Runtut.com

Sebelum Pentas Komedi Tunggal Menjamur, Ada Ramon Papana

Sebelum pertunjukan komedi tunggal marak di Indonesia, Ramon Papana telah memperkenalkan stand-up comedy melalui Comedy Cafe sejak 1997.

9 menit baca
1
Ramon Papana
Ramon Papana — Foto: Instagram/theramonpapana

RUNTUT.COM - Jauh sebelum pertunjukan berupa satu orang berdiri dengan mikrofon dan membuat ratusan penonton tertawa, televisi Indonesia era 1990-an lebih akrab dengan kelompok-kelompok lawak. Ada Warkop DKI dengan Dono, Kasino, dan Indro; Bagito dengan Didin, Miing, dan Unang; Patrio dengan Parto, Akri, dan Eko; serta sederet grup lawak lain yang silih berganti mengisi layar kaca. Mereka datang dengan karakter masing-masing, dialog yang saling bersahutan, dan kelucuan yang dibangun melalui interaksi antarpemain.

Nah, bagaimana jika komedi tidak lagi membutuhkan banyak pemain? Bagaimana jika seseorang cukup berdiri sendirian, memegang mikrofon, lalu membuat orang tertawa hanya dengan cerita dan sudut pandangnya tentang kehidupan?

Hari ini kita mengenalnya sebagai stand-up comedy atau komedi tunggal. Sebuah pertunjukan yang memang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya membutuhkan kemampuan mengamati, memilah kata, membaca situasi-interaksi, dan tentu saja, keberanian menghadapi penonton tanpa teman bermain untuk menyelamatkan suasana ketika leluconnya gagal.

Di Indonesia, stand-up comedy memang baru benar-benar meledak setelah hadirnya kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) di Kompas TV pada 2011. Tapi tahukah Anda, jauh sebelum televisi menjadikannya tontonan populer, ada seorang pria yang sudah lebih dahulu mencoba membangun panggungnya. Namanya Ramon Papana.

Dari Dunia Musik Menuju Panggung Komedi

Ramon Papana bukanlah seorang yang tiba-tiba muncul dari dunia komedi. Ia memiliki perjalanan panjang dalam industri hiburan. Lahir di Jakarta pada 1 April 1957, Ramon pernah menekuni musik dan profesi Disc Jockey (DJ). Pengalamannya membawanya ke sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Belanda, dan Swiss.

Pada 1979, ia kembali ke Indonesia dan melanjutkan kariernya di industri hiburan. Tahun 1988, bersama SC Low dan Mixmaster Marvin, ia mendirikan The Academy of Disc Jockey di Jakarta. Setahun kemudian, ia mendirikan Indonesian Disc Jockey School (IDJS).

Pengalamannya tidak berhenti pada musik. Ramon juga terlibat dalam produksi program televisi, penulisan naskah, dan pengembangan berbagai pertunjukan hiburan. Bersama Harry de Fretes, ia terlibat dalam produksi sejumlah program komedi, termasuk Lenong Rumpi dan Komedi Metropolitan.

Lingkungan hiburan yang akrab dengan lawak kelompok itulah yang kemudian mempertemukannya dengan gagasan untuk memperkenalkan komedi yang bertumpu pada kemampuan seseorang mengolah cerita, pengalaman, dan pengamatan terhadap kehidupan menjadi sebuah humor.

1992: Ketika Komedi Tunggal Mulai Diperkenalkan

Salah satu tahun penting dalam perjalanan komedi tunggal modern di Indonesia adalah 1992.

Bersama Harry de Fretes, Ramon Papana menyelenggarakan Lomba Lawak Tunggal di Boim Cafe, yang dikemas dengan nama Lomba Pidato Humor. Formatnya cukup berbeda dari pertunjukan lawak yang saat itu mendominasi televisi. Peserta diminta menyampaikan materi humor secara individual, menggunakan cerita, pengalaman, dan pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari.

Ramon bahkan menyebut istilah stand-up comedy dalam sambutan pembukaan kegiatan tersebut.

