JAKARTA — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dan peningkatan aktivitas Gunung Sinabung di Sumatera Utara berdampak terhadap operasional penerbangan nasional. Sebanyak 467 penerbangan tercatat mengalami pembatalan atau gangguan, sementara delapan bandara ditutup sementara pada Minggu (6/9/2026) untuk memastikan keselamatan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik.

Data Kementerian Perhubungan dan laporan operasional penerbangan hingga Minggu malam mencatat ratusan penerbangan terdampak, terdiri atas 409 penerbangan domestik dan 58 penerbangan internasional. Kondisi tersebut membuat sekitar 150 ribu penumpang mengalami perubahan jadwal perjalanan akibat gangguan ruang udara.

Penutupan sejumlah bandara dilakukan setelah abu vulkanik terdeteksi berpotensi mengganggu jalur penerbangan. Partikel abu vulkanik yang berada di ketinggian jelajah pesawat dapat membahayakan mesin pesawat karena berisiko mengganggu sistem pembakaran dan komponen mesin apabila terhisap.

Otoritas navigasi penerbangan AirNav Indonesia bersama pihak terkait kemudian melakukan penghentian sementara operasional di sejumlah bandara hingga pukul 23.59 WIB. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk mitigasi keselamatan penerbangan, bukan karena kerusakan fasilitas bandara.

Delapan bandara yang mengalami penutupan sementara meliputi (1) Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang; (2) Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta; (3) Bandara Radin Inten II di Lampung, dan (4) Bandara Husein Sastranegara di Bandung.

Kemudian (5) Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan; (6) Bandara Budiarto di Curug Tangerang; (7) Bandara Muhammad Taufik Kiemas di Pesisir Barat Lampung, serta (8) Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang, Sumatera Utara.

Bandara Kualanamu terdampak akibat sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Sinabung. Sementara itu, sejumlah bandara di Pulau Jawa dan Sumatra mengalami gangguan akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang menghasilkan material vulkanik di wilayah udara sekitar Selat Sunda.

Dampak terbesar terjadi pada sejumlah bandara penghubung utama. Bandara Halim Perdanakusuma mencatat sebanyak 50 penerbangan dibatalkan dengan jumlah penumpang terdampak mencapai 4.379 orang.

Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta juga memengaruhi jadwal penerbangan dari berbagai daerah. Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali mencatat 42 penerbangan terdampak, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan mengalami pembatalan 28 penerbangan, sedangkan Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru mencatat sembilan rute penerbangan yang terdampak.

Gangguan penerbangan akibat abu vulkanik merupakan risiko yang kerap terjadi ketika aktivitas gunung api meningkat. Berbeda dengan kabut atau awan biasa, abu vulkanik dapat bertahan di atmosfer dan sulit terlihat oleh radar cuaca sehingga membutuhkan pemantauan khusus sebelum pesawat kembali beroperasi.

Kementerian Perhubungan mengimbau masyarakat yang memiliki jadwal penerbangan untuk memantau informasi terbaru dari maskapai dan otoritas bandara. Penyesuaian jadwal maupun pembatalan penerbangan dilakukan berdasarkan evaluasi kondisi udara serta faktor keselamatan penerbangan.