Banjir di Padang pada 10 Oktober 2026 merendam 120 rumah dan berdampak pada ratusan warga. Tim gabungan melakukan evakuasi dan menyalurkan bantuan air bersih.
PADANG - Banjir melanda sejumlah kawasan di Kota Padang, Sumatera Barat, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak Sabtu (10/10/2026). Bencana ini berdampak pada ratusan warga, merendam sekitar 120 rumah, merusak sejumlah bangunan, serta memutus akses jalan di kawasan Guo, Kecamatan Kuranji.
Berdasarkan pendataan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang hingga Sabtu pukul 22.45 WIB, sebanyak 225 kepala keluarga atau 498 jiwa terdampak banjir. Wilayah terdampak meliputi tiga kecamatan, yakni Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo, dengan enam kelurahan yang tercatat dalam laporan BPBD.
Keenam kelurahan tersebut adalah Kuranji, Lubuk Minturun, Koto Panjang Ikua Koto, Batipuh Panjang, Tabing Banda Gadang, dan Gurun Laweh. Data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring pendataan lanjutan di lapangan.
Hujan mulai mengguyur Kota Padang sejak Sabtu sekitar pukul 12.00 WIB. Laporan awal banjir diterima dari wilayah Kuranji pada pukul 12.52 WIB. Banjir kemudian melanda sejumlah permukiman, termasuk kawasan Kampung Apa, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Kecamatan Koto Tangah.
Pemerintah Kota Padang menyebut tingginya intensitas hujan menyebabkan aliran Sungai Lubuk Minturun meluap dan merendam permukiman warga. Kawasan Koto Tangah, Kuranji, dan Nanggalo menjadi wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan darurat.
Dampak banjir tidak hanya berupa genangan. BPBD mencatat empat rumah mengalami kerusakan sedang dan satu rumah rusak berat di Kecamatan Kuranji. Akses jalan utama masyarakat di kawasan Guo juga dilaporkan terputus akibat banjir.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang Hendri Zulviton menyebut tingginya curah hujan menjadi pemicu utama kejadian tersebut. Ia juga menyoroti kondisi sejumlah sungai yang masih mengalami pendangkalan akibat bencana banjir besar pada tahun sebelumnya. Perbaikan telah dilakukan, tetapi kondisi sungai belum sepenuhnya pulih.
Ratusan Warga Dievakuasi, Angka Pengungsian Masih Diperbarui
Tim SAR gabungan yang melibatkan BPBD, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, TNI, Polri, dan unsur pemerintah daerah melakukan evakuasi warga ke lokasi yang lebih aman.
Hingga pendataan yang dilaporkan pada Minggu (11/10/2026), sebanyak 238 jiwa telah dievakuasi dari sejumlah titik terdampak. Rinciannya meliputi 20 jiwa dari Lapau Munggu, lima jiwa dari Guo, 30 jiwa dari Perumahan Abi, lima jiwa dari Kampung Apa, serta 178 jiwa dari Perumahan Lumin Park di Lubuk Minturun.
Namun, angka pengungsian yang dilaporkan sejumlah media masih menunjukkan perbedaan. Keterangan BNPB yang dikutip Metro TV dan Okezone menyebut sebanyak 672 jiwa dilaporkan mengungsi di Kecamatan Kuranji, sementara pendataan BPBD mencatat 498 jiwa terdampak secara keseluruhan.
Perbedaan tersebut masih memerlukan klarifikasi mengenai cakupan wilayah, waktu pendataan, dan kategori warga yang dihitung. Karena itu, angka pengungsian belum dapat dipastikan sebagai jumlah final.
Pemerintah menyatakan penanganan darurat dilakukan secara terpadu. Selain evakuasi, petugas mendirikan posko pengungsian, menyediakan layanan kesehatan, serta menyalurkan kebutuhan dasar bagi warga. Anak-anak, lansia, dan kelompok rentan menjadi prioritas dalam pelayanan di lokasi terdampak.
Memasuki Minggu, BPBD Kota Padang mulai menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak banjir. Sebanyak 9.000 liter air didistribusikan menggunakan mobil tangki ke dua titik di Kecamatan Koto Tangah, yakni Masjid Raya Ikur Koto dan kawasan Pasia Nan Tigo.
Bantuan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, termasuk memasak, minum, mandi, dan sanitasi setelah permukiman mereka terdampak banjir.
BPBD menyatakan penyaluran air bersih dapat dilanjutkan apabila ada permintaan dari warga. Langkah ini penting untuk mencegah kesulitan akses air bersih selama proses pembersihan rumah dan pemulihan lingkungan pascabanjir.
Sementara itu, Polri melaporkan pengerahan 300 personel Brimob untuk membantu penanganan banjir dan evakuasi warga. Petugas gabungan juga terus memantau kawasan terdampak serta mengimbau warga agar tidak kembali ke rumah yang masih berisiko terendam sebelum dinyatakan aman.
Hingga Minggu, BPBD menyebut banjir yang terjadi pada Sabtu tidak menimbulkan korban jiwa. Meski demikian, genangan meninggalkan material di sejumlah permukiman dan kerusakan pada beberapa rumah.
Pekerjaan Jangka Panjang Pemulihan Sungai
Banjir di Padang kembali memperlihatkan tantangan penanganan bencana hidrometeorologi di kawasan perkotaan. Curah hujan tinggi menjadi pemicu langsung, sementara kondisi aliran sungai yang belum sepenuhnya pulih setelah bencana sebelumnya turut menjadi faktor yang perlu ditangani.
Pendangkalan sungai dapat mengurangi kapasitas aliran air, sehingga evaluasi kondisi sungai, pemeliharaan drainase, dan pemulihan infrastruktur pengendali banjir perlu menjadi bagian dari upaya mitigasi jangka panjang. Namun, penetapan faktor penyebab secara menyeluruh tetap membutuhkan kajian teknis terhadap kondisi sungai, daerah aliran sungai, tata guna lahan, dan sistem drainase setempat.
Pemerintah Kota Padang dan BPBD mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan rawan banjir, untuk tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan, tanah longsor, dan pohon tumbang selama cuaca buruk masih berpotensi terjadi.
Penanganan banjir selanjutnya tidak hanya bergantung pada kecepatan evakuasi dan distribusi bantuan, tetapi juga pada ketepatan pendataan korban, pemulihan akses warga, serta langkah mitigasi yang mampu mengurangi risiko bencana berulang.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab