida, semua hipotesis sebelumnya tentang evolusi Arachnida perlu direvisi,” ujar Jesús Ballesteros, dikutip dari Science Daily.

Salah satu alasan kepiting tapal kuda memiliki kedekatan dengan laba-laba terlihat dari struktur tubuhnya. Keduanya sama-sama memiliki delapan kaki utama untuk bergerak.

Kepiting tapal kuda juga memiliki anggota tubuh tambahan yang berfungsi membantu aktivitasnya, meski bentuknya berbeda dengan capit pada kepiting biasa.

Selain jumlah kaki, kesamaan lain terlihat pada sistem pernapasan. Kepiting tapal kuda menjadi salah satu hewan laut yang menggunakan insang buku untuk mengambil oksigen dari air. Struktur tersebut memiliki kemiripan dengan paru-paru buku yang digunakan oleh beberapa hewan Arachnida seperti laba-laba dan kalajengking.

Keunikan lain dari kepiting tapal kuda adalah warna darahnya yang biru. Warna tersebut berasal dari kandungan hemocyanin, yaitu senyawa yang mengandung tembaga dan berfungsi membawa oksigen dalam tubuh. Hal ini berbeda dengan manusia dan banyak hewan lain yang menggunakan hemoglobin berbasis zat besi.

Meski hubungan evolusinya semakin jelas, para ilmuwan masih menghadapi pertanyaan mengenai bagaimana kepiting tapal kuda dapat bertahan hidup di laut, sementara sebagian besar kerabatnya dalam kelompok Arachnida hidup di daratan.

Peneliti menduga terdapat dua kemungkinan, yakni nenek moyang Arachnida berasal dari lingkungan air lalu sebagian kelompok beradaptasi ke daratan, atau kelompok darat tertentu kembali berevolusi menuju habitat laut.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan evolusi makhluk hidup berlangsung melalui proses panjang dan kompleks. Perbedaan bentuk fisik tidak selalu menunjukkan hubungan kekerabatan yang sebenarnya, karena informasi genetika dapat mengungkap hubungan antarspesies yang sebelumnya sulit diketahui.