BOGOR - Kemacetan di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, telah menjadi "ritual" mingguan yang melelahkan selama lebih dari empat dekade. Setiap akhir pekan atau hari libur nasional, ribuan kendaraan terjebak dalam antrean mengular. Berbagai solusi jangka pendek seperti sistem buka-tutup jalur (one way) hingga ganjil-genap telah diterapkan, namun volume kendaraan yang terus melonjak membuat skema tersebut hanya menjadi pereda nyeri sementara. Di tengah kebuntuan relaksasi jalur darat ini, sebuah rencana ambisius lahir ke permukaan: memindahkan jalur mobilitas wisatawan dari aspal menuju rel dan tali baja di langit Puncak.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor bersama pemerintah pusat kini tengah menggodok secara intensif rencana pembangunan transportasi massal berbasis rel dan kereta gantung (cable car). Proyek infrastruktur modern ini dirancang bukan sekadar sebagai atraksi wisata baru, melainkan sebagai alternatif nyata penanganan kemacetan di koridor tersebut yang selama ini sangat bergantung pada jalan raya.
Dari Ide Menuju Kajian Formal
Gagasan untuk membangun moda transportasi layang di Puncak sejatinya melewati jalan berliku yang cukup panjang. Wacana ini mulai mencuat secara serius ke publik pada pertengahan tahun 2019. Kala itu, Kementerian Perhubungan melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mulai menyadari bahwa kapasitas jalan arteri Puncak sudah tidak lagi mampu menampung laju pertumbuhan kendaraan pribadi.
Memasuki tahun 2021 hingga 2022, gagasan tersebut dinaikkan statusnya menjadi kajian teknis formal. BPTJ menyusun dokumen Outline Business Case (OBC) untuk memetakan kelayakan finansial dan teknis proyek. Hasil kajian awal tersebut mengejutkan banyak pihak karena skala proyek yang ternyata sangat masif, dengan estimasi total kebutuhan investasi menyentuh angka Rp7,31 triliun. Nilai fantastis ini direncanakan untuk mendanai dua sistem transportasi yang saling terintegrasi: moda Automated Guideway Transit (AGT) berbasis rel di bawah dan sistem pemindah penumpang menggunakan kereta gantung (cable car) menuju titik tertinggi. Setelah sempat melambat, wacana ini kembali dibuka dan dipertajam secara intensif oleh Pemkab Bogor pada Juli 2026.
Konsep Rute, Stasiun, dan Strategi Park and Ride
Inti dari proyek kereta Puncak ini adalah memaksa terjadinya migrasi moda transportasi. Wisatawan yang semula menggunakan mobil pribadi atau bus pariwisata diharapkan menyudahi perjalanan darat mereka sebelum memasuki titik-titik krusial macet parah. Pemkab Bogor pun telah memetakan rancangan dua titik perhentian utama proyek ini.
"Konsep semuanya sudah ada, jadi kami bikin namanya selter atas selter bawah. Selter bawahnya dari mulai sebelum Gadog, yaitu Summarecon. Summarecon kami punya lahan di situ, untuk park and ride-nya. Lalu, titik akhirnya Rest Area (Gunung Mas) Puncak," ujar Rudy di Cibinong, Rabu (8/7/2026).
Penentuan titik awal di kawasan Summarecon Gadog difungsikan sebagai kantong parkir raksasa (park and ride) bagi wisatawan agar kendaraan pribadi tidak menumpuk ke atas. Sementara itu, pemilihan titik akhir di Rest Area Gunung Mas dinilai sangat strategis karena lokasinya yang luas dan bertindak sebagai pusat integrasi pariwisata di titik tertinggi Puncak. Dalam rencana pra-desain, jalur layang ini juga diproyeksikan akan terbagi ke dalam beberapa stasiun intermediasi di dekat titik destinasi wisata strategis.