Ajang ini didukung sejumlah pihak, termasuk Majalah Humor, Radio SK, Boim Cafe, dan ANteve. Sejumlah nama yang tercatat dalam lingkungan kegiatan tersebut antara lain Ateng, Cholik, Harry de Fretes, Ade Juwita, Otong Lenon, Taufik Savalas, Tukul Arwana, dan Ade Namnung.

Tentu, tradisi melawak sendirian sebenarnya sudah jauh lebih tua dalam sejarah hiburan Indonesia. Sejumlah pelawak seperti Iskak, S. Bagyo, Bing Slamet, dan Edy Sud telah dikenal melalui pertunjukan humor individual sejak dekade 1950-an.

Karena itu, peran Ramon lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu perintis pengenalan dan pengembangan format stand-up comedy modern di Indonesia. Ia bukan pencipta tradisi melawak sendirian, tetapi ikut memperkenalkan format yang memiliki pendekatan, teknik, dan tradisi berbeda dari lawak konvensional.

Comedy Cafe: Ketika Belum Banyak yang Mau Tampil

Lima tahun setelah kegiatan di Boim Cafe, Ramon mendirikan Comedy Cafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Tanggal 12 Februari 1997 menjadi salah satu tonggak penting. Menurut catatan Ramon, pada hari itu Comedy Cafe mulai menyelenggarakan open mic yang terbuka bagi siapa saja.

Konsepnya tidaklah rumit, tetapi pada masa itu terbilang tidak lazim. Siapa pun boleh naik ke panggung, mengambil mikrofon, dan menyampaikan materi komedi. Tidak harus menjadi artis, tidak harus memiliki pengalaman tampil di televisi, dan tidak harus menjadi bagian dari kelompok lawak. Orang biasa pun memiliki kesempatan untuk menjadi komedian.

Tetapi, memperkenalkan gagasan baru tidak selalu mudah. Ramon menghadapi kenyataan bahwa masyarakat belum akrab dengan format tersebut. Mencari orang yang bersedia tampil saja bukan pekerjaan sederhana.

Dalam sejumlah penuturannya, Ramon menceritakan bagaimana ia sampai mengajak karyawan kafenya sendiri untuk mencoba naik panggung. Ada yang merasa takut, menghindar, bahkan tidak bersedia tampil.

Bayangkan sebuah kafe yang menyediakan panggung komedi, tetapi justru kesulitan mencari orang yang mau melucu?

Ramon Papana dalam peluncuran buku bersama penerbit Mediakita.
Ramon Papana dalam peluncuran buku Kitab Suci, Kiat Tahap Awal Belajar Stad Up Comedy di Comedy Cafe, Kemang. — Foto: doc. Mediakita

Ramon tetap menjalankan kegiatan open mic secara rutin. Ia memberikan kesempatan kepada pengunjung dan orang-orang yang tertarik mencoba. Panggung tersebut menjadi ruang belajar, tempat seseorang bisa menguji materi, memperbaiki cara penyampaian, dan memahami bagaimana membangun hubungan dengan penonton.

Di sinilah Comedy Cafe memiliki makna yang tak sekadar tempat pertunjukan. Ia menjadi salah satu ruang awal pembentukan ekosistem stand-up comedy modern di Indonesia.

Ada pengalaman menarik ketika saya berkunjung ke Comedy Cafe pada awal 2000-an. Bahkan sebelum menyaksikan pertunjukan, perhatian saya sudah tertuju pada sesuatu yang menghiasi dinding kafe. Tulisan-tulisan humor terpampang di sana, dengan kalimat-kalimat yang menggelitik, mengundang senyum, sekaligus membuat orang berpikir sejenak untuk menangkap maksudnya.

Rasanya seperti memasuki tempat yang tidak membiarkan pengunjungnya terlalu serius, bahkan ketika belum ada seorang pun naik ke panggung.

Dinding-dinding itu seolah memiliki pertunjukan sendiri. Tidak ada mikrofon, komika, tetapi kalimat-kalimatnya mampu menyampaikan humor melalui cara yang menggelitik.

Saya menikmati bagaimana humor tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan, melainkan menjadi bagian dari suasana ruang. Seakan-akan setiap sudut kafe memiliki keinginan untuk menyampaikan lelucon.

