Sambut Tradisi Tepung Tawar dan Udeng (Ikat Kepala Khas Bali) — Foto: metrotv9news
RUNTUT.COM - Tradisi tepung tawar dan udeng adalah bentuk kearifan lokal yang sarat nilai filosofis, sering digunakan dalam prosesi penyambutan pejabat baru, pernikahan, atau peralihan babak penting dalam kehidupan.
1. Tradisi Tepung Tawar
Tradisi Tepung Tawar — Foto: Indonesia.travel
Penyucian Diri dan Panjatan Doa Keselamatan
Mengemban sebuah amanah baru merupakan titik awal perjuangan yang membutuhkan kesucian niat dan perlindungan spiritual.
Melalui Tradisi Tepung Tawar, doa dan ungkapan syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sebagai bentuk permohonan agar langkah senantiasa diberi keselamatan, kesehatan, serta kelancaran.
Dalam prosesinya, ramuan kaya makna diusapkan lembut ke kening, bahu, dan telapak tangan: beras putih melambangkan kesucian niat, beras kunyit membawa harapan kemurahan rezeki, beras bertih menyimbolkan kemakmuran, serta percikan air wewangian dan dedaunan khusus menjadi pembersih lahir dan batin.
Tradisi luhur ini menjadi simbol ketulusan penghormatan sekaligus penolak bala, membebaskan jalan sang pemimpin dari berbagai rintangan dalam memikul tanggung jawab besar.
Amanah Baru, Doa Penyucian, dan Harapan bagi Sang Pemimpin
Mengemban tanggung jawab baru di bumi Dewata diawali dengan penyucian niat dan panjatan doa keselamatan.
Kedatangan Pangdam IX/Udayana yang baru, Mayjen TNI Made Putra Widiastawa, beserta istri, Ny. Desak Putra Widiastawa, di Base Ops Lanud I Gusti Ngurah Rai disambut hangat melalui Tradisi Tepung Tawar yang dipimpin oleh Kasdam IX/Udayana Brigjen TNI Taufiq Hanafi bersama jajaran Forkopimda Provinsi Bali.
Lebih dari sekadar seremoni penyambutan, tradisi luhur ini menjadi simbol penolak bala sekaligus pembersih diri secara lahir dan batin. Melalui percikan air wewangian dan usapan beras kaya makn.
Prosesi ini memancarkan ketulusan doa agar Pangdam beserta keluarga senantiasa dilindungi Tuhan Yang Maha Esa, diberikan kesehatan, kekuatan, serta kelancaran dan dijauhkan dari berbagai rintangan dalam mengemban amanah menjaga stabilitas keamanan wilayah.
Sebagaimana disampaikan Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution, tradisi ini menjadi pijakan spiritual untuk memperkuat pengabdian, menjaga soliditas TNI, dan mempererat kemitraan harmonis bersama pemerintah daerah serta masyarakat
2. Udeng (Ikat Kepala Khas Bali)
Udeng (Ikat Kepala Khas Bali) — Foto: Ubudian
Menjaga Kejernihan Pikiran Melalui Ngiket Manah
Kepemimpinan yang sejati menuntut kendali diri dan kedewasaan berpikir. Hal inilah yang tersirat dalam pemasangan Udeng, ikat kepala khas Bali yang sarat akan filosofi ngiket manah—sebuah komitmen untuk mengikat dan memusatkan pikiran agar senantiasa jernih, bijaksana, serta tak mudah tergoyahkan.
Lebih dari sekadar pelengkap busana adat, pemasangan udeng kepada seorang pemimpin merupakan bentuk penyematan harapan.
Di balik simpul udeng yang terpasang tegak, tersimpan doa agar sang pemimpin senantiasa memiliki integritas tinggi, keteguhan akal dalam mengambil keputusan, serta ketulusan hati untuk melayani masyarakat.
Penyematan Udeng dan Kehangatan Budaya Menyambut Pemimpin Baru
Suasana kental kearifan lokal Bali makin terasa saat Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Made Putra Widiastawa dan istri duduk anggun di bawah Payung Agung, diiringi alunan tarian tradisional.
Momen penuh makna terjadi ketika Danrem 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, memasangkan Udeng—ikat kepala khas Bali—kepada Mayjen TNI Made Putra Widiastawa, sementara Ny. Desak Putra Widiastawa menerima penuangan selendang khas Bali dan buket bunga.
Pemasangan udeng ini menyematkan filosofi mendalam ngiket manah, yaitu simbolis untuk mengikat dan memusatkan pikiran agar sang pemimpin senantiasa berpikir jernih, bijaksana, dan teguh mengendalikan diri dalam setiap kebijakan.
Gestur adat ini menegaskan kehangatan dan rasa kekeluargaan di tubuh Kodam IX/Udayana, menandai awal kepemimpinan yang berintegritas tinggi menjelang rangkaian acara pisah sambut di Makodam IX/Udayana, Denpasar.