Runtut.com

Pemilu Selandia Baru Kian Ketat, Partai Kecil Jadi Penentu

Jajak pendapat menjelang pemilu 7 November: koalisi Luxon dan blok Hipkins belum meraih mayoritas, Partai Opportunity jadi penentu.

2 menit baca
Christopher Luxon dan Chris Hipkins.
Christopher Luxon dan Chris Hipkins. — RNZ/Samuel Rillstone

Sebulan menjelang pemilu 7 November, belum ada pihak yang jelas akan memerintah Selandia Baru. Dua jajak pendapat terbaru menunjukkan koalisi pemerintah Perdana Menteri Christopher Luxon maupun blok oposisi yang dipimpin Chris Hipkins belum meraih 61 kursi yang diperlukan untuk mayoritas di parlemen 120 kursi.

Angka dari dua jajak pendapat

Jajak RNZ-Reid Research (24 September sampai 1 Oktober, 1.000 pemilih, margin kesalahan 3,1 poin) menempatkan Partai Nasional pada 25,9 persen, hasil terendahnya sejak pemilu 2020, menurut RNZ yang dimuat NZ Herald. Partai Buruh 30,8 persen, Hijau 14,8 persen, NZ First 10,6 persen, ACT 9 persen, dan Opportunity 5,5 persen. Jika hasil itu berulang di pemilu, koalisi pemerintah mendapat 56 kursi (32 Nasional, 13 NZ First, 11 ACT), lima kursi di bawah mayoritas, sedangkan blok Buruh, Hijau, dan Te Pati Maori mendapat 57 kursi.

Jajak 1News-Verian (1 sampai 5 Oktober) memberi gambaran berbeda. Nasional unggul satu poin, 29 berbanding 28 untuk Buruh, Hijau 16 persen, NZ First 10 persen, dan ACT 9 persen. Dengan hasil itu, blok kanan mendapat 58 kursi dan blok kiri 54 kursi.

Partai kecil memegang kunci

Dalam kedua jajak, Partai Opportunity menjadi penentu. Menurut The Post, dukungan Opportunity bisa mengangkat koalisi pemerintah ke 63 kursi atau blok Buruh-Hijau-Te Pati Maori ke 64 kursi, dan Buruh dengan Hijau saja bisa mencapai mayoritas bersama Opportunity. Tetapi partai itu hanya setengah poin di atas ambang batas 5 persen. Jika turun di bawah ambang dan tidak memenangkan satu kursi daerah pemilihan, perhitungannya berubah total. Luxon sebelumnya menyatakan tidak akan bekerja sama dengan partai itu dalam bentuk apa pun, menurut Otago Daily Times.

Pemimpin yang diunggulkan

Dalam rating perdana menteri pilihan, Hipkins 21,9 persen, Luxon 17,1 persen, dan pemimpin NZ First Winston Peters 11,2 persen, menurut interest.co.nz. Ketua kampanye Nasional Simeon Brown mengakui pemilu akan ketat, sebagaimana dilaporkan RNZ, sementara Peters mengatakan partainya akan menjadikan jajak itu konfeti.

Pada Selasa (6/10/2026), Luxon dan Hipkins berhadapan dalam debat pemimpin pertama TVNZ. Luxon juga menjanjikan referendum soal sistem pemilu MMP jika terpilih, kata Newstalk ZB.

Menurut VIVA yang mengutip Al Jazeera, parlemen dibubarkan 1 Oktober, pemungutan suara awal dimulai 26 Oktober, dan pemilu digelar 7 November. Dua jajak ini berbeda soal siapa yang unggul, dan karena selisihnya masih dalam margin kesalahan, belum bisa disimpulkan siapa yang memimpin. Sistem proporsional campuran (MMP) juga membuat jumlah kursi dapat bergeser akibat kursi tambahan (overhang), jadi proyeksi kursi dari jajak pendapat hanya gambaran, bukan ramalan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...