Ada sesuatu yang menarik dari tempat semacam itu. Ia tidak hanya menjual makanan dan minuman, tetapi juga menawarkan pengalaman kebudayaan. Orang datang untuk bertemu, berbincang, menikmati pertunjukan, dan mungkin menemukan keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah mereka lakukan.

Ketika mengingat Comedy Cafe, saya justru teringat bahwa sebuah panggung tidak harus tampak wah untuk melahirkan sesuatu yang besar. Kadang-kadang, perubahan dimulai dari ruangan kecil, mikrofon sederhana, dan seseorang yang bersedia memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.

Iwel Sastra dan Jalan Panjang Komedi Tunggal

Ramon Papana bukan satu-satunya nama yang perlu dicatat dalam sejarah perkembangan stand-up comedy Indonesia. Ada Iwel Sastra, yang juga memiliki perjalanan penting dalam memperkenalkan pertunjukan komedi tunggal.

Pada 6 Maret 2004, Iwel menggelar pertunjukan stand-up comedy di Gedung Kesenian Jakarta. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu tonggak penting karena komedi tunggal mulai diperkenalkan sebagai pertunjukan tersendiri di ruang kesenian.

Iwel menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda dengan Ramon, ia harus menjelaskan sebuah format komedi yang tidak bergantung pada kelompok pemain.

Perjalanan mereka memperlihatkan bahwa perkembangan stand-up comedy Indonesia tidak lahir simsalabim dalam satu malam. Ada sejumlah orang yang bekerja pada jalur berbeda, membangun pertunjukan, memperkenalkan teknik, dan mencari penonton.

Pada fase berikutnya, Comedy Cafe juga menjadi salah satu ruang yang disinggahi generasi komika baru, termasuk Pandji Pragiwaksono dan Raditya Dika. Internet kemudian memberikan kesempatan bagi penampilan mereka untuk menjangkau penonton yang lebih luas. Rekaman pertunjukan yang sebelumnya hanya dinikmati pengunjung kafe mulai beredar melalui YouTube.

Perubahan medium ini menjadi salah satu faktor yang membantu memperkenalkan stand-up comedy kepada generasi muda.

2011: SUCI dan Ledakan Popularitas Stand-up Comedy

Jika Ramon Papana dan Iwel Sastra merupakan bagian penting dari fase perintisan, maka 2011 menjadi momentum ketika stand-up comedy memasuki ruang keluarga Indonesia secara lebih luas.

Kompas TV menghadirkan kompetisi Stand Up Comedy Indonesia atau SUCI. Format kompetisi ini memperkenalkan komedi tunggal kepada jutaan penonton televisi. Orang-orang yang sebelumnya tidak pernah datang ke kafe untuk menonton open mic mulai mengenal istilah komika, punchline, roasting, set up, dan berbagai teknik komedi lainnya.

Nama-nama seperti Ernest Prakasa, Ryan Adriandhy, Kemal Palevi, dan para peserta SUCI lainnya mulai dikenal publik. Pandji Pragiwaksono juga memiliki peran penting dalam perkembangan ekosistem tersebut, baik melalui pertunjukan maupun pengembangan komunitas.

Pada periode yang sama, komunitas Stand Up Indo berkembang di berbagai kota. Stand-up comedy tidak lagi hanya menjadi pertunjukan di Jakarta, tetapi mulai menemukan ruang di kampus, kafe, komunitas kreatif, hingga kota-kota kecil.

Televisi memberikan panggung yang lebih luas. Internet mempercepat penyebaran popularitas. Sementara komunitas menyediakan tempat bagi orang-orang yang ingin belajar dan berkembang.

SUCI memang menjadi salah satu titik ledakan popularitas stand-up comedy Indonesia, tetapi bukan titik kelahirannya. Sebelum kamera televisi menyorot para komika, sudah ada orang-orang yang lebih dahulu berusaha menyalakan mikrofon.

Panggung Menjadi Ruang Kebebasan Berekspresi

Ada hal lain yang membuat stand-up comedy menarik untuk dibicarakan di luar persoalan hiburan. Komedi tunggal memberi ruang bagi seseorang untuk menyampaikan pengamatan, kritik, kegelisahan, bahkan pengalaman pahit melalui humor.

