Runtut.com

Sudah Jadi Ikon Selama 150 Tahun, Kereta Kuda Central Park di New York Bakal Tinggal Kenangan?

New York berencana menghentikan operasional kereta kuda Central Park setelah lebih dari 150 tahun. Rancangan Romanch’s Law dijadwalkan dipungut suara minggu ini

3 menit baca
Kereta kuda Central Park
Kereta kuda Central Park — https://unsplash.com/id/@hdbernd

NEW YORK – Kereta kuda yang selama ini menjadi pemandangan khas Central Park, New York, Amerika Serikat, terancam mengakhiri perjalanannya. Pemerintah kota setempat mendorong penghentian operasional kereta kuda yang telah menjadi bagian dari pariwisata New York selama lebih dari 150 tahun.

Rencana itu mencuat setelah Wali Kota New York Zohran Mamdani dan Ketua Dewan Kota Julie Menin sepakat mendorong rancangan aturan bernama Romanch’s Law. Dewan Kota dijadwalkan melakukan pemungutan suara pada 22 Oktober 2026. Jika disetujui, operasional kereta kuda akan dihentikan paling lambat 1 Juni 2028.

Selama puluhan tahun, kereta kuda menjadi salah satu cara wisatawan menikmati Central Park. Kereta yang ditarik kuda menyusuri jalan-jalan di taman luas di tengah Manhattan, menawarkan pengalaman berbeda dari hiruk-pikuk kota dengan gedung pencakar langit dan kendaraan yang tak pernah sepi.

Namun, tradisi yang bertahan lebih dari satu abad itu kini menghadapi persoalan yang tak lagi bisa diabaikan. Keselamatan penumpang, kondisi lalu lintas, dan kesejahteraan kuda menjadi alasan utama di balik dorongan untuk mengakhiri operasionalnya.

Kematian Wisatawan Kembali Memicu Perdebatan

Dorongan untuk menghentikan kereta kuda menguat setelah Romanch Mahajan, wisatawan berusia 18 tahun asal India, meninggal dunia pada Juni 2026. Ia terjatuh dari kereta kuda yang berlari tak terkendali di Central Park.

Insiden tersebut kembali membuka perdebatan lama mengenai keamanan atraksi wisata itu. Selama bertahun-tahun, kelompok perlindungan hewan dan sejumlah pejabat New York telah mendorong pelarangan kereta kuda, tetapi upaya sebelumnya belum berhasil menghentikan industri tersebut.

Central Park kini juga menjadi ruang yang digunakan oleh berbagai kelompok, mulai dari pejalan kaki, pesepeda, hingga pengguna kendaraan mobilitas kecil. Dalam kondisi yang semakin padat, keberadaan kereta kuda dinilai menambah persoalan keselamatan di dalam kawasan taman.

Selain risiko kecelakaan, kondisi kuda yang bekerja di tengah kebisingan, cuaca ekstrem, dan lalu lintas perkotaan turut menjadi perhatian. Pendukung pelarangan menilai bahwa perlindungan terhadap manusia dan hewan perlu menjadi pertimbangan utama dalam menentukan masa depan atraksi tersebut.

Kereta kuda di jalanan Kota New York
Kereta kuda di jalanan Kota New York — https://unsplash.com/id/@imgavinwilson

Tak Semua Pihak Setuju Kereta Kuda Dihentikan

Rencana pelarangan ini bukan tanpa penolakan. Para pengemudi dan pekerja industri kereta kuda khawatir kehilangan sumber penghasilan yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Pada 16 Oktober 2026, sejumlah pengemudi kereta kuda menggelar aksi menentang rencana penghentian operasional tersebut. Mereka meminta pemerintah memberikan kepastian mengenai perlindungan pekerja dan kompensasi bagi pemilik usaha yang terdampak.

Bagi para pekerja, kereta kuda bukan sekadar atraksi wisata. Industri ini telah menjadi mata pencaharian yang dijalankan selama bertahun-tahun, bahkan secara turun-temurun oleh sebagian keluarga.

Pemerintah kota menyatakan akan menyiapkan program transisi pekerjaan bagi pengemudi dan pekerja yang terdampak. Rancangan aturan tersebut juga mencakup upaya memastikan kuda-kuda yang sudah tidak bekerja mendapatkan penanganan yang layak.

