Runtut.com

Hichilema Berkuasa Lagi, Pemilu Zambia Menuai Sorotan

Hakainde Hichilema dilantik untuk periode kedua usai meraih sekitar 60 persen suara. Oposisi menolak hasil, pemantau mengkritik, dan kasus makar mencuat.

2 menit baca
Pendukung Presiden Zambia merayakan hasil pemilu di Lusaka.
Pendukung Presiden Zambia merayakan hasil pemilu di Lusaka. — Reuters/Jean Mandela

Presiden Zambia Hakainde Hichilema memulai periode keduanya dengan dua hal yang berjalan beriringan, yaitu kemenangan telak menurut hasil resmi dan keraguan tentang proses pemilu dan iklim demokrasi.

Hasil resmi

Komisi pemilu Zambia menyatakan Hichilema menang pada pemilu 13 Agustus 2026. Menurut Al Jazeera, ia diumumkan sebagai presiden terpilih oleh ketua komisi, Mwangala Zaloumis, pada 18 Agustus setelah pemilu yang diwarnai tudingan kecurangan. Hasil akhir yang dikutip Journal of Democracy menyebut Hichilema meraih 2.965.326 suara (60,5 persen) dan penantangnya Brian Mundubile 1.856.217 suara (37,9 persen).

Hichilema dilantik pada 1 September di Stadion National Heroes, Lusaka, dan memulai periode kedua yang menurut Al Jazeera juga merupakan periode terakhirnya. Dalam pelantikan itu ia mengakui kekecewaan publik, terutama soal biaya hidup, yang menjadi tema utama kampanye Mundubile.

Keberatan oposisi dan pemantau

Menurut Al Jazeera pada 2 September, pemantau pemilu mempertanyakan jalannya dan penghitungan suara, sementara tokoh oposisi, termasuk rival utama Hichilema, ditangkap dan didakwa makar. Mundubile menolak hasil dan menuduh adanya ketidakberesan. Pemerintah, dalam keterangan yang dimuat Pulse of Africa, menutup seluruh pengadilan dengan alasan kekhawatiran keamanan pada hari terakhir batas pengajuan gugatan.

Persoalan hukumnya berliku. APA melaporkan bahwa Sekretaris Kabinet menyatakan masa tujuh hari pengajuan gugatan lewat tanpa petisi resmi, sementara Ketua Mahkamah Agung Mumba Malila mengonfirmasi menerima dokumen berjudul "The People's Presidential Petition" lewat surel pribadi dan menyerahkannya ke Mahkamah Konstitusi untuk menentukan keabsahannya. Dokumen itu disebut disusun pengacara Linda Kasonde atas nama Mundubile. Menurut Journal of Democracy, pengadilan kemudian menyatakan tidak ada petisi presiden di hadapan Mahkamah Konstitusi.

Dua cara membaca kasus ini

Journal of Democracy menulis bahwa bukti statistik independen terbaik menunjukkan Hichilema kemungkinan besar memang memenangkan pemilu. Namun jurnal yang sama menilai penutupan pengadilan dan perlakuan terhadap oposisi sebagai arah otoritarian. Ada pula pandangan lain, yakni kemenangan itu sah dan perselisihan hukum dilebih-lebihkan oleh pihak yang kalah. Dua hal itu bisa benar secara bersamaan, yakni hasil mencerminkan pilihan mayoritas sementara prosesnya tetap dipertanyakan.

Mengapa dunia memperhatikan

Cina dan Amerika Serikat sama-sama mengucapkan selamat dan mengirim perwakilan ke pelantikan, kata Al Jazeera, yang mengaitkannya dengan posisi Zambia sebagai produsen tembaga utama dan sumber mineral kritis.

Dalam sumber yang saya baca, belum ada putusan Mahkamah Konstitusi tentang petisi yang dikirim lewat surel, dan status dakwaan makar terhadap Mundubile belum final. Mereka yang didakwa berhak atas praduga tak bersalah, dan perkembangan kasus ini bisa berubah cepat.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...