Seorang komika dapat berbicara tentang kemiskinan, birokrasi, diskriminasi, relasi kuasa, kehidupan keluarga, politik, agama, hingga absurditas kehidupan sehari-hari.

Ia tidak membutuhkan banyak pemain untuk membangun sebuah cerita. Cukup satu orang dengan sudut pandang yang kuat dan kemampuan merangkai kata.

Tentunya, kebebasan tersebut juga memiliki batas dan konsekuensi. Materi komedi dapat memunculkan perdebatan, terutama ketika menyentuh identitas, keyakinan, atau pengalaman kelompok tertentu. Namun, di situlah stand-up comedy memperlihatkan karakter uniknya sebagai bentuk ekspresi publik. Ia memungkinkan seseorang menguji gagasan melalui tawa, sekaligus mengajak penonton melihat sesuatu dari sudut pandang yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan.

Komedi bukan hanya tentang siapa yang paling lucu. Ada kemampuan mengamati, mengolah pengalaman, menyusun argumentasi, dan membaca situasi sosial di baliknya.

Open Mic dan Persoalan Hak Intelektual

Perjalanan Ramon Papana juga memiliki babak yang tidak selalu berjalan mulus. Pada 2015, Ramon mendaftarkan merek Open Mic Indonesia ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Keputusan tersebut memicu perdebatan di kalangan komika. Sejumlah komika, termasuk Ernest Prakasa dan Pandji Pragiwaksono, mempersoalkan pendaftaran istilah yang selama ini digunakan secara luas oleh komunitas stand-up comedy.

Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi sengketa hukum. Pada April 2023, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan gugatan pembatalan merek Open Mic Indonesia. Istilah tersebut tidak lagi menjadi merek eksklusif Ramon Papana dan dapat digunakan secara umum.

Peristiwa ini memperlihatkan persoalan yang menarik dalam perkembangan industri kreatif perihal bagaimana membedakan kontribusi seseorang dalam membangun sebuah ekosistem dengan kepemilikan atas istilah yang telah menjadi bahasa bersama komunitas.

Kontribusi Ramon dalam sejarah stand-up comedy Indonesia tetap menjadi bagian penting yang patut dicatat. Namun, perkembangan sebuah kebudayaan juga melibatkan banyak orang dan tidak bisa dimiliki oleh satu individu.

Dari Comedy Cafe Hingga Panggung Cilegon

Hari ini, stand-up comedy telah menjadi industri hiburan dengan ekosistem yang jauh lebih besar dibandingkan ketika Ramon Papana mulai memperkenalkannya.

Ada festival komedi, pertunjukan tur nasional, kompetisi, sekolah komedi, komunitas lokal, hingga komika yang memiliki jutaan pengikut di media sosial.

Di berbagai kota, anak-anak muda mulai berani naik ke panggung open mic. Mereka membawa cerita tentang kehidupan di daerahnya, pengalaman bekerja, persoalan keluarga, kegelisahan sosial, hingga kritik terhadap kebijakan publik.

Mungkin mereka tidak selalu mengetahui siapa Ramon Papana. Bisa jadi mereka juga tidak pernah mendengar cerita tentang bagaimana Comedy Cafe dahulu kesulitan mencari orang yang bersedia tampil. Tetapi setiap kali seseorang naik ke panggung open mic dan mencoba membuat orang lain tertawa dengan materi ciptaannya sendiri, ada bagian dari sejarah panjang itu yang terus berjalan.

Menariknya, semangat tersebut kini juga tumbuh di Cilegon, Banten. Komunitas Stand-Up Cilegon terus memberikan ruang bagi para komika lokal untuk mengasah kemampuan, menguji materi, dan mempertemukan karya mereka dengan penonton.

Kali ini, mereka akan menggelar Grand Final Recomic Season 6 pada Sabtu, 7 November 2026, pukul 18.00 WIB hingga selesai, bertempat di Aula DPRD Cilegon.