Meski demikian, perbedaan pandangan masih terlihat. Kelompok pendukung pelarangan menekankan keselamatan dan kesejahteraan hewan, sedangkan para pekerja meminta agar perubahan kebijakan tidak mengabaikan kehidupan mereka.Tradisi Lama yang Berhadapan dengan Perubahan Kota

Kereta kuda telah lama menjadi bagian dari citra Central Park. Bagi sebagian wisatawan, menaiki kereta kuda bukan sekadar berkeliling taman, melainkan pengalaman klasik yang menghubungkan mereka dengan sejarah New York.

Di tengah perkembangan kota modern, atraksi ini menjadi salah satu peninggalan tradisi yang masih bertahan. Namun, keberadaannya juga memperlihatkan bagaimana kebiasaan lama dapat dipertanyakan kembali ketika kondisi kota dan standar keselamatan berubah.

Jika Romanch’s Law disahkan, operasional kereta kuda di New York akan memasuki masa transisi sebelum akhirnya dihentikan pada 2028. Perubahan ini tidak hanya akan mengubah pengalaman wisata di Central Park, tetapi juga memengaruhi para pekerja yang menggantungkan penghasilan pada industri tersebut.

Untuk saat ini, nasib kereta kuda masih menunggu keputusan Dewan Kota New York. Pemungutan suara pada 22 Oktober mendatang akan menjadi salah satu penentu apakah tradisi yang telah bertahan lebih dari 150 tahun itu benar-benar akan berakhir.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Jembatan China–Korea Utara Resmi Dibuka Setelah Mangkrak 12 Tahun
Internasional

Jembatan China–Korea Utara Resmi Dibuka Setelah Mangkrak 12 Tahun

Jembatan China–Korea Utara resmi beroperasi setelah tertunda 12 tahun. Infrastruktur ini membuka peluang peningkatan perdagangan dan konektivitas kedua negara.

Rachmaddani Rizki Saputra· 2 hari lalu
Ribuan Mahasiswa Albania Turun ke Jalan, Desak Perdana Menteri Mundur
Internasional

Ribuan Mahasiswa Albania Turun ke Jalan, Desak Perdana Menteri Mundur

Gelombang protes mahasiswa di Albania makin memanas menuntut PM Edi Rama mundur. Unjuk rasa meluas ke berbagai kota diiringi isu korupsi dan sengketa lahan.

Mila Nabilah· 2 hari lalu
Pilot Laporkan Penumpukan Es Sebelum Pesawat Piper PA-46 Jatuh di Wisconsin
Internasional

Pilot Laporkan Penumpukan Es Sebelum Pesawat Piper PA-46 Jatuh di Wisconsin

Pesawat Piper PA-46 Malibu jatuh di Wisconsin dan menewaskan enam orang. Pilot sempat melaporkan penumpukan es sebelum kehilangan kontak.

Lusianti Dwi Cahyani· 3 hari lalu
Mirwan Suwarso Ingin Ubah Como 1907 Layaknya Disney, Sepak Bola Bukan Satu-satunya Bisnis
Internasional

Mirwan Suwarso Ingin Ubah Como 1907 Layaknya Disney, Sepak Bola Bukan Satu-satunya Bisnis

Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso ingin mengembangkan klub dengan model bisnis ala Disney, memadukan sepak bola, fashion, merchandise, media, dan pariwisata.

Ferdian Trikusuma· 4 hari lalu
Eksplorasi Minyak, Gas, dan Mineral Berskala Besar Akan Dimulai di Greenland
Internasional

Eksplorasi Minyak, Gas, dan Mineral Berskala Besar Akan Dimulai di Greenland

Presiden AS, Donald Trump mengumumkan pada Rabu (14/10/206), akan melakukan eksplorasi berskala besar atas minyak, gas, dan mineral di Greenland.

Andini Putri Lestari· 5 hari lalu
Calvin Verdonk Ukir Sejarah, Jadi WNI Pertama yang Tampil di Liga Champions Eropa
Internasional

Calvin Verdonk Ukir Sejarah, Jadi WNI Pertama yang Tampil di Liga Champions Eropa

Calvin Verdonk mencatat sejarah sebagai pemain berstatus WNI pertama yang tampil di Liga Champions saat Lille menghadapi Arsenal di Emirates Stadium.

Ferdian Trikusuma· 5 hari lalu