Potret pertunjukan teatrikal sebagai bentuk kritik kebakaran hutan di Jambi dan Palembang — Instagram: @ichalago
JAMBI – Sejumlah seniman menyuarakan keresahan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kabut asap melalui karya seni pertunjukan di Jambi. Lewat tarian, busana adat, topeng oksigen, hingga visualisasi hutan yang hangus terbakar, mereka mengajak masyarakat melihat krisis lingkungan sebagai persoalan yang mengancam kehidupan manusia dan ekosistem.
Salah satu karya yang disorot adalah Parade Asap, sebuah rangkaian kegiatan seni yang menghadirkan pemutaran video art, pameran, dan diskusi bersama publik. Karya tersebut menjadi ruang bagi seniman untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi lingkungan sekaligus mempertanyakan dampak karhutla yang dirasakan masyarakat.
Potret pertunjukan teatrikal sebagai bentuk kritik kebakaran hutan di Jambi dan Palembang — Instagram: @ichalago
Busana Adat dan Masker Jadi Simbol Krisis Lingkungan
Salah satu visual yang dihadirkan memperlihatkan penari mengenakan busana adat dengan masker atau alat pelindung pernapasan di tengah lanskap lahan yang terbakar. Perpaduan tersebut menghadirkan kontras antara kekayaan budaya dan kerusakan lingkungan yang mengancam kehidupan masyarakat.
Seniman asal Jambi, Ichalago Chaniago, turut menyuarakan persoalan karhutla melalui karya visual yang menggambarkan perempuan berbaju adat dan mengenakan masker di tengah hutan hangus. Karya tersebut memperlihatkan bagaimana pencemaran udara memengaruhi kehidupan sehari-hari sekaligus mengancam ruang hidup masyarakat.
Sementara itu, penari yang menggunakan busana adat dan topeng oksigen turut hadir dalam karya yang dibagikan melalui akun media sosial terkait gerakan Menjaga Api. Visual tersebut memperlihatkan bahwa kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang, melainkan ancaman yang memengaruhi kesehatan, kebudayaan, dan lingkungan.
Melalui pendekatan artistik, para seniman berupaya membawa persoalan karhutla lebih dekat kepada publik. Mereka menggunakan simbol dan pertunjukan untuk menggambarkan dampak bencana yang terkadang terasa jauh ketika hanya disampaikan melalui angka atau laporan.
Kegiatan Parade Asap juga menghadirkan ruang diskusi melalui pertanyaan, “Siapa yang terbakar? Siapa yang terpapar?” Pertanyaan tersebut mengajak publik merenungkan siapa saja yang menanggung dampak kerusakan lingkungan dan sejauh mana persoalan karhutla memengaruhi kehidupan masyarakat.
Dampak kebakaran hutan tidak hanya dirasakan manusia melalui kualitas udara yang memburuk. Kerusakan ekosistem juga mengancam habitat satwa dan menghilangkan ruang hidup berbagai makhluk yang bergantung pada hutan.
Melalui karya-karya tersebut, seniman menyampaikan pesan bahwa krisis lingkungan membutuhkan perhatian bersama. Kerusakan hutan dan pencemaran udara tidak seharusnya dipandang sebagai kejadian yang berulang tanpa penyelesaian.
Potret pertunjukan teatrikal sebagai bentuk kritik kebakaran hutan di Jambi dan Palembang — Instagram: @ichalago
Seni Menjadi Medium Kritik dan Kesadaran Publik
Keterlibatan seniman dalam menyuarakan karhutla memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi medium kritik sosial sekaligus sarana membangun kesadaran lingkungan. Pesan yang disampaikan melalui tarian, fotografi, dan video art memungkinkan masyarakat melihat persoalan ekologis dari sudut pandang yang lebih dekat dengan pengalaman manusia.
Pakar kajian budaya dan media Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan, menilai seni memiliki kemampuan untuk menggugah kesadaran publik terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Menurutnya, karya seni dapat mempertanyakan kondisi yang telanjur dianggap biasa oleh masyarakat.
Di tengah persoalan karhutla yang terus menjadi perhatian, karya para seniman menjadi pengingat bahwa hutan bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup bagi manusia dan berbagai makhluk lainnya.
Melalui aksi artistik tersebut, para seniman berharap persoalan kabut asap dan kerusakan lingkungan tidak berhenti menjadi perbincangan sesaat. Kesadaran publik perlu diikuti kepedulian dan langkah nyata untuk menjaga lingkungan serta mencegah kebakaran hutan dan lahan.