Enam musim perjalanan kompetisi tentu menyimpan cerita, proses, dan keberanian para peserta untuk mengolah keresahan menjadi tawa. Akan ada para finalis yang berusaha membuktikan kemampuan mereka, menyampaikan sudut pandang, dan tentu saja, merebut perhatian penonton melalui materi komedi masing-masing.

Jadi, bagi warga Cilegon dan sekitarnya, jangan lewatkan momen mengocok perut ini! Datang, dukung komika lokal, dan nikmati bagaimana cerita-cerita sederhana bisa berubah menjadi hiburan yang mengundang gelak tawa.

Siapa tahu, dari panggung Cilegon malam itu, akan lahir nama-nama baru yang kelak ikut meramaikan panggung komedi nasional.

Ramon Papana mungkin tidak membangun industri stand-up comedy Indonesia seorang diri. Ada banyak nama, komunitas, dan generasi yang ikut membentuknya. Namun, keberadaan Comedy Cafe dan upaya yang dilakukannya sejak dekade 1990-an menjadi pengingat bahwa sebelum sebuah kebudayaan menjadi populer, selalu ada orang-orang yang berani memperkenalkannya ketika belum banyak yang percaya.

Grand Final Recomic Season 6.
Grand Final Recomic Season 6. — Foto: threads/@standupindo_cilegon

Sebab, terkadang, untuk membuat satu ruangan tertawa, kita tidak membutuhkan banyak pemain. Kita hanya membutuhkan satu orang, satu mikrofon, keberanian untuk berbicara, dan penonton yang bersedia mendengarkan.

Dan siapa tahu, tawa berikutnya justru lahir dari panggung kecil di kota kita sendiri.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Rumah Berhantu Kian Diminati Anak Muda di Jepang, Apa Penyebabnya?
Pop Culture

Rumah Berhantu Kian Diminati Anak Muda di Jepang, Apa Penyebabnya?

Rumah berstigma di Jepang diburu pembeli karena harganya bisa turun hingga 50 persen. Simak faktor di balik fenomena jiko bukken.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 hari lalu
Tren Solo Traveling Perempuan di Asia Tumbuh, Apa Pemicunya?
Pop Culture

Tren Solo Traveling Perempuan di Asia Tumbuh, Apa Pemicunya?

Solo traveling perempuan di Asia semakin diminati berkat kemandirian finansial, kebutuhan me time, dan kemudahan teknologi perjalanan.

Rani Masida· 5 hari lalu
Mendaki Gunung Makin Diminati, Aturan dan Keselamatan Tetap Diutamakan
Pop Culture

Mendaki Gunung Makin Diminati, Aturan dan Keselamatan Tetap Diutamakan

Tren mendaki gunung perlu diimbangi kepatuhan terhadap jalur resmi, persiapan keselamatan, dan tanggung jawab menjaga kebersihan serta kelestarian alam.

Muhammad Rafi Ashidiq· 6 hari lalu
Holistic Health Jadi Cara Gen Z dan Milenial Indonesia Memaknai Hidup Sehat
Pop Culture

Holistic Health Jadi Cara Gen Z dan Milenial Indonesia Memaknai Hidup Sehat

Holistic health mengubah cara pandang tentang hidup sehat, mulai dari menjaga kebugaran, mengelola stres, hingga membangun rutinitas yang lebih seimbang.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu
Mengapa Membawa Tumbler Penting untuk Mengurangi Sampah Plastik?
Pop Culture

Mengapa Membawa Tumbler Penting untuk Mengurangi Sampah Plastik?

Penggunaan tumbler semakin relevan sebagai pilihan praktis bagi masyarakat yang ingin menerapkan gaya hidup ramah lingkungan di tengah aktivitas sehari-hari.

Muhammad Rafi Ashidiq· 2 minggu lalu
Mencari Destinasi Underrated? Intip Keunikan Wisata Gili Trawangan
Pop Culture

Mencari Destinasi Underrated? Intip Keunikan Wisata Gili Trawangan

Cari pengalaman liburan berbeda? Gili Trawangan menawarkan pesona laut jernih, aktivitas seru, hingga panorama sunset dengan latar pegunungan.

Muhammad Rafi Ashidiq· 2 minggu lalu