Runtut.com

Indonesia dan Malaysia Sepakati Pokok Perjanjian Pemindahan Narapidana, Ribuan WNI Berpeluang Dipulangkan

Indonesia dan Malaysia menyepakati pokok perjanjian transfer narapidana, membuka jalan pemulangan ribuan WNI yang menjalani hukuman di Malaysia.

3 menit baca
8
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menerima kunjungan Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Indonesia Yusril Ihza Mahendra
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menerima kunjungan Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Indonesia Yusril Ihza Mahendra di kantor PM Malaysia, Putrajaya, Senin (29/6/2026). — CNBC Indonesia

Malaysia - Pemerintah Indonesia dan Malaysia mencapai kesepakatan atas pokok-pokok perjanjian pemindahan narapidana (Transfer of Prisoners Agreement) yang akan menjadi dasar pemulangan warga negara masing-masing yang sedang menjalani proses hukum maupun hukuman pidana di kedua negara.

Kesepakatan tersebut diumumkan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, seusai melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, di Putrajaya, Malaysia, Senin (29/6). Pembahasan selanjutnya akan dilakukan pada tingkat teknis sebelum perjanjian ditandatangani kedua negara.

"Atas arahan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, pokok-pokok yang berkaitan dengan rancangan perjanjian pemindahan narapidana telah disepakati dan akan dibahas pada tingkat berikutnya," ujar Yusril.

Menurut Yusril, kerja sama tersebut menjadi prioritas pemerintah Indonesia mengingat besarnya jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini berada dalam sistem pemasyarakatan Malaysia.

"Pemerintah Indonesia memberikan perhatian besar terhadap kerja sama ini mengingat banyaknya warga negara Indonesia yang menjalani pidana di Malaysia," katanya.

Dalam perundingan tersebut, salah satu isu yang sempat menjadi perbedaan pandangan adalah mekanisme pemberian grasi atau bentuk pengampunan lainnya terhadap narapidana yang telah dipindahkan ke negara asal.

Malaysia sebelumnya mengusulkan agar pemberian remisi, amnesti, abolisi, maupun grasi terhadap narapidana yang dipindahkan tetap memerlukan persetujuan negara tempat putusan pidana dijatuhkan. Namun Indonesia menolak usulan tersebut.

"Mereka hanya berkewajiban memberitahukan kepada kita apabila remisi atau grasi diberikan. Kita sepenuhnya menghormati kewenangan mereka," ujar Yusril, menegaskan bahwa setelah pemindahan dilakukan, kewenangan pembinaan maupun pemberian pengampunan sepenuhnya berada di tangan negara penerima narapidana.

Yusril mengatakan, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyetujui prinsip tersebut karena pemindahan narapidana merupakan tanggung jawab penuh negara penerima.

Ia menilai perjanjian tersebut mencerminkan komitmen kedua negara dalam memberikan perlindungan kepada warga negara yang menghadapi persoalan hukum di luar negeri.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan hingga Juni 2026, terdapat 314 warga negara Malaysia dalam sistem pemasyarakatan Indonesia. Jumlah tersebut terdiri atas 47 tahanan dan 267 narapidana. Sebanyak 23 orang dijatuhi hukuman mati, 51 menjalani pidana penjara seumur hidup, dan sisanya menjalani hukuman penjara dengan berbagai masa pidana. Sebagian besar perkara berkaitan dengan tindak pidana narkotika, sementara lainnya meliputi pelanggaran keimigrasian, kesehatan, UU ITE, perlindungan pekerja migran, penipuan, perikanan, hingga tindak pidana pencucian uang.

Sementara itu, data pemerintah Malaysia menunjukkan terdapat 6.622 WNI dalam sistem pemasyarakatan negara tersebut, terdiri atas 1.722 tahanan dan 4.900 narapidana. Dari jumlah itu, dua orang merupakan terpidana mati dan 49 lainnya menjalani hukuman penjara seumur hidup.

Di antara WNI tersebut, sebanyak 62 orang tergolong kelompok rentan, yakni lanjut usia, penyandang gangguan kejiwaan, anak di bawah usia 18 tahun, penyandang disabilitas, perempuan hamil, serta ibu yang memiliki balita.

Apabila perjanjian tersebut resmi ditandatangani, Indonesia dan Malaysia akan memiliki dasar hukum untuk memindahkan warga negaranya masing-masing agar dapat menjalani sisa proses hukum maupun masa pidana di negara asal, sekaligus memperkuat perlindungan terhadap warga negara yang berhadapan dengan hukum di luar negeri.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
325 Orang Ditangkap dalam Aksi Dukung Palestine Action di Inggris, Ada Lansia 94 TahunBreaking
Internasional

325 Orang Ditangkap dalam Aksi Dukung Palestine Action di Inggris, Ada Lansia 94 Tahun

Inggris menangkap ratusan demonstran yang menyuarakan dukungan kepada Palestine Action. Kebijakan pelarangan organisasi itu kini digugat di pengadilan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 10 menit lalu
Learjet Jatuh di Permukiman Florida, Sembilan Orang di Dalam Pesawat TewasBreaking
Internasional

Learjet Jatuh di Permukiman Florida, Sembilan Orang di Dalam Pesawat Tewas

Jet bisnis Learjet 60 jatuh di permukiman Florida dan menewaskan sembilan orang. NTSB dan FAA menyelidiki penyebab kecelakaan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 5 jam lalu
Menteri Luar Negeri Iran Menilai Surat Panggilan AS sebagai Langkah Positif
Internasional

Menteri Luar Negeri Iran Menilai Surat Panggilan AS sebagai Langkah Positif

Delegasi Iran di Doha berupaya membicarakan kemungkinan dialog tersebut dengan mediator. “Asisten saya saat ini berada di Qatar untuk melanjutkan konsultasi."

Andini Putri Lestari· 1 hari lalu
Menilik Tradisi Unik Perayaan Halloween di Berbagai Belahan Dunia
Internasional

Menilik Tradisi Unik Perayaan Halloween di Berbagai Belahan Dunia

Di balik kemeriahan akhir Oktober, ada sejarah ritual kuno Keltik, tradisi ziarah khidmat, hingga fenomena pop kultur modern di berbagai belahan dunia.

Lusianti Dwi Cahyani· 2 hari lalu
Bukan Soal Perang Dunia III, Ini Alasan Utama Inggris, Jepang, dan AS Minta Warganya Menyimpan Stok Makanan Darurat
Internasional

Bukan Soal Perang Dunia III, Ini Alasan Utama Inggris, Jepang, dan AS Minta Warganya Menyimpan Stok Makanan Darurat

Dikira sinyal krisis global, imbauan menyetok makanan di Inggris, Jepang, dan AS ternyata murni kampanye kesiapsiagaan menghadapi bencana alam. Simak alasannya!

Lusianti Dwi Cahyani· 3 hari lalu
Biaya Bahan Bakar Melonjak, Ratusan Penumpang Kapal Pesiar Mewah Amerika Serikat Terdampar di Kamboja
Internasional

Biaya Bahan Bakar Melonjak, Ratusan Penumpang Kapal Pesiar Mewah Amerika Serikat Terdampar di Kamboja

Ratusan penumpang penumpang kapal pesiar mewah Villa Vie Odyssey terpaksa diturunkan di Kamboja usai operator kapal gagal menutupi lonjakan biaya BBM.

Rani Masida· 3 hari lalu