Runtut.com

Swedia Buntu Bentuk Pemerintahan Usai Blok Kiri Menang Tipis

Blok kiri-tengah menang 176 kursi berbanding 173 di pemilu Swedia. Magdalena Andersson belum berhasil membentuk pemerintahan. Simak penyebabnya.

2 menit baca
Gedung parlemen Riksdag di Stockholm.
Gedung parlemen Riksdag di Stockholm. — Pixabay/Erich Westendarp

Menang pemilu belum berarti memegang pemerintahan. Itulah pelajaran dari Swedia, ketika blok kiri-tengah yang unggul tipis pada pemilu 13 September 2026 justru belum berhasil membentuk pemerintah baru.

Menang dengan tiga kursi

Menurut IDN Times, blok oposisi kiri-tengah memperoleh 176 dari 349 kursi parlemen (Riksdag), unggul tiga kursi atas blok kanan-tengah yang meraih 173 kursi. Selisih sekecil itu membuat pembentukan pemerintahan sulit sejak awal. Hasil awal juga menunjukkan Partai Demokrat Swedia, yang menopang koalisi Perdana Menteri Ulf Kristersson dari luar, kehilangan dukungan untuk pertama kalinya sejak 2010, menurut BaliNews. Kampanyenya didominasi isu keamanan nasional, kejahatan geng, dan pengeluaran kesejahteraan.

Bisnis.com mencatat bahwa Kristersson meminta dibebastugaskan sebagai perdana menteri setelah kekalahan, sementara Magdalena Andersson dari Partai Demokrat Sosial menyatakan siap memimpin pemerintahan baru.

Mengapa sulit berjalan

Menurut Batampos, Andersson mendapat mandat dari Ketua Parlemen Andreas Norlen pada 18 September, lalu menyatakan tidak mampu mendapatkan dukungan cukup setelah berbicara dengan partai-partai blok kiri. Persoalannya ada pada komposisi. Blok itu terdiri atas Partai Demokrat Sosial, Partai Kiri, Partai Tengah, dan Partai Hijau. Partai Tengah menyatakan tidak akan mendukung pemerintahan yang memberi jabatan kabinet kepada Partai Kiri, sementara Partai Kiri menginginkan keterwakilan di pemerintahan. Andersson sendiri sebelumnya menyatakan tidak berencana memasukkan Partai Kiri ke kabinet.

Pemerintahan Kristersson kini berstatus sementara. Menurut Batampos, Ketua Parlemen memiliki empat kesempatan mengajukan kandidat perdana menteri kepada Riksdag.

Dua kubu, dua garis merah

Kebuntuan ini bukan hanya milik kiri. Sebelum pemilu, Kristersson sempat menjanjikan kursi kabinet bagi Partai Demokrat Swedia jika koalisinya menang, lapor Surabaya Inside. Setelah hasil keluar, ia mengatakan bahwa jika semua garis merah tetap berlaku, Swedia tidak akan memiliki pemerintahan sama sekali, merujuk penyiar publik SVT.

Aturan main yang membuatnya rumit

Dalam sistem Swedia, calon perdana menteri tidak harus didukung mayoritas, tetapi tidak boleh ditolak lebih dari separuh anggota parlemen. Karena itu, perhitungannya bukan sekadar siapa yang punya 176 kursi, melainkan siapa yang bisa dicegah memberi suara menolak. Bila empat usulan berturut-turut gagal, aturan konstitusi Swedia membuka jalan bagi pemilu ulang